Perploncoan (Persembahan Untuk Mahasiswa Baru)

Standard

Kita Adalah Kaum Intelektual[1]

(Sebuah Pengantar)

.....Kita mahasiswa tidak buta, sekarang matahari semakin tinggi,
 lalu akan bertahta juga dipuncak kepala, dan didalam udara yang
  panas,kita juga bertanya, kita ini di didik
 untuk memihak yang mana??,
ilmu-ilmu yang diajarkan disini akan menjadi alat pembebasan?
atau kah  akan menjadi alat penindasan?, kita menuntut jawaban....!!!!!.........
-Puisi Pertemuan Mahasiswa, Rendra 1977-

A. Mukaddimah

Teman- teman sekalian, saat ini kita sebagai mahasiswa  UNDIP dihadapkan pada sebuah realita. Banyak hal yang menjadi realitas mahasiswa, realita sosial dan realita budaya, jika kita tilik lebih jauh, dan kita mau memperhatikan hal-hal disekeliling kita, maka akan kita dapati banyak realita yang patut kita kritisi bahkan kita tentang. Untuk membuka diskusi kita,  dalam hal ini saya coba menangkap satu dari sekian realita yang ada terlebih dahulu, yaitu tentang realita perlakuan senior kepada mahasiswa baru. Seringkali realita ini disebut sebagai OSPEK (Orientasi Pengenalan Kampus) atau sebutan  lain yang mempunyai substansi yang sama.

B. Selamat Datang Mahasiswa baru

Suatu saat saya berkesempatan untuk joging di pagi hari. Sepanjang jalan saya berpapasan dengan sekelompok mahasiswa baru berpakaian seragam putih-hitam, memakai jas almamater dan mengenakan ikat kepala merah. Saya cukup heran dengan mahasiswa baru itu, satu pertanyaan muncul dalam benak saya, “Mau ngapain mahasiswa ini?”. Rasa penasaran itulah yang memberanikan saya untuk mendatangi segerombolan mahasiswa baru yang sedang dikumpulkan oleh para senior di bundaran Imam Bardjo, lalu salah satu mahasiswa baru saya tanya ,”Mas lagi ada acara apa?,kok pake ikat kepala merah?”, lalu dia menjawab “Ya dikumpulin ama senior mas, ikat kepala ini biar kayak demo kali mas, hehe”. Setelah mendengar jawaban seperti itu saya pun berlalu, sambil bergumam dalam hati “Mahasiswa Sekarang Makin Bodoh”.

Pada kesempatan lain saya melihat seorang mahasiswi berjilbab, begitu anggun dilihat, tapi setelah terlihat dari sisi lain ada hal yang menggelikan, ternyata mahasiswi itu memakai pita merah di jilbab, dan saya yakin haqul yakin , pita itu bukan hiasan. Pita itu seperti tanda yang disematkan kepada setiap mahasiswa baru di salah satu fakultas/jurusan, yah mungkin semacam bandrol di suatu kemasan barang. Kemudian pada kesempatan lain teman saya bercerita, bahwa  dia melihat sekelompok mahasiswa baru yang dibentak-bentak oleh seniornya “Dek, ayo cepat, cepat!!”, dengan nada komando (entah saya sendiri tidak tahu konteksnya saat itu). Ternyata sekumpulan mahasiswa yang kepalanya dibotak itu dengan sigap mengikuti setiap instruksi yang diberikan oleh seniornya. Masih banyak lagi cerita-cerita mengenai hal semacam ini. Ada lagi yang hal yang aneh, sekelompok mahasiswa baru yang sedang outbond, di suatu post mendapat tugas untuk jalan jongkok melewati kotoran kerbau. Kali ini saya tidak akan komentar banyak “ Sungguh Terlalu”.  Sebelum saya lanjutkan, saya mau bertanya kepada pembaca yang budiman, “Kira-kira mengapa mereka mau disuruh dan dibentak ?”.

