Dari Negeri 5 Menara

Standard

Dari Negeri 5 Menara Aku mencoba memutar ulang memori ku sewaktu sekolah enam tahun di Muallimin, kenangan-kenangan lama kembali muncul seiring dengan rangkaian kata yang ku baca dalam Novel negeri 5 Menara. Yang membuat ku tertarik dengan novel baru ini adalah tampilnya penulis novel (A Fuadi) di tayangan Kick Andy. Talk Show ringan itu sengaja membahas novel yang dibuat oleh alumni Gontor yang telah berhasil di Amerika sebagai Jurnalis. Kisah yang menceritakan persahabatan 6 orang selama di Gontor hingga akhirnya meraih impian mereka masing-masing. Sebagai orang yang juga pernah mondok dan beberapa kali diasuh oleh musrif jebolan gontor serta sempat merasakan pendidikan ‘ala’ Gontor, aku tertarik untuk membelinya dan sekaligus untuk memompa semangatku untuk meraih impian yang kubuat sewaktu di Muallimin. Paragraf demi parafraf, halaman demi halaman ku baca dengan sangat antusias. Sebelumnya ku baca dulu testimoni yang ada di balik buku dan beberapa halaman belakang, bagus sekali rasanya, bahkan Kakanda Buya Syafii Ma’arif hingga idolaku Cak Nun memberikan testimoninya. Ku siapkan tenaga untuk membaca novel yang kuanggap cukup menarik diawal. Awal cerita mengisahkan sebab musabab tokoh pertama sang penulis(dalam novel ditulis ‘aku’) masuk Gontor. Paksaan ibunya untuk mondok di gontor dijalaninya setengah hati, sebailiknya kalau aku justru dengan senang hati untuk mondok di Jogja meski dengan alasan yang kurang mutu, biar keren bisa sekolah jauh!,hehehe. lalu penulis menceritakan kehidupan di Gontor. Layaknya pondok, jadwalnya begitu padat, jauh dari peradaban kota, serta ketatnya disiplin dan bahasa (keduanya ini ciri khas Gontor). Berbeda dengan muallimin yang terletak di jantung kota, Gontor berada di tengah desa, bahkan saati itu (tahun 80-an) belum dialiri listrik. Cerita terus mengalir maju, menceritakan suka duka, pencari ilmu, dan beberapa pelanggaran yang dibuat dalam disiplin bahasa. Cerita yang menurutku terlalu subyektif dan kurang menarik, penulis terlalu menjabarkan banyak hal namun kurang pendalaman dan diksi, imajinasi ku pun terputus. Mungkin disebabkan semua yang diceritakan di novel sama atau setidaknya mirip dengan yang ku alami, hanya beda tempat. Penggambaran tentang berbagai hal pun seperti nya tanpa bumbu-bumbu melankolis atau romantis, hanya kenangan heroik para pencari ilmu yang ditonjolkan. Sebenarnya yang aku bayangkan adalah cerita yang mengarah pada upaya yang diperjuangkan untuk meraih impiannya ke Luar negeri. Sehingga dengan keadaan yang semestinya tidak mampu, namun dengan semangat dan usaha yang teguh semua bisa dicapai. Kenyataan lain dalam novel yang ku temui adalah monoton alur dan setting tempat yang sama. Barangkali, penulis memang sengaja ingin menceritakan masa remajanya di Gontor , sehingga isi cerita lebih menekankan kisah-kisah pencarian ilmu di gontor selama 4 tahun. Gaya tulisan yang matematis sangat terasa, kaku dan menampilkan apa adanya. Berbeda jika kita bandingkan dengan coretan Andrea Hirata akan sangat terasa sentuhan diksi dan ekspresinya. Atau dengan habibuarrahman yang sangat romantis dalam merangkai kalimat. Malah, dalam novel ini terkesan terlalu banyak kumpulan “khotbah”, karena sering mengutip khotbah-khotbah ustad atau Kyai pondok tersebut secara langsung. Namun, banyak juga pelajaran yang dapat diambil. Yang paling ketara adalah semboyannya Man Jadda Wajadd (siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil). Semboyan inilah yang selalu menjadi spirit dalam menggapai impian. Apapun itu, usaha dengan sedikit lebih banyak, berdoa dan tawakal, itulah kuncinya. Ada hal menarik bagiku, ketika penulis menceritakan saat dia berkunjung ke rumah teman-temannya, di Bandung sewaktu ke rumah Atang, penulis bertemu dengan kularga Atang yang Muhammadiyah tulen,kemudian ketika penulis ke Surabaya ke rumah said, di bertemu dengan keluarga said yang NU tulen. Ini menggambarkan di Gontor memang tidak mengikuti aliran organisasi manapun, baik NU atau Muhammadiyah. Kisah dalam novel ini masih jauh dari harapanku, namun barangkali akan berbeda jika yang membaca novel ini adalah orang yang tidak pernah mondok atau justru orang Gontor sendiri. Mungkin suatu saat nanti akan kutulis kisah hidupku di Muallimin, ketika aku sudah mencapai impianku kelak. Sedikit pernah kutulis perjalanan singkat selama di muallimin, terekam dalam Majalah Sinar edisi tahun 2006, tulisan itu berjudul “Jeritan Seorang Alumni”.  Masih banyak kisah yang bisa diceritakan, dari tangisan seorang anak baru, berkenalan dengan Mall, menangis di wartel, kenalan dengan santriwati pondok krapyak, kenalan dengan Karen Amstrong di kelas 2 Mts, kahlil gibran,  tasawuf, cerita horor, kisah penganiayaan, PKRM, dan masih buuuaanyak bgt kisah2 yang bisa diceritakan selama di Muallimin. Semoga kelak, bisa ku kembangkan jadi novel juga, setidaknya untuk konsumsi keluarga, hehehe……. Man Jadda Wajadda. Mayong, 8 Rajab 1431.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s