Sang Pencerah Bagi Semua

Standard

Hanung Bramantyo kembali hadir dengan film bermutu, kali ini sutradara kelahiran Jogjakarta mengangkat tema Kepahlawanan dengan menjadikan KH A Dahlan sebagai tokoh utama. Film berjudul Sang Pencerah memotret sejarah perjuangan KH A Dahlan dalam pendirian Muhammadiyah. Hanung merangkai cerita-cerita seputar KH A Dahlan yang sudah jamak diketahui warga Muhammadiyah, dimulai dari masa kecil KH A Dahlan yang lahir di Kauman yang terkenal dengan lingkungan Santri karena terdapat Masjid Gedhe Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat sebagai pusat dakwah Islam saat itu.Pada masa kecilnya Ahmad Dahlan bernama Muhammad Darwisy. Di usia yang belia (15 th) Darwisy sudah memiliki nalar kritis dengan mempertanyakan segala macam ritual yang dibalut nuansa Islam, namun dibalik ritual yang rutin itu menjadi beban bagi rakyat. Karena setiap ritual ternyata membutuhkan uang, sedangkan mayoritas rakyat saat itu dalam keadaan miskin. Darwisy pun heran mengapa banyak orang memberi makan Roh leluhur di sekitar pohon beringin, padahal dipinggir jalan banyak anak yatim yang jelas-jelas membutuhkan makanan. Maka dengan sifat ‘cerdik’ Darwis selalu mengambil makanan sesaji untuk diberikan kepada anak-anak yatim. Itulah kegelisahan yang dirasakan oleh Darwisy hingga dirinya sering berdebat dengan KH Abu Bakar (Ayah Darwisy). Kegelisahan itulah yang mendorong Darwisy mendalami Ilmu Agama Islam ke Mekah, di usia belia Darwisy menuntut Ilmu ke Mekah sekaligus Ibadah Haji. Sekembalinya dari Tanah Suci Darwisy berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Sepeninggal Ayahnya Darwisy bertugas menggantikan kedudukan KH Abu Bakar sebagai Khatib Amin. Ahmad Dahlan menunaikan pernikahan dengan Siti Walidah putri seorang Kyai dan masih kerabat dengan Ibunya. Jabatan sebagai Khatib Amin dimanfaatkan oleh Ahmad Dahlan untuk berdialog dengan para Kyai di Lingkungan Masjid Gedhe. Dengan posisi sebagai khatib Amin maka Ahmad Dahlan dipanggil KH A Dahlan, sejak itu keberadaanya menjadi sangat kontroversi di kalangan Ulama Jogja. Konflik pemahaman semakin jelas sejak usulan KH A Dahlan untuk mengubah kiblat masjid yang ternyata mengarah ke Afrika. Masih banyak lagi kisah-kisah di film ini yang sangat konstekstual da bermakna. Film ini diramaikan oleh artis-artis berpengalaman seperti : Lukman Sardi, Ikranegara, Slamet Rahardjo, Sudjiwo Tedjo, Zaskia Mecca, dan beberapa pemain baru seperti Giring ‘Nidji’, Ihsan Taroreh serta banyak lagi pemain yang mantab. Film yang menelan biaya 15 M ini memang patut diacungi jempol, karena dapat membuat setting Jogja tahun 1900. Hal ini jarang ditemukan pada film-film Indonesia, genre kolosal barangkali sangat sulit ditemukan pada film Indonesia, inilah keberhasilan Hanung yang menghadirkan kembali suasana tahun 1900 secara maksimal, meskipun ada yang sedikit maksa ketika menggambarkan adegan Ahmad Dahlan di Makkah. Pada film ini agama digambarkan seperti bermain alat musik, jika tidak tahu cara memainkannya maka tidak akan muncul nada yang indah, sebaliknya ketika kita tahu cara menggunakannya maka alat musik akan menghasilkan nada yang indah, merdu dan menenangkan. Hal ini masih relevan dengan kondisi saat ini ketika para politisi dan pemimpin yang mengaku beragama Islam dan menunaikan Haji dan umrah berkali-kali namun perilakunya masih saja sama dengan orang yang tidak mengenal agama. Korupsi, berfoya-foya, politik uang dan nasionalisme semu , hampir langka kita temukan keteladanan sejati dari mereka, bahkan dari para Kyai sekalipun. Bahkan orang yang mengaku paham agama justru melakukan kekerasan atau melegalkan kemaksiatan atau pencurian hak-hak publik. Agama seakan hanya buatan manusia dan tidak mampu mempengaruhi kehidupan sosial, tempat-tempat sakral dibuat hanya untuk menambah rejeki, benda-benda bertuah dikeramatkan untuk menambah tradisi, semua jauh dari kepentingan umat