Realitas seperti yang telah saya ceritakan adalah sebuah rangkaian proses bagaimana seorang senior menyapa para mahasiswa baru dengan label OSPEK. Setiap mahasiswa baru selalu diperlakukan demikian (kecuali beberapa fakultas), tradisi ini merupakan tradisi warisan dari zaman kolonial. Pada zaman Belanda kegiatan ini  dikenal dengan perploncoan (ontgroening), yang dilaksanakan di STOVIA. Kegiatan ini bermaksud sebagai masa perkenalan para peserta didik baru dengan para seniornya. Kata plonco sendiri berasal dari kata “plonco” yang berarti kepala gundul. Saat itu hanya anak kecil yang berkepala gundul, sehingga “plonco” mengandung arti seseorang yang belum mengetahui sesuatu mengenai kehidupan masyarakat dan dianggap belum dewasa, karena itu perlu sekali diberi berbagai petunjuk untuk menghadapi masa depan ( Djojodibrotto, 2004:63).  Meskipun perploncoan saat itu bermaksud baik, tapi sebagaimana kita tahu bahwa kebijakan menyekolahkan pribumi adalah bagian dari Politik Etis nya Belanda, artinya bagaimanapun fasilitas pendidikan yang diberikan tetap saja disisipkan mental-mental   inlander[2]. Perploncoan tidak lepas dari itu, dalam proses perploncoan warga pribumi diposisikan sebagai anak kecil yang bodoh dalam bahasa lain, pada momen pertama mengenyam bangku kuliah Belanda mencoba untuk “menjinakan” pribumi dengan proses perploncoaan. Hal semacam ini memang sengaja diberlakukan supaya kedepan para pribumi dapat patuh kepada Belanda.[3]

Tradisi semacam ini terus berlanjut hingga pasca kemerdekaan, namun kali tentu dalam format yang berbeda. Dalam catatan sejarah, banyak kasus kekerasan terjadi dalam masa perploncoan ini, hingga praktiknya justru merugikan mahasiswa baru, yang terjadi adalah rasa senioritas yang menjadi-jadi. Maka pemerintah melalui Departemen terkait secara silih berganti mengubah  bahkan akhirnya menghapus praktik perploncoan. Berikut ini perjelasan yang saya peroleh dari sebuah website :

“Secara legal formal, sebenarnya perploncoan sudah dihapuskan sejak masih bernama Mapram atau Mapras dengan SK Menteri P dan K No. 043 / 1971 yang melibatkan 23 instansi, dari Departemen P dan K hingga Bappenas. Mapram kemudian bermetamorfosis menjadi POS (Pekan Orientasi Studi) lalu berubah lagi menjadi OS (Orientasi Studi) dan terakhir menjadi Ospek (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus). Karena masih banyaknya korban yang jatuh, maka keluarlah Surat Edaran Dirjen Dikti Departemen Pendidikan dan Kebudayaan No. 1539/D/I/1999 yang dengan tegas melarang praktek perploncoan, dalam surat yang distempel pada 17 Juni 1999. Dan akhirnya sejarah Ospek berakhir dengan dikeluarkannya SK Dirjen Dikti No.38/Dikti/2000 pada bulan Maret yang menghapus Ospek dan menyerahkan prosesi pengenalan itu pada kampus yang bersangkutan dan memberi warning agar lebih menekankan pada kegiatan akademis[4]

 

Meskipun secara umum prosesi pengenalan mahasiswa baru  sudah diserahkan kepada pihak kampus, namun selalu saja praktik perploncoan hadir dalam agenda mahasiswa baru.  Terutama di Undip. Walaupun pihak kampus sudah menyelenggarakan masa pengenalan kampus selama tiga hari, namun secara khusus lembaga intra kampus mengkoordinir mahasiswa baru untuk mengikuti kegiatan dengan tema andalan “Pengenalan Kampus”, meski namanya berbeda-beda.  Saya tidak tahu siapa yang menjadi inisiator dalam hal ini, yang jelas seperti sebuah mesin mekanis yang secara otomatis terselenggarakan begitu saja.

Melakukan praktik OSPEK[5] dengan memandang mahasiswa baru sebagai obyek atau target perploncoan merupakan sebuah penindasan. Apapun maksud dan tujuan dari kegiatan tersebut, karena konsep awal praktik perploncoan adalah menempatkan mahasiswa sebagai orang yang bodoh dan tidak dewasa, bukankah ini sisa-sisa pemahaman zaman kolonial?, yang saat itu masyarakat Indonesia memang sangat kurang dalam akses pendidikan dan informasi. Dalam konteks kekinian, seharusnya pengenalan kampus diarahkan kepada paradigma pendidikan orang dewasa, yaitu penyadaran akan hak dan tanggungjawab seorang mahasiswa. Bukan malah membentuk mahasiswa yang berperilaku aneh dan seperti tidak punya pendirian karena harus diperintah oleh senior. Jika para mahasiswa yang melakukan praktik perploncoan itu paham apa yang dimaksud mahasiswa, maka saya yakin praktik perploncoan yang menindas kemerdekaan intelektual itu tidak akan terjadi.

