Kebutuhan Informasi Masyarakat Desa

Standard

Indonesia terdiri dari 70.611 desa yang tersebar di 33 Provinsi, masyarakat desa mempunyai andil besar dalam pembangunan negeri, dari desa bahan-bahan pokok diproduksi untuk kemudian di pasarkan di kota dan berbagai daerah. Selain itu tradisi yang kuat turut menjaga kelestarian alam di desa, adat istiadat yang dipegang teguh melekat pada identitas masyarakat desa. Saat ini,  globalisasi telah menembus kehidupan masyarakat desa yang menyebabkan banyak sekali perubahan. Salah satu ciri dari globalisasi adalah keterbukaan akses informasi, dimana informasi dapat dengan mudah diperoleh, kapanpun dan dimanapun. Informasi menjadi hal penting, karena dengan informasi orang akan mendapat semua yang diinginkan, baik itu kesenangan materi maupun non materi. Penyebaran informasi tersebar melalui media cetak dan elektronik, televisi menempati rating tertinggi dalam penyebaran informasi, televisi dapat dinikmati setiap orang bahkan sampai di pelosok desa. Beda dengan koran yang hanya dimanfaatkan oleh kelas ekonomi menengah keatas.   Dari media itulah masyarakat desa dapat memperoleh informasi.

Informasi menjadi kebutuhan bagi masyarakat, tidak terkecuali masyarakat desa. Kebutuhan akan informasi dirasakan akan terus bertambah bagi setiap kali memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap sesuatu. Rasa ingin tahu timbul ketika seseorang ingin menambah pengetahuannya. Menurut Belkin, rasa ingin tahu atau keinginan untuk menambah informasi didorong oleh tingkat pengetahuan yang tidak cukup untuk menghadapi situasi tertentu pada saat itu (Pendit,2003:126).

Masyarakat Desa hidup dalam keterbatasan akses informasi dibandingkan dengan masyarakat perkotaan, mereka juga memiliki kebutuhan informasi, yaitu kondisi yang mengharuskan mereka menambah informasi mengenai sesuatu. Pencarian informasi di desa hanya mengandalkan televisi, itupun baru satu dekade terakhir ini. Media lain seperti internet, buku dan koran jarang ditemui di desa. Selain kesibukan dalam mencari mata pencaharian, fasilitas di desa juga kurang memenuhi. Belum semua desa terdapat fasilitas yang memudahkan akses informasi, menurut Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika Depkominfo, Sukemi terdapat 32 ribu desa blankspot di Indonesia, selain itu ada ratusan desa yang belum dialiri listrik. Tentu hal ini menghambat dalam memenuhi kebutuhan informasi. Pemerintah pernah mencanangkan Desa Informasi untuk mengatasi kesenjangan ketersediaan informasi, karena kebutuhan ini dijamin oleh UUD Pasal 28F. Namun, hanya sedikit desa yang menjadi percontohan, desa informasi  yang menelan biaya  Rp 300.000.000 juta itupun belum menunjukan hasil yang signifikan. Pemerintah juga telah memprogamkan perpustakaan desa sebagai sarana pemasok informasi bagi masyarakat desa. Melalui UU NO 43 tahun 2007, masyarakat desa dijamin memperoleh pelayanan perpustakaan secara khusus dengan membentuk Perpustakaan Desa. Keputusan Menteri Dalam Negeri No 3 Tahun 2001 tentang Perpustakaan Desa/Kelurahan juga memperkuat ladasan hukum berdirinya perpustakaan desa. Dengan adanya instruksi ini pendirian perpustakaan desa dilakukan di berbagai daerah.

Pemerintah Jawa Tengah melalui kepala Badan  Arsip dan Perpustakaan mengatakan bahwa pada tahun 2010 akan didirikan 500 perpustakaan desa. Sebelumnya Pemerintah telah mendirikan 3346 unit perpustakaan desa dari total 8490 desa di Jawa Tengah. Perpustakaan dirasakan masih cukup efektif untuk menyebarkan informasi daripada membentuk Desa Informasi yang menghabiskan dana ratusan juta. Namun, bagaimana perkembangan perpustakaan tersebut?, apakah sudah dapat memenuhi kebutuhan informasi masyarakat desa?. Untuk menjawab pertanyaan ini, akan dibahas salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang terkenal dengan Ukiran dan kerajinan, yaitu kabupaten Jepara.

Kabupaten Jepara memiliki 194 desa yang tersebar di 14 kecamatan. Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Jepara menerangkan bahwa sudah ada 167 desa yang tersentuh program perpustakaan desa. Lebih dari 50% desa di Jepara memiliki perpustakaan, melalui perpustakaan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan informasi. Akan tetapi, informasi yang disediakan di perpustakaan seringkali jauh dari harapan masyarakat, pendirian perpustakaan desa yang top down, memperkecil peran masyarakat dalam mengusulkan kebutuhannya. Sehingga menurut Mustaqim, keberadaan perpustakaan desa tidak dirasakan oleh masyarakat. Hal serupa juga dirasakan di desa Tempur Kabupaten Jepara. Desa Tempur merupakan salah satu desa di Kecamatan Keling yang berada di ketinggian 800 meter diatas permukaan laut (dpl) dengan luas desa 2.416.500 hektare.

Efektifitas pemakaian perpustakaan desa sangat tergantung pada apa yang tersedia didalamnya. Salah satu yang paling dominan adalah sumber informasi yang tersedia. Sumber informasi merupakan merupakan sesuatu yang ditawarkan kepada masyarakat, jika tawaran tersebut tidak menarik apalagi tidak bermanfaat maka masyarakat enggan mengambil tawaran tersebut. Menurut Ninis, Apabila kita mengkaitkan perpustakaan dengan logika pemasaran, maka berlaku prinsip “tidak menjual apa yang kita punya tetapi menjual apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh target klien kita”. Apa yang dibutuhkan oleh masyarakat sebaiknya disediakan oleh perpustakaan, dengan batas kemampuan yang dimiliki.

Dengan demikian menyediakan sumber informasi yang berkualitas disesuaikan dengan situasi dan kondisi pengguna merupakan satu elemen penting. Apabila kebutuhan informasi terpenuhi, tentu saja fungsi utama perpustakaan dapat dipastikan berjalan dengan baik.

2 responses »

  1. Saya ‘cah njeporo’ asli,dari cepogo.
    Saya sangat tertarik dg artikel ini,krn memang fakta dilapangan spt itu adanya. Sy merasa,saat tinggal disana, krg ‘ruang baca’, bahan bacaan saya dpt dari perpustakaan keluarga saja..

    Saat balik lagi ke kampung halaman,saya pengen membuat perpustakaan kampung.. *masih bisa ga ya akses dana apbd kab.jepara?

    • ohh, sama deh, q juga dari njeporo tp mayong, ,,, iyap,, membuat perpustakaan , ide bgus bgt tuh, utk koleksi bisa didapat dari swadaya, sumbngan ato donatur, utk APBD kmgkinan kecil(meski ada bantuan), tpi bisa sj diakses, asal udah ada koleksi awal lbih dulu.., di jepara masih jarang loh,,perpus desa,,,hehehe, sukses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s