Menjadilah Sang Pembelajar

Standard

Ketika Ia tiba di bumi, dengan penuh hormat dia menyapa si penyala lampu.

“Selamat pagi,  mengapa Anda memadamkan lampu anda?”

“Begitulah perintahnya, “ Jawab si penyala lampu.

“Selamat pagi.”

“Apa perintahnya?”

“Perintahnya adalah agar saya memadamkan lampu saya. Selamat sore”

Dan ia menyalakan lampunya lagi.

“Tetapi mengapa anda menyalakan lagi lampu itu?”

“Begitulah perintahnya,”jawab si penyala lampu.

“Saya tidak mengerti,”kata pangeran kecil itu.

“Tidak ada yang perlu dimengerti,”sahut si penyala lampu.

“Perintah adalah perintah. Selamat pagi”

Dan ia memadamkan lampunya.

Lalu ia menyeka dahinya dengan sapu tangan bermotif kotak-kotak merah.

“Saya menjalani profesi yang tidak menyenangkan. Pada masa lalu profesi ini masuk akal. Saya memadamkan lampu di pagi hari dan menyalakannya lagi di sore hari. Saya menghabiskan sisa hari itu untuk bersantai dan malamnya untuk tidur.”

“Dan perintah tersebut sudah diganti sejak saat itu?” tanya sang pangeran kecil

“Perintah itu belum diganti,” kata si penyala lampu.

“Itu merupakan sebuah tragedi!  Dari tahun ke tahun, bumi berputar lebih cepat dan perintah tersebut tidak pernah diganti”. -The little prince dalam Langer ( 2008:10)-

 

Menjadi Manusia Pembelajar[*]

Manusia awal mulanya adalah makhluk berpikir, begitulah yang digambarkan oleh Allah SWT dalam surat AL Baqarah ayat 31-32, disana diceritakan bahwa sewaktu manusia diciptakan terjadi protes dari para malaikat, mereka menyangka bahwa manusia hanya bisa menumpahkan darah dan berbuat kerusakan. Namun sejatinya Allah sebagai pencipta lalu menjawab protes tersebut dengan sebuah tantangan. “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” begitu tantangan Allah kepada malaikat. Tantangan yang mengandung sebuah proses berpikir itu ternyata tidak ada satupun malaikat yang bisa menjawab. Begitu malaikat tidak bisa menjawab,  Allah melempar tantangan itu kepada nabi Adam, “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini”. Dengan mudah nabi Adam menjawab tantangan tersebut. Dari kisah ini kita dapat melihat bahwa modal dasar manusia yang di sampaikan oleh Allah adalah berfikir.

Berfikir merupakan sebuah proses yang terjadi terus menerus dalam kehidupan kita sehari hari. Kemampuan berpikir ini lah yang membedakan manusia dengan makhluk yang lain. Melalui aktivitas berpikir juga manusia sekaligus telah melakukan proses belajar. Karena dengan berpikir manusia akan menangkap stimulus dan mengolahnya menjadi sebuah gagasan atau asumsi. Lantas dengan memiliki gagasan manusia akan menentukan sikap. Artinya kemampuan berpikir  dapat mempengaruhi sikap manusia.

Hal yang sama juga terjadi pada proses belajar. Definisi belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat . Menurut teori Salvin, seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.

Barangkali kita semua sudah belajar semenjak kecil, melalui jenjang pendidikan Tk- SMA, bahkan perguruan tinggi. Namun, kira-kira pertanyaanya adalah apakah dengan belajar itu kita mengalami perubahan sikap?.

Banyak sudah orang yang merasa sudah belajar banyak, bahkan sudah tidak terhitung jumlah pelajaran yang sudah dia ikuti, namun seringkali orang tersebut tidak merespon, ketika ada sebuah peristiwa tertentu dan justru mengacuhkannya. Cerita pembuka diatas tentang Penyala Lampu sekiranya dapat dijadikan contoh, betapa kita sering melakukan rutinitas sehari-hari  tanpa melakukan perubahan ataupun perkembangan. Sehingga tak ubahnya bandul jam yang begerak , hanya punya 2 pilihan, kanan-kiri.  Padahal kemampuan kita begitu luar biasa, dan melalui proses belajarlah kemampuan itu dapat dimaksimalkan. Karena pada hakekatnya belajar itu mengubah perilaku.

Hal senada juga dilontarkan oleh Andrre Hirafa, dalam bukunya berjudul menjadi manusia pembelajar.  Penulis yang tidak sempat  menyelesaikan kuliahnya itu berhipotesis bahwa manusia dilahirkan sebagai pembelajar (learner) yang dimungkinkan menjadi pemimpin (leader) bahkan tumbuh sampai ke tahap manusia guru (master). Dan “belajar” di sinonimkan dengan “berubah”, sehingga “proses pembelajaran” diberi makna yang sama dengan “proses perubahan”. Belajar berarti berubah, dan berubah berarti belajar. Lebih lanjut menurutnya tugas pertama manusia dalam proses menjadi dirinya yang sebenarnya adalah menerima tanggung jawab untuk menjadi pembelajar bukan hanya di gedung sekolah dan perguruan tinggi, tetapi terlebih penting lagi  dalam konteks kehidupan (Harefa, 2004:17).