Lantas bagaimana idealnya pengenalan kampus itu dilaksanakan?. Saya beranggapan bahwa untuk mengenalkan suatu obyek  kepada orang lain, maka kita harus kenal terlebih dahulu obyek tersebut. Karena apa yang kita kenalkan adalah sesuatu yang dipahami oleh diri kita, lantas jika pemahaman kita keliru, maka orang akan salah memahami suatu obyek sebagaimana hal itu terjadi pada kita. Jika hal ini dibiarkan terus menerus, maka lingkaran setan tidak akan pernah putus. Dengan kata lain, pembodohon terjadi terus menerus.

Mari kita mulai perkenalan ini dengan “Selamat Datang Para Intelektual…”

C. Perguruan Tinggi/ Universitas

Perguruan Tinggi (PT) adalah satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi meliputi: (1)Akademi, (2)Politeknik,(3) Sekolah Tinggi,(4) Institut, (5) Universitas. Dalam hal ini yang dimaksud dengan universitas adalah bentuk PT yang menyelenggarakan pendidikan profesional dalam sejumlah disiplin ilmu pengetahuan, teknologi/kesenian. Menurut Karim (1990: viii) Perguruan Tinggi menjalankan fungsi profetik, dalam artian memiliki tanggungjawab dalam proses penyediaan  sumber daya manusia yang akan mengemban misi suci pelestarian dan pengembangan budaya. Sedangkan menurut Djojodibroto (2004:20) sesuai dengan fungsinya melaksanakan pendidikan tinggi, Perguruan Tinggi memproduksi sarjana dan menghasilkan kaum intelektual[6]. Posisi Perguruan Tinggi amat penting karena melalui pendidikan inilah nantinya diciptakan pemimpin atau generasi penerus bangsa yang berkualitas. Perguruan Tinggi memiliki Tri Dharma sebagai bentuk komitmen atau semacam nilai elementer bagi setiap penyelenggaraan Perguruan Tinggi, yaitu :

  1. Pendidikan
  2. Penelitian
  3. Pengabdian Masyarakat.

.Dengan Tri Dharma ini PT menjadi tempat yang sengaja menyiapkan penerus bangsa dengan kemampuan yang diperoleh melalui pendidikan yang bermutu, serta penelitian yang bermanfaat untuk pengabdian masyarakat. Ketiganya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan mahasiswa, karena melalui ketiga dharma ini mahasiswa dituntut untuk bermanfaat bagi masyarakat luas, tidak hanya menikmati masa-masa kuliah dan puas dengan nilai akademik yang diperoleh.

Dalam melaksanakan Tri Dharma ini perlu dilakukan hal-hal yang mendorong terwujudnya mahasiswa berkarakter. Menurut Hovde dalam Karim (1985:1), universitas merupakan pusat kebebasan intelektual, sebagai lembaga yang mendorong untuk belajar, menemukan hal-hal baru, mengajar dan berdiskusi serta memberi saran kritik  dimana perlu. Sebagai pusat pendidikan dan tempat mempersiapkan sumber-sumber tenaga manusia, menurut Hovde universitas perlu memberikan landasan moral, politik, dan kemampuan kepada mahasiswa. Tradisi akademik-ilmiah juga menjadi ciri khas kehidupan mahasiswa, bukan hanya mendidik untuk menjadi tenaga ahli tanpa pikiran ilmiah yang kritis. Senada dengan Hovde, Sodiq A Kuntoro dalam Karim (1985:2)

berpendapat bahwa kurang tepat jika PT dipandang sebagai lembaga yang hanya mencetak tenaga ahli kaliber tinggi demi kemajuan di segala bidang. Ia sependapat dengan dengan paham yang memahami universitas bukan sekadar pencetak tenaga ahli saja, tapi satu-satu nya lembaga dalam masyarakat  untuk mengejar pengetahuan, sebagai lembaga yang mendasarkan diri pada kebebasan bertanya dan keberanian serta ketidakletihan dalam mencapai kejelasan.

Dari kedua pendapat tersebut jelas bahwa dunia kampus merupakan satu-satunya tempat ilmiah yang menjunjung tinggi tradisi intelektual, yaitu kebebasan berpikir, bertanya dan terus menerus menggali ilmu untuk kesejahteraan masyarakat melalui berbagai aspek, sehingga tercipta intelektual atau sarjana yang sadar akan posisi dan kondisi politik yang ada. Sadar mengenai kondisi politik disini bukan berarti terjun ke politik praktis ataupun menjadi underbow partai politik yang sementara ini dilakukan oleh sebagian gerakan mahasiswa (GM)[7]. Namun menyadari kondisi politik lebih kepada suatu kondisi kesadaran akan nilai kebangsaan yang tercermin melalui realita sosial dan politik praktis yang ada. Melalui kesadaran ini mahasiswa memiliki paradigma yang cerdas dan kritis dalam menjalani kehidupan bernegara dan tidak mudah terpancing atau bahkan “mengabdi” kepada penguasa yang dzalim.

D. Jadilah Kaum Intelektual Bukan Kuli

Praktik perploncoaan yang sering terjadi saat ini terlihat seperti penyambutan terhadap maaf sekelompok kuli, dibentak, dicaci, bahkan dilecehkan, bukankan itu kebiasaan yang terjadi pada kelompok tersebut?. Perilaku yang jauh dari aktifitas intelektual itu sama sekali tidak pantas di terapkan pada calon intelektual. Seorang intelektual lebih menekankan aktifitas berpikir ilmiah, rasional dan argumentatif. Djojodibroto (2004:20) menjelaskan ciri intelektual , yaitu:

  1. Bependidikan tinggi atau mempunyai pengetahuan setingkat  dengan pengetahuan yang diberikan kepada lulusan perguruan tinggi.
  2. Berminat atau peduli  pada maslah-masalaha  yang menyangkut nasib manusia yang berkatitan dengan moral politik.
  3. Mampu menyatakan hasil pemikirannya, moral dan politik secara lisan maupun tertulis.

Berikut ini beberapa definisi intelektual[8], Julien Benda, seorang filsuf berkebangsaan Perancis, memberi definisi intelektual sebagai segelintir manusia sangat berbakat, yang diberkahi moral filsuf raja, yang senantiasa membangun kesadaran umat manusia, mencipta tatanan dalam masyarakat, dan tidak pernah mengabaikan panggilan atas fungsi intelektual mereka, serta menolak untuk mengkompromikan prinsip-prinsip mereka.

Intelektual, menurut Benda lagi, adalah para ilmuwan, filsuf, seniman, dan ahli metafisika yang mendapat kepuasan dalam penerapan ilmu pengetahuan, bukan dalam penerapan hasil-hasilnya. Kepuasan intelektual sejati terletak pada implementasi seni atau ilmu pengetahuan atau spekulasi metafisik, bukan pada pencapaian tujuan praktis. Oleh karena itu, intelektual sejati selalu menentang keawaman, yaitu manusia kebanyakan yang terpikat oleh materi, pencapaian pribadi, dan bersekutu dengan kekuatan sekuler. Intelektual sejati, menurut Benda, akan dan selalu berseru, “kerajaanku bukanlah di dunia ini.”

Antonio Gramsci, seorang Marxis berkebangsaan Italia, membagi intelektual ke dalam dua kategori: pertama, intelektual tradisional semacam guru, ulama, dan para administrator yang secara terus-menerus melakukan hal yang sama dari generasi ke generasi. Kedua, intelektual organik, yaitu kalangan yang berhubungan langsung dengan kelas atau perusahaan-perusahaan yang memanfaatkan mereka untuk berbagai kepentingan, serta untuk memperbesar kekuasaan atau kontrol. Intelektual organik selalu aktif bergerak dan berbuat dalam masyarakat, mereka senantiasa berupaya mengubah pikiran dan memperluas pasar. Secara sederhana Gramsci ingin mengatakan bahwa intelektual organik berpihak pada kelasnya atau memilih dan merekonstruksi kelas yang menjadi obyek kepentingan politiknya. Sedangkan  menurut Edward W. Said intelektual adalah  individu yang dikaruniai bakat untuk merepresentasikan, mengekspresikan, dan mengartikulasikan pesan, pandangan, sikap, filosofi, dan pendapatnya kepada publik. Apa yang diungkapkannya kepada publik ditujukan untuk menggugah rasa kritis publik, sehingga mereka berani menghadapi ortodoksi dan dogma, baik yang religius maupun yang politik.

