BARATAN

Standard

A. Pendahuluan

Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, di berbagai daerah di Jawa mudah kita jumpai ritual sadranan atau nyadran. Keunikan dan nuansa religius magis senantiasa mewarnai ritual-ritual itu. Biasanya, tempat-tempat yang dikramatkan menjadi lokasi kegiatan nyadran ini, terutama makam leluhur atau tokoh besar yang banyak berjasa bagi syiar agama pada masa lampau. Selain nyadran banyak juga tradisi-tradisi yang selalu dilestarikan oleh masyarakat untuk memperlihatkan keutamaan bulan sya’ban. Salah satunya adalah Tradisi Baratan, tradisi yang selenggarakan pada tanggal 15 sya’ban di Kecamatan Kalinyamatan Kabupaten Jepara. Meskipun tidak ada hubungan dengan hal-hal mistis namun atas dasar ingin menghormati warisan leluhur maka tradisi ini diupayakan untuk selalu diselenggarakan setiap satu tahun.  Selain sebagai syiar agama juga berfungsi sebagai daya tarik pariwisata lokal daerah tersebut.

B. Pengertian

Baratan berasal dari kata bahasa Arab baraatan (terbebas) dari dosa. Selain itu ada juga yang berpendapat bahwa Kata “baratan” berasal dari sebuah kata Bahasa Arab, yaitu “baraah” yang berarti keselamatan atau “barakah” yang berarti keberkahan. Mereka memperingatinya dengan cara berkumpul bersama, mengadakan selamatan dengan menyajikan puli, makanan dari ketan. Kata puli konon berasal dari bahasa Arab ‘afwu lii (maafkan aku). Karena acara tersebut dimaksudkan untuk memohon ampunan dari Allah SWT agar terbebas dari dosa.
B. Sejarah

Ada berbagai versi mengenai asal-usul Baratan, belum ada penelitian khusus yang membahas hal ini.  Ada tiga versi sejarah Baratan. Pertama, Sultan Hadirin (Sayyid Abdurrahman Ar Rumi) berperang melawan Aryo Penangsang dan terluka. Kemudian Sang isteri Nyai Ratu Kalinyamat (Retno Kencono) membawanya pulang ke Jepara dengan dikawal prajurit dan dayang-dayang. Banyak desa di sepanjang jalan yang dilewati rombongan diberi nama peristiwa menjelang wafatnya Sultan Hadirin. Salah satu contohnya adalah saat rombongan melewati suatu desa, mendadak tercium bau harum semerbak (gondo) dari jasad Sultan, maka desa tersebut sekarang kita kenal dengan nama Purwogondo.

Kedua, Begitu mempersunting Retno Kencono, dia langsung mendampingi Sang Ratu sebagai Adipati Jepara. Sudah menjadi kebiasaan zaman dulu, pengembara, apalagi suami seorang punggawa, Sultan Hadirin menunggang kuda dengan diiringi para pengawal dalam sebuah perjalanan peperangan. Suatu ketika tibalah dia di Desa Purwogondo (sekarang berada di pusat Kecamatan Kalinyamatan). Tiba-tiba kuda yang ditumpanginya lari kencang menghilang, sehingga para pengawalnya pun kehilangan jejak tuannya. Kemudian dia dicari warga desa menggunakan lampu Impes (lampion), sejenis lampu tradisional seperti lampu teplok dengan bahan bakar minyak. Meskipun malam hari, waktu itu angin malam sangat bersahabat, bahkan nyaris tak ada angin yang biasanya berhembus kencang dari barat. Sultan Hadlirin akhirnya dapat ditemukan hanya dengan menggunakan lampu tradisional tersebut.

Ketiga, menurut para ulama acara adat Baratan tersebut merupakan bagian dari cara para ulama dahulu dalam mengisi keutamaan bulan Sya’ban. Baratan berasal dari kata bahasa Arab baraatan (terbebas) dari dosa. Mereka memperingatinya dengan cara berkumpul bersama, mengadakan selamatan dengan menyajikan puli, makanan dari ketan.

C. Pelaksanaan

Tradisi Pesta Baratan dilaksanakan setiap tanggal 15 Sya’ban (kalender Komariyah) atau 15 Ruwah (kalender Jawa) yang bertepatan dengan malam nishfu sya’ban. Kegiatan dipusatkan di Masjid Al Makmur Desa Kriyan Kecamatan Kalinyamatan. Ritualnya sederhana, yaitu setelah shalat maghrib, umat Islam desa setempat tidak langsung pulang. Mereka tetap berada di masjid  musholla untuk berdo’a bersama.  Mereka membaca surat yasin tiga kali secara bersama-sama dilanjutkan shalat isya berjamaah. Kemudian memanjatkan doa nishfu sya’ban dipimpin ulama /kiai setempat, setelah itu makan (bancaan) nasi puli (lihat gambar 1).

Kata puli berasal dari Bahasa Arab : afwu lii, yang berarti maafkanlah aku. Puli terbuat dari bahan beras dan ketan yang ditumbuk halus dan dimakan dengan kelapa yang dibakar atau tanpa dibakar. Setelah makan nasi puli, masyarakat di desa Kriyan dan beberapa desa di sekitarnya (Margoyoso, