Agama Untuk Siapa?

Standard

Sepasang burung itu masing hinggap pepohonan, sinar mentari pagi menghangatkan mereka, sambil bersenda gurau burung-burung itu menyanyikan senandung pagi yang indah. Seorang laki-laki muda sedang terduduk di bawah pohon itu, sambil sesekali dia meneguk kopi hangat yang ada disebelahnya, wajahnya yang letih, memperlihatkan kondisinya yang kurang tidur, namun sorot matanya masih tajam, seolah menerawang jauh dan berpikir tentang sesuata yang dia risaukan beberapa malam terakhir ini.

Pemuda itu sudah beberapa hari ini kelihatan gelisah, dia sedang dilanda sebuah pertanyaan-pertanyaan yang belum dia temui jawabannya. Pertanyaan itu selalu muncul disela-sela kesibukan dia sebagai penjaga ilmu, pekerjaan yang menempatkan dia sebagai orang yang mulia karena telah menjaga ilmu dan menyebarkannya kepada orang banyak meskipun pekerjaan ini kurang mendapat tempat di masyarakat. Pemuda itu selalu gelisah melihat fenomena yang ada, agama yang nampaknya mulia, seringkali menjadi hal yang sangat memuakkan. Ada orang yang sepertinya baik, namun oleh orang lain dikatakan sesat bahkan ahli neraka, dengan dalih memegang teguh Alqur-an dan Sunnah mereka mantap dengan anggapan mereka bahwa yang lain adalah keliru. Sebaliknya dengan alasan yang logis dan asas kemanfaatan orang yang dianggap sesat tadi justru menuduh pemegang teguh al quran dan sunnah itu sebagai orang yang kolot dan tidak berperadaban. hal ini terjadi berulang-ulang dan selalu menimpa siapa saja. Dengan berbagai dalih dan istilah yang saling dilekatkan satu sama lain, seperti: liberal, fundamentalis, pluralis, sekuler, ahli bidah, tradisional, konservatif dsb. Mereka berlomba-lomba untuk menuduh orang lain salah dan meyakinkan orang lain bahwa pemikirannyalah yang paling benar. Dengan begitu seolah-olah sudah jelas siapa yang akan masuk neraka dan siapa yang akan masuk surga.

Bahkan tidak jarang dalam sebuah masyarakat terdapat orang yang memilih dikucilkan daripada harus mengkompromikan paham yang sebenarnya bukan hal yang prinsip. Akhirnya munculah sekat-sekat yang dibentuk oleh agamanya sendiri, sekat yang dimunculkan oleh manusia yang mempunyai tuhan yang sama.  Tuhan yang disembah pun sama, tapi mereka berbeda dan tidak bisa menerima perbedaan tersebut. Tidak jarang mereka rela melakukan kekerasan terhadap yang lain, dan atas  nama tuhan mereka juga menghalalkan darah orang yang berbeda dengan pahamnya.

Pemuda itu terus berpikir, dan menanyakan segala fenomena yang dia hadapi, sesekali pemuda itu menghirup udara pagi dalam-dalam. Seringkali dia melihat orang shalat , ribuan jamaah dzikir serta maraknya atribut-atribut agama , namun dia juga melihat ketidakadilan, kemiskinan, dan kemunafikan-kemunafikan dalam kehidupan masyarakat. Ketidaksesuaian perkataan dengan perbuatan, pikiran yang picik dan egois, namun dalam waktu yang sama juga menjadi idola rakyat. Anehnya mereka semua juga masih sering ibadah, masih beragama dan masih bertuhan.

Pemuda itu terus memikirkan sebenarnya apa sih agama yang mereka pahami, untuk apa sih mereka beragama, membawa tuhan dalam kehidupan yang justru seringkali gara-gara ingin menyenangkan tuhan orang-orang itu melakukan hal-hal yang merugikan orang lain.

Orang-orang yang merasa sudah dalam jalur yang benar(jalur agama) selalu memandang rendah dan hina kepada orang-orang yang muak dengan agama, orang-orang yang jauh dari agama, sehingga perbuatan mereka liar dan jauh dari aturan-aturan agama. Bukannya mereka menjadi seperti itu gara-gara pelaku agama yang tidak bisa menaungi mereka?.

Apakah kita bisa membedakan antara pelaku agama dan agama itu sendiri. Apakah agama yang menjadi subyek atau menusia yang menjadi subyek?. Kalau kita mengatakan bahwa agama tergantung manusianya berarti manusia adalah subyek dan agama adalah obyek, sementara itu agama lahir dari tuhan untuk manusia, lalu siapa yang menciptakan agama?. Tuhan yang membutuhkan agama atau manusia yang membutuhkan agama?. Agama selalu saja menjadi alat komoditi manusia yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal, seperti; provokasi, bisnis, dan bahkan penguat legitimasi kekuasaan.

Dalam pikiran pemuda itu terbersit ingin menjauhi agama, sejenak meninggalkan Tuhan yang dianggap telah diakui kebenarannya. Untuk sejenak merasakan hidup tanpa tuhan. Tapi, setelah dipikir-ikir lagi nampaknya dia tidak akan bisa, dia berkata dalam hati “ Aku tidak bisa lari dari Tuhan/sesuatu yang mistis”, “Kurasa kemanapun aku pergi disitu ada tuhan”…Tapi tetap saja, gara-gara banyak orang ingin menyenangkan Mu maka banyak persoalan dan pertikaian yang terjadi.

Pemuda itu lalu berpikir, mungkin inilah tugas manusia untuk mensinergkan dan memahami perbedaan yang ada. Ditengah kompleksitas problem yang dihadapi manusia diharuskan berpikir dan terus berpikir sambil mencari tuhan yang sesunggungnya. Mencari tuhan dan mendekatinya adalah tugas utama manusia, dan hal ini bisa dibuktikan kalau kita dapat memberi manfaat sebanyak-banyaknya dimuka bumi ini.  Lambat laun, pemuda itu beranjak dari posisi duduknya dan berjalan menuju rumahnya, karena tanpa terasa panas matahari mulai menyengat kulitnya, sengatan itu sangat terasa baginya seolah –oleh sengatan itu mencubit-cubit dirinya yang masih diliputi pertanyaan. Mungkin Tuhan sedang menyapanya pagi itu…….

Kalau dulu dikatakan orang eropa dengan agama kristen maka sekarang kiranya bisa dikatakan orang timur kecewa dengan Islam…”Bertuhan Tanpa Agama –Bertrand Russel-”

Arqam-24-6-2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s