Dari definisi yang telah disebutkan  dapat diambil kesimpulan bahwa intelektual adalah orang yang memaksimalkan fungsi berpikirnya (baik akal atau hati) untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas. Intelektual senantiasa membangun kesadaran masyarkat disekitarnya dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki, sehingga kehadiran intelektual bagaikan penerang bagi kegelapan. Dalam Islam, kita kenal dengan sebutan Ulul Albab, rausyah fikr. Istilah  Ulul-albab disebut 16 kali dalam Al-Quran. Menurut Al-Quran, ulul-albab adalah kelompok manusia tertentu yang diberi keistimewaan oleh Allah swt. Diantara keistimewaannya ialah mereka diberi hikmah, kebijaksaan, dan pengetahuan – disamping pengetahuan yang diperoleh mereka secara empiris: “Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak . Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali ulul-albab”.(QS.2:269). Disebutkan pula dalam Al-Quran bahwa: “Mereka adalah orang yang bisa
mengambil pelajaran dari sejarah umat manusia.” (QS. 12:111). Dipelajarinya sejarah berbagai bangsa, kemudian disimpulkannya satu pelajaran yang bermanfaat, yang dapat dijadikan petunjuk dalam mengambil keputusan di dalam kehidupan ini. “Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari Allah, dan mereka itulah ulul-albab..” (QS. 3:7)[9].

Ciri-ciri dari Ulul Albab adalah:

  1. Bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu:  QS.3:7, QS.3:190.
  2. Konsisten dalam pencarian kebenaran dan istiqomah: QS.5:100
  3. Kritis dalam melihat fenomena: QS.39:18
  4. Melebur bersama masyarakat untuk menyampaikan kebenaran sehingga ilmu yang dimiliki dapat bermanfaat: QS.14:52
  5. Tidak pernah takut kepada siapapun kecuali kepada Allah SWT:  QS 2:197

Dengan ciri-ciri diatas maka sejatinya Intelektual dalam kacamata Islam adalah seorang Intelektual yang mengabdikan hidupnya untuk Allah, berbeda dengan intelektual pada umumnya yang tidak mempunyai landasan teologis yang jelas. Maka saya sebagai orang Islam sepakat untuk menggunakan definisi seorang intelektual adalah manusia yang mensyukuri nikmat berfikir  (akal dan hati) yang diberikan Allah untuk memahami segala hal demi misi manusia sebagai khalifatullah fil ardh (melestarikan kehidupan dunia). Tentu sebagai khalifah, seorang manusia wajib menjalankan prinsip amar makruf nahi munkar, maka intelektual tidak bisa lepas dan berdiam diri dari kemunkaran-kemunkaran yang terjadi di sekelilingnya.

Dengan menjadi mahasiswa kita sudah masuk dalam dunia intelektual,  karena dalam dunia kampus yang dikedepankan adalah kemampuan ilmiah, bukan otot atau emosi. Maka, selaku mahasiswa kita juga seorang intelektual atau calon intelektual, bukan seorang calon kuli. Maka kita wajib mendapat perlakuan sebagai seorang intelektual. Sekali lagi Intelektual ! bukan kuli.

E. Realitas Kehidupan Mahasiswa Saat Ini

Mengenai kehidupan mahasiswa saat agaknya terlampau jauh jika kita bandingkan dengan kondisi mahasiswa pada tahun 60, 70, 80  atau 90-an. Dulu, mahasiswa merupakan predikat yang prestisius, tidak semua orang dapat masuk universitas, orang-orang biasa yang kuliah dituntut berkerja keras untuk memenuhi biaya perkuliahan. Begitu juga dengan tradisi pemikiran  mahasiswa sekarang, tentu akan susah untuk dibandingkan, karena kalau boleh dikatakan saat ini mahasiswa tidak memiliki tradisi pemikiran, kalau toh ada itu hanya segelintir (mungkin termasuk yang sedang baca tulisan ini).