manusia. Bahkan praktik tasawuf disulap menjadi ajang konsultan meditasi hingga menampilkan tasawuf dalam bentuk praktis dan instan atau justru membawa manusia kedalam keterasingan dari manusia. KH A Dahlan mencontohkan keteladanan yang luar biasa, beliau mempraktikan tasawuf amali, yaitu bagaimana meningkatkan ketaqwaan dengan amal-amal batin dan dhahir. Taqwa hakekatnya adalah berhati-hati, dalam menjalani kehidupan di dunia ketika manusia sudah mengenal Tuhannya maka akan mengenal semuanya. Pada kondisi itu manusia akan mengetahui peta perjalannya, dengan mengetahui peta maka akan lebih berhati-hati dalam berjalan. Tidak tergesa-gesa, tidak mudah tertipu oleh dunia, dan tidak mengikuti hawa nafsu. Namun demikian bukan berarti menjauhi dunia seisinya , namun karena telah mengetahui betul karakter dunia dan tujuan diciptakan manusia oleh Allah maka dalam hidup manusia mempunyai tugas sebagai kholifahtullah fil ardh, yaitu ikut menjaga dan melestarikan dunia. Cinta Tuhan ada pada Cinta Manusia. Artinya ridho Tuhan ada pada sejauh mana kita berupaya di dunia untuk mengajak manusia mensyukuri dan bertaqwa pada Tuhan. Iman bukanlah berhenti pada etape diri kita, namun harus di tularkan kepada yang lain. Itulah hakekat keseimbangan sebenarnya. Hal ini sekaligus sebagai bentuk ujian bagi keimanan kita, dengan bergumul terhadap persolaan manusia maka iman yang ada dalam jiwa seringkali goyah, itulah saat Allah ingin menyapa kita dan mendidik kita. Dalam film ini terlihat bahwa KH A Dahlan sempat goyah, bahkan putus asa ketika surau nya di robohkan oleh abdi dalem Masjid Gedhe. Namun keluarga nya berusaha menguatkan hati KH A Dahlan untuk terus berjuang di jalanNya. Dalam sebuah adegan Siti Walidah menyampaikan nasehat yang sangat menyentuh saat itu “Barang Siapa Menolong Agama Allah akan Ditolong oleh Allah dan ditetapkan kedudukannya”, seketika KH A Dahlan beristigfar. Begitu juga bagi aktifis Muhammadiyah yang saat ini sudah sangat jauh dari ketauladanan KH A Dahlan sebagai pendiri. Para aktifis seringkali terjebak dalam pola ibadah yang tekstual rasional murni. Sehingga nampak kader-kader muhammadiyah yang keras terhadap pelaku Bid’ah tapi lembek melihat anak yatim atau kelompok marginal, kader muhammadiyah yang getol bicara gerakan sosial namun kering ketika membaca Al quran, kader muhamadiyah yang fasih bicara istilah-istilah pengetahuan namun gagap ketika melafadzkan dzikir dan sholawat, kader muhammadiyah yang selalu bicara urusan fiqh namun mlempem ketika bicara urusan korupsi, kader muhammadiyah yang semangat mengurus Amal Usaha namun loyo ketika harus menghidupkan masjid atau memberikan sedekah bagi aktifitas persyarikatan. Andai melihat kembali KH A Dahlan sebagai teladan seharusnya para aktifis berpikir keras untuk melakukan transformasi diri, transformasi perkaderan, apalagi di abad ke dua ini Muhammadiyah perlu tafakur dan introspeksi sudahkan sesuai dengan semangat zaman yang berlandaskan akal suci dan hati murni?, kiranya ajaran-ajaran KH A Dahlan memang perlu menjadi hal penting untuk dipahami bagi setiap kader atau aktifis. Kritis terhadap dunia, praksis dalam sikap, dan taqwa kepada Allah SWT haqqa tuqatih. Masih banyak kisah KH A Dahlan yang patutu kita kaji dan teladani. Maturnuwun Kyai.

Hai Dahlan ! Sungguh bahaya yang menyusahkan itu terlalu besar, demikian pula perkara-perkara yang mengejutkan di depanmu, dan pasti engkau akan menemui kenyataan demikian itu. Mungkin engkau selamat, tetapi juga mungkin tewas menemui bahaya. Hai Dahlan coba bayangkanlah seolah-olah badanmu sendiri berhadapan hanya dengan Allah saja, dan dihadapanmu ada bahaya maut, [eradilan, hisab atau pemeriksaan surga dan neraka. Dan fikirkanlah, renungkanlah apa-apa yang mendekati engkau dari pada sesuatu yang ada di mukamu dan tinggalkanlah selain itu)

(Tulisan di Meja Tulis KH A Dahlan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s