Pendulum Waktu

Standard

Semua bergerak, mulai dari makhluk hidup mikro organisme hingga partikel di tatanan kosmos. Bergerak itu sebuah proses perubahan, pergeseran dari satu titik ke titik yang lain atau dari satu bentuk ke bentuk selanjutnya. Dalam proses perubahan itu,perjalanan satu titik ke titik yang lain dipastikan melewati dua dimensi, yakni : Ruang dan Waktu. Yaah, selama kita masih di dunia, rasanya dua dimensi ini tak kan terlewatkan. Nah, kita bicara soal waktu aja. Guna mengidentifikasi dimensi waktu, dibuatlah satuan-satuan yang saat ini kita kenal sebagai : detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun, atau jika mau lebih terperinci lagi ada mili detik, mikro detik, nano detik, piko detik, dsb. Untuk lebih jelas lagi, dibuatlah alat untuk mengetahui bagaimana “bentuk” waktu, lalu kita tahu ada benda yang disebut Jam, tanggalan, stopwatch, dll. Diantara sifat waktu ialah bahwa ia terus berjalan, dan tak bisa kembali.

Kita dengan segala aktifitas juga masuk dalam dimensi waktu, artinya setiap gerak dan langkah dibatasi oleh waktu. Lalu, apakah waktu membatasi manusia?, Yup, selama ada dalam sebuah dimensi, maka disitu ada batas, kita hanya punya 60 detik dalam satu menit, 60 menit dalam satu jam, 24 jam dalam satu hari, 7 hari dalam 1 minggu, 4 minggu dalam satu bulan, 12 bulan dalam satu tahun, dst. Angka-angka itulah yang membatasi gerak manusia, makanya tak jarang ada orang yang mengeluh bahwa waktunya nggak cukup untuk nglakuin segala aktifitasnya. Satu hari dirasa nggak cukup untuk ngrampungin tugasnya, beberapa minggu masih banyak tugas yang belum selesai, hitungan bulan kerjaan masih menumpuk, hingga puluhan tahun pun rasanya masih terkatung-katung visi hidupnya. Sedemikian penting waktu ini bagi kehidupan, sampai ada yang bilang kalo “Waktu adalah uang”, “waktu bagaikan pedang”, “waktu itu kejam”,dsb.

Sikap kita terhadap waktu yang terus berjalan ini berbeda-beda. Kadang kita abai, lalai, mengharapkan, was-was, takut, cuek, senang, bahagia, berpesta, dan menyesal. Saat kita merasa butuh dengan waktu, yang dengan waktu itu masa depan ditentukan, atau menyangkut hal yang sangat penting dalam hidup, yang ditampakan adalah sikap was-was, tegang, senang dan mengharap. Misalnya saat menanti detik2 pengumuman ujian kita jadi was-was dan tegang, saat berhadapan dengan polisi/masalah kita jadi khawatir dan mengharap cepat berlalu, saat bersama orang yang disayangi kita berharap waktu berjalan lambat dan tak terbatas. Kemudian saat kita merasa tenang, dan aman, seringkali kita cuek, abai dan lalai, misalnya saat sekolah kita jarang belajar, karena merasa ujian masih lama, jadinya kita cuek aja sama waktu yang sedang berjalan. Lalu saat kita menantikan pergantian waktu, dari malam ke siang, siang ke malam, hari ke hari, bulan ke bulan, atau tahun ke tahun. Pun , sikapnya akan berbeda-beda, ada yang senang, ada yang sedih, ada kerinduan, ada pengharapan, itu tergantung bagaimana kita melihat dan memaknai pergantian waktu.