Yang terjadi mahasiswa sekarang ini kuliah hanya mempunyai orientasi sempit alias bekerja-an sich. Saya coba membagi kriteria mahasiswa kedalam klasifikasi berikut[10]

1. Mahasiswa Borjuis

Kehidupan glamour sudah menjadi trend bagi mereka, mobil mewah, pakaian modis, handphone necis, serta pergaulan glamour lainnya. Bagi mereka kuliah bagai ajang penghambur-hamburan uang, atau lepas dari cengkraman keluarga. Beberapa diantaranya berasal dari kalangan pejabat atau pengusaha, yang menurut saya pola hidup seperti itu seolah pelecehan kepada orang-orang miskin.

2. Mahasiswa Kelas Menengah

Yaitu mahasiswa yang berasal dari kalangan ekonomi menengah, meskipun dari segi ekonomi mereka tidak seperti kalangan borjuis, namun beberapa diantaranya berpola hidup sama, hal ini terjadi karena pengaruh kapitalisme yang terus menerus menggerus otak mereka sehingga menjadi seorang konsumtif dan selalu silau dengan materi-materi yang diiklankan oleh kapitalis.

3. Mahasiswa Proleter

Merekalah kalangan mahasiswa yang berasal dari kaum proleter alias kalangan ekonomi menengah kebawah. Kemampuan ekonomi keluarga yang pas-pas an memaksa dia untuk berperilaku sederhana, bahkan terkadang mereka kesulitan untuk memperoleh biaya pendidikan. Kehidupan mereka jauh dari hingar bingar materi, jangankan uang untuk belanja di mall, terkadang sekedar untuk memfotokopi saja mereka kesulitan.

 

Pengklasifikasian ini bukanlah hal mutlak, ketiganya memang mempunyai kriteria perilaku yang khas, namun secara umum kegiatan / perilaku mahasiswa diatas sebagai berikut:

  1. Mahasiswa A : Mahasiswa yang tidak serius belajar, menghambur-hamburkan uang di tempat entertainment, hoby mereka adalah kumpul-kumpul dan berekreasi.
  2. Mahasiswa B  : Mahasiswa yang sangat serius belajar, bagi mereka belajar adalah segalanya, ketertiban adalah segalanya, dan penelitian merupakan hal yang mereka senangi. Sampai-sampai mereka ini menjadi mesin belajar, karena setiap hari secara otomatis melakukan hal-hal perkuliahan. Tanpa memiliki pemikiran selain belajar di bangku kampus.
  3. Mahasiswa C  : Mahasiswa aktifis, mereka sangat aktif terlibat dalam aktifitas kemahasiswaan kampus, mulai dari HMJ, UKM hingga BEM. Namun kelompok ini dapat dibagai lagi menjadi dua,Pertama aktifis yang Ideologis, biasanya aktifis ini berasal atau telah dikader oleh organisasi ektra kampus yang ideologis, mereka masuk kedalam organisasi intra untuk menancapkan pengaruh dan melancarkan kegiatan-kegiatan organisasi ektra yang mereka ikuti. Keduai aktifis non ideologis, yaitu mereka yang masih minim organisasi, ataupun tidak ingin masuk ke kelompok organisasi ektra yang notabene ideologis. Biasanya mereka takut untuk masuk ke dunia politik dan tetek bengek lain. Bagi aktifis ideologis, jelas keberadaan mereka hanya sebagai kepanjangan tangan dari organisasi ekstra, karena dengan adanya kader ekstra yang berada di intra maka secara tidak langsung akan menguntungkan organisasi ekstra, hal ini terlihat dari jabatan presiden BEM  yang selama bertahun-tahun di duduki oleh agen dari salah satu organisasi ekstra, mereka mengkondisikan sedemikian rupa suasana Pemira, dan sayangnya lagi-lagi Mahasiswa apatis dan masa bodoh.
  4. Mahasiswa C  : Mahasiswa Kritis, mereka ini tidak dapat dipastikan dari kelompok ekonominya, yang jelas mereka mempunyai komitmen dan jati diri yang teguh, untuk memposisikan diri mereka sebagai pencari ilmu sejati, membuka pikiran, dan toleran. Mereka bisa berada di organisasi ektra atau intra, bahkan ada juga yang sengaja tidak masuk dalam organisasi semacam itu, justru berada di komunitas-komunitas lain yang tidak berhubungan dengan  kegiatan ilmiah.