Bagi Harefa, manusia merupakan seorang pembelajar, namun tentunya bukan dalam artian orang yang selalu rajin berada di kelas,laboratorium atau perpustakaan, lebih jauh daripada itu manusia pembelajar adalah”

“Setiap manusia yang bersedia menerima tanggung jawab untuk melakukan dua hal penting, yakni:Pertama, berusaha mengenali hakikat dirinya, potensi dan bakat-bakat terbaiknya, dengan selalu berusahan mencari jawaban yang lebih baik tentang beberapa pertanyaan eksistensial seperti “siapakah aku?”, “dari manakah aku datang?”, “kemanakan aku akan pergi?”, “apakah yang menjadi tanggung jawabku dalam hidup ini?”, dan “kepada siapa aku harus percaya?”. Dan Kedua, berusaha sekuat tenaga untuk mengaktualisasikan segenap potensinnya itu, mengekspresikan dan menyatakan dirinya sepenuh-penuhnya, seutuh-utuhnya, dengan cara menjadi dirinya sendiri dan menolak untuk dibanding-bandingkan dengan segala sesuatu yang “bukan dirinya”.

Berdasarkan pengalaman penulis 35 buku best seller itu, seorang manusia harus memerdekakan diri untuk menjadi manusia. Melalui belajar manusia dapat mengenal dirinya, mengapa hal ini begitu penting?. Socrates berkata pada murid-muridnya “Gnothi Seauthon” (kenalilah dirimu), Ibnu ‘Arabi mengatakan “ man arafa nafsahu fa qad araha rabbahu”, melalui pengenalan diri kita akan lebih tepat dalam menjalani kehidupan, logika sederhanya adalah kita akan nyaman dan maksimal dalam berkendara motor jika kita paham betul apa yang terjadi dengan motor kita.

Tidak salah jika kita menganggap belajar hanya lah sebuah aktifitas di kelas sewaktu kita bersekolah. Namun sebenarnya apa yang dilakukan di sekolah, kampus dan lembaga pendidikan pada umumnya adalah mencetak manusia yang menjadi tua, bukan mencetak manusia yang benar-benar dewasa. Pendidikan mengajarkan kita untuk menjadi mesin uang bagi para pemodal, meski dengan imbalan yang fantastis tapi dibalik itu kita diajarkan untuk abai terhadap persoalan kehidupan manusia yang lain. Padahal persoalan itu sendiri diakibatkan oleh aktifitas kita sebagai ‘mesin’. Misal: para ilmuwan sebuah pabrik besar hanya dituntut untuk menciptakan produk atau bahan yang mampu meningkatkan produksi, namun mereka tidak pernah sadar bahwa dengan diciptakanya produk itu akan berdampak buruk bagi lingkungan atau masyarakat sekitar. Begitulah praktik yang terjadi saat ini.

Jadi, belajar adalah panggilan hidup kita, bukan karena disuruh orang tua/guru/dosen atau siapa pun, tetapi merupakan konsekwensi logis dari kehidupan . Tanpa belajar, kita tidak dapat melakukan ’proses menjadi’ diri kita, apalagi diri kita sesuai fitrah, sesuai kehendak-Nya, yang  diyakini  baik adanya (Gunarya, 2009:3). Menjadi pembelajar bukanlah tugas seorang mahasiswa saja, bukan pula tugas dosen , dan bukan pula tugas para profesor, namun setiap makhluk yang mengaku manusia harus menjadi seorang pembelajar.Karena dengan belajar manusia dapat hidup, jadi sebenarnya tidak ada putus asa, karena setiap detik terdapat kesempatan untuk belajar, dengan siapapun, kepada siapapun, dan dengan metode apapun.

Daftar Bacaan

Gunarya, Arlina. 2009.Hakekat Belajar. Diunduh pada 14 oktober 2010 di http: // www .unhas .ac.id/ maba/bss2009/hakekat% 20belajar. pdf

Harefa, Andrias. 2000. Menjadi manusia pembelajar. Jakarta.  Kompas

Langer, Ellen J.—. Mindful Learning: Membongkar 7 Mitos Pembelajaran yang Menyesatkan!. Jakarta. Erlangga.

http://id.wikipedia.org/wiki/Pikiran

http://id.wikipedia.org/wiki/Belajar#cite_ref-0

 


[*] Oleh: M Isa Thoriq A, Alumni PC IMM Kota Semarang. Disampaikan pada diskusi tematik IMM Unimus, tanggal 14 Oktober 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s