Tahun baru 2013 akan segera tiba, banyak orang merayakannya dengan gembira dan berpesta, mulai dari pinggir jalan, di sudut2 kampung, Hotel dan rendezvous yg ada di berbagai kota. Sebagian mereka bernyanyi, berjoget, minum lalu diakhiri di kamar hotel. Disisi lain, ada yang mengekspresikannya dengan Dzikir Akbar, Istighotsah, pengajian atau hanya bercengkerama dengan keluarga. Faktanya bisa kita lihat, bahwa di malam tahun baru berbagai kesenangan diumbar, lewat musik dan hiburan yang disuguhkan. Lihat saja di hampir semua tempat keramaian, kita jumpai pasangan muda-mudi yang memadu kasih dan berfoya-foya, bisnis penginapan dan ubo rampenya yang melonjak tajam, lusinan botol bir dan alat kontrasepsi yang laku keras, sampe bandar narkoba yang kebanjiran order. Hmm, lalu apa tugas aparat keamanan? Yah, tugas mereka adalah mengamankan semua itu agar berjalan lancar dan tidak ada masalah. Antara ekspresi yang negatif dan positif biarlah berjalan sendiri-sendiri. Dengan begitu tugas mereka selesai, yakni perayaan tahun baru yang aman terkendali. Ckckc.,,

Ups, lalu gmn kabar saudara2 yang mengekspresikan malam tahun baru dengan dzikir berjamaah dan pengajian tadi?. Pemandangan yang sudah tak asing lagi bagi kita bahwa di tempat-tempat suci seperti itu hanya kuat bertahan sampai jam 22.00-an, dan hanya diisi oleh orang –orang tua dan sebagian muda yang tidak terlalu banyak. Ruang-ruang diskusi juga paling hanya diisi wajah yang ajeg dan betah mandang buku2 tebal. Walaupun barangkali ada juga yang diikuti oleh banyak orang, tapi ya tetep aja klo dibandingin yang ‘ajeb-ajeb’ jumlah nya pasti kalah jauh.

Jadi, apa pentingnya merayakan tahun baru?. Bukankah sama aja pergantian antar detik, antar menit, sama pergantian antar tahun?. Kalo ditanyakan sama orang-orang yang merayakannya bisa jadi mayoritas jawabannya yang agak waras adalah bersyukur, apa? Bersyukur? Yah bersyukur itulah jawaban atas perayaan tahun baru. Bersyukur berarti bersenang-senang, menyalakan kembang api, menyulut petasan , bernyanyi dan berjoget. Lalu setelah itu? Setelah menghabiskan malam dengan aktifitas ‘syukur’ biasanya dilanjutkan dengan membuat resolusi. Resolusi dibuat untuk direalisasikan di tahun depan, dengan harapan (tentu aja) tercapai. Melalui capaian resolusi, diharapakkan kehidupan di tahun 2013 lebih baik daripada tahun sebelumnya, begitulah kira-kira idealnya.

Melihat animo masyarakat yang merayakan Tahun baru, sepertinya masa depan Indonesia akan cerah, secerah kembang api. Bukannya merayakan itu berarti sebuah kesadaran/ rasa syukur karena mengetahui bahwa sebuah nikmat kesenangan akan menghampirinya. Seperti, kalau ada orang melahirkan bayi yang sehat, pasti akan dirayakan, atau ketika berhasil memperoleh juara. Berbeda jika ada orang meninggal dunia, lebih2 ia adalah orang baik, siapa yang berani merayakan?, atau kehilangan barang berharga, siapa juga yang ingin merayakan?. Dengan perayaan Tahun Baru, berarti masyarakat tahu, bahwa di tahun depan akan dijumpai banyak kenikmatan yang akan diperoleh, atau sudah memperolehnya di tahun 2012. 

Begitulah ekspresi syukur dan optimisme, andaikan saja ekspresi itu muncul dalam tiap pergantian bulan, minggu, hari, jam bahkan menit, tentu negeri ini akan segera berjaya, tak lagi tertinggal dari negara lain.
Lebih dari itu semua, andai saja dalam peralihan antar waktu itu disadari penuh “ini akan segera berakhir”, 1 tahun, 2,3,6,14,34 tahun lagi, kita tak tahu berapa batas waktu hidup kita bukan?, lalu kenapa kita masih belum berbuat apa2?. Mengingat kondisi dunia secara global, ekonomi, politik, keamanan, teknologi, budaya, kenapa kita masih bangga dengan perayaan tahun baru? Hati kecil saya menjawab “klo akumulasi penderitaan sdah smpe puncak, maka tertawalah terbahak2”,,hahahah.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s