Kehidupan mahasiswa saat ini secara umum tidak bisa terlepas dari paham dan praktik kapitalisme yang menggurita, karena kampus sendiri seringkali melanggengkan budaya kapitalis, yaitu dengan menciptakan biaya perkuliahan yang mahal serta arahan kepada mahasiswa supaya siap menjadi mesin atau alat kapitalis[11].

Perilaku mahasiswa pun tidak lepas dari jerat kapitalis. Mahasiswa sebagai lapisan kaum muda dikepung dari berbagai penjuru, mulai dari privatisasi pendidikan yang melanda kampus-kampus mereka, materi kurikulum dan pengetahuan yang bekerja semata-mata untuk melayani kepentingan produksi dan pasar, kampus yang berdir di tengah kepungan mall-mall mewah yang menebar aroma hasrat konsumtivisme, sampai dengan jalur jasa infotanment dan kapitalisme media yang memanifes dalam bentuk MTV, sinetron, ajang pencari bakat, serta gosip (Pribadi dalam Soyomukti, 2008:11).

Dengan perilaku mahasiswa yang terjerat dalam operasi kapitalisme ini lah yang menyebabkan kualitas mahasiswa semakin menurun, mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat terkadang di cederai dengan istilah-istilah negatif, seperti: Ayam kampus, anarkis, hedonis, manja, demo anarkis, tawuran, perploncoan, dll.

Tentu hal ini sangat menohok kaum mahasiswa, yang dulunya dianggap sebagai intelektual dan berpenddikan tinggi, namun sekarang banyak kasus-kasus yang justru menjauhkan defenisi mahasiswa sebagai kelompok intelektual. Dan saya pikir inilah kehendak kapitalis.

F. Khatimah

Kualitas intelektual seseorang dapat terlihat dari perilakunya, jika perlakuan kepada mahasiswa baru sama seperti perlakuan kepada kuli maka kualitas intelektualnya sama dengan kuli.  Memposisikan diri sebagai kelompok intelektual yag tidak terjajah oleh kurikulum pendidikan merupakan sebuah tantangan.

Maka sudah sepatutnya kita sadar akan posisi dan tanggungjawab kita sebagai intelektual, sebagai manusia merdeka dan bertanggungjawab. Kuliah bukan hanya bicara mengenai Indeks Prestasi Komulatif (IPK) diatas 3,5 namun lebih dari itu adalah bagaimana mempersiapkan diri kita agar bermanfaat bagi keluarga, dan masyarakat secara umum. Saya sama sekali tidak menganjurkan untuk meninggalkan bangku kuliah, dan menjadi seorang mahasiswa yang ber IPK rendah, sama sekali tidak, lebih jauh dari itu urusan IPK dan prestasi yang lain adalah nomor dua, yang utama adalah sejauh mana usaha kita untuk menjadikan diri kita (dengan fasilitas yang ada) menjadi intelektual yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Di akhir tulisan ini saya terus terang menyatakan kebanggaan saya kepada para mahasiswa yang masih bisa berpikir kritis dan peduli dengan kondisi ilmiah (teknologi, sosial, dll). Mereka berada di mana-mana, meski dalam jumlah yang sangat sedikit dan barangkali jauh dari popularitas, tapi sikap mereka menunjukan kemerdekaan dan sebuah kenikmatan sebagai seorang intelektual. Mereka lebih mulia daripada politikus busuk, daripada dosen pemalas, daripada profesor angkuh, daripada birokrat korup dan semua yang masih terpenjara oleh jeruji kapitalis yang membelenggu pikiran dan jiwa.

Selamat Datang Mahasiswa, Selamat Datang Para Pemimpin, dan Selamat Datang para Intelektual……Selamat Datang Masa Depan Umat dan Bangsa…..

Billahi fi Sabilil Haq, Fastabiqul khairat

Barakallahu lakum….

