Hikmah Fajar

Standard

Pagi ini aku kembali teringat sesuatu yang sering kusepelekan, Kematian. Adzan shubuh nyaring terdengar menggema di seantero cakrawala fajar di desa Mayong, aku terbangun dan bangkit untuk mengambil wudhu, sebelumnya aku bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk bangun di pagi hari. Lalu kuambil sepeda dan berangkat ke Masjid At Taqwa, kebetulan masjid ini terletak berdekatan dengan PKU Muhammadiyah, begitu aku menempatkan sepeda di samping masjid bersebelahan persis dengan Ruang pasien rawat inap. Terdengar teriakan keras dari salah satu kamar, lalu ku lihat sumber suara itu,teriakan tangis itu berasal dari beberapa penunggu seorang pasien, kurang jelas apa sebabnya. Lalu iqomat berkumandang, aku merapat ke dalam shaf untuk shalat jamaah shubuh, di rekaat pertama begitu imam selesai membaca Al fatihah, lalu tangisan itu terdengar keras, dan semakin nyaring, dalam sholat hati ku bergumam, inilah kematian..spontan aku merinding dalam sholat.Setelah shalat aku dengar kabar banhwa yang meninggal adalah seorang pasien perempuan penderita sakit Jantung, yang belum berusia tua, anak-anaknya masih kecil.

Begitu dekat kematian itu kepada diri kita, namun seringkali kita tidak menghiraukannya. Banyak orang yang begitu sombong, dengan mengklaim memiliki segalanya, memiliki harta, memiliki akal yang brilian, memiliki keahlian tertentu, sehingga merasa bahwa yang dia miliki adalah miliknya. Dengan perasaan seperti itu dia seringkali menyelewengkannya untuk hal-hal yang merugikan orang lain, bahkan menjauhkan dirinya dari Allah SWT. Kita, Para orang-orang yang belum menerima kehadiran Allah, sering berbuat menurut kehendak kita sendiri dengan mengabaikan petunjuk dari Nya, bahkan sering kita melanggar norma dan etika hanya untuk kesenangan diri kita.

Para politikus, sering berbuat licik dengan retorika yang bernafsu untuk menguasai, para cendekiawan sering bermanuver dengan pemikirannya dengan dalih kebebasan berfikir tanpa memikirkan dampak  sosial bagi masyarakat,  para aktifis sering memanfaatkan momen2 tertentu untuk meraup keuntungan dibalik kedok memperjuangkan rakyat, para pegawai, karyawan, bos, pengusaha, guru , dosen, dll. Semua seringkali mengabaikan persoalan mati, dan menganggap hidup adalah miliknya, apa yang dia peroleh adalah apa yang dia usahakan, maka apa yang dia usahakan adalah sepenuhnya miliknya. Kita berbuat tanpa takut akhirat, tanpa menilai baik-buruknya bagi kita dan bagi orang lain, seperti itukah hakekatnya hidup? .Mengapa betapa banyak pelajaran,ujian dan cobaan yang diberikan pada kita namu hanya berlalu begitu saja, meski pelajaran, ujian dan cobaan tu begitu nyata, lihatlah bencana yang ada disekeliling kita, kematian yang setiap hari kita dengar, kerusuhan, bahkan yang berkaitan dengan diri kita, seperti sakit, kehilangan sesuatu, bahkan Al quran yang sering diperdengarkan tidak pernah kita gubris. Allah berfirman dalam Al Waqiah ayat 81-85:


81. Maka Apakah kamu menganggap remeh saja Al-Quran ini?

82. Kamu mengganti rezki (yang Allah berikan) dengan mendustakan Allah.

83. Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan,

84. Padahal kamu ketika itu melihat,

85. Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. tetapi kamu tidak melihat,

Bukankah Alquran telah mengingatkan kita dengan kisah-kisah dahulu yang masih sering terjadi sampai sekarang. Orang kaya yang lalai dengan rejekinya, orang miskin yang lalai dengan kemiskinannya, orang kaya yang suka menumpuk-numpuk harta, orang miskin yang tidak pernah bersyukur. Bukankah kenyataan semacam ini sering kita temui.

Terlebih di Indonesia, negeri yang sangat kaya raya, tapi miskin dalam mental. Yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin, yang kaya befoya-foya yang miskin terus bergaya. Padahal, sekalilagi adanya fenomena disekitar kita merupakan pelajaran, tapi kita tidak mau mengambil pelajaran dari situ. Materi masih menjadi panglima, kesenangan duniawi masih menjadi budaya, bahkan terkadang Agama dianggap hanya milik pribadi , kesholehan yang diperlihatkan adalah kesholehan pribadi tanpa melihat sekelilingnya masih banyak orang yang tidak mampu sekedar makan 3 kali sehari. Amal sosial sebatas penghias hidup dan ajang kumpul dengan teman-teman. Konser musik lebih disukai daripada mengikuti kajian di masjid, orkes dangdut lebih diminati daripada pengajian umum, tahlilan lebih diminati daripada menyemarakkan masjid. Kekerasan masih menjadi kebiasaan, baik yang dilakukan oleh elite maupun oleh rakyat biasa, hal ini wajar karena rakyat biasa adalah cerminan dari para elite. Cukup sekian kpn2 aku teruskan,,saatnya oleharaga menjaga kesehatan.Begitulah misteri dunia…..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s