 

DAFTAR BACAAN

Abdurahman, Oman. Ulul Albab: Profil Intelektual Plus. Diunduh pada    tanggal 19 Oktober 2010, tersedia di  http://quran.al-shia.org/id/lib/005/10.html.

Anonim. Intelektual . Diakses pada tanggal 19 Oktober 2010, tersedia di http:// dessclerc. wordpress. com/2008/11/17/intelektual/.

Djojodibroto, Darmanto. 2004. Tradisi Kehidupan Akademik. Yogyakarta. Galang Press.

Karim, M Rusli. 1985. Mahasiswa Cendekiawan dan Masa Depan. Bandung. ALUMNI.

———-. 1990. Perguruan Tinggi dan Masyarakat. Yogyakarta. Tiara Wacana.

Riadi, Doni. Ironi Reformasi: Budaya Perploncoan Mahasiswa. Diunduh pada tanggal 19 Oktober 2010, tersedia di  http://www.geocities.ws/kwedangjae/perploncoan.htm.

Soyomukti, Nurani. 2008. Dari Demonstrasi Hingga Seks Bebas: Mahasiswa di Era Kapitalisme dan Hedonisme. Yogyakarta. GARASI.


[1] Oleh M Isa Thoriq A, Mahasiswa UNDIP biasa, anggota IMM Ibnu Sina. Tulisan ini adalah upaya argumentatif untuk memberikan wacana kritis. Tidak berlebihan, bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan, alias masih banyak kesalahan, untuk itu saya mohon maaf atas segala kekurangan , tanggapan dan kritikan ilmiah akan sangat saya hargai karena hal itu menunjukan kualitas intelektual kita. Terimakasih. Arrull.wordpress.com

[2] Sebutan untuk bangsa yang dijajah Belanda, yang berarti “asli”, namun “asli”  disini dalam arti yang negatif, kolot, bodoh, dan kotor.

[3] Namun dalam kenyataanya banyak dari alumni pendidikan Belanda yang menjadi pioner dalam kemerdekaan, diantaranya: dr. Soetomo, Ir Soekaro, Hatta, Agus Salim, dsb.

[5] Dengan memerintahkan mahasiswa baru berpenampilan aneh, serta terkadang menyulitkan, dan juga segala bentuk instruksi yang bersifat memaksa termasuk dalam hal ini.

[6] Kata intelektual dikenal kali pertama ketika disiarkannya Manifeste des Intellectuels pada 14 Januari 1898. Manifeste ini memprotes proses Albert Dreyfus, seorang perwira tentara Perancis yang pada tahun 1894 diadili atas tuduhan menjual rahasia militer kepada para agen Jerman. Manifeste ini memiliki dua arti penting. Pertama, Manifeste ini telah menciptakan suatu aristokrasi baru dengan mengangkat para pengarang, ilmuwan, profesor, dan filolog (ilmuwan bahasa dan perkembangannya) ke tingkat manusia super yang sebelumnya tempat mereka adalah di dalam laboratorium dan perpustakaan. Kedua, menjadikan intellectuels juga merupakan kata benda, di mana sebelumnya hanya merupakan kata sifat (http://dessclerc.wordpress.com/2008/11/17/intelektual/).

[7] Perilaku politik praktis semacam ini pernah  terjadi pada tahun 1960-an ketika pertentangan antar ideologi yang direpresentasikan Parpol masih ketara, mahasiswa menghimpun diri untuk menjadi pengikut parpol sesuai dengan ideologi yang dianut. Dewasa ini, kondisi politik yang profan menyerat GM kepada peran mutualisme terhadap parpol. Sehingga  diam-diam hubungan GM dengan parpol semakin mesra, hal ini biasanya terkait masalah akses informasi dan dana.

[10] Pengklasifikasian ini berdasarkan hasil observasi dan pengalaman selama kuliah. Barangkali masih banyak pengklasifikasian yang lain dari sudut pandang yang berbeda. Pengklasifikasian ini tidak mutlak dan terkadang tidak berpengaruh pada pola hidup/perilaku.

[11] Seringkali kampus mengatakan “Bersiaplah menghadapi dunia kerja, jadilah pekerja yang profesional”. Meski pada akhir-akhir ini didengungkan konsep wirausaha, yang masih patut dikritisi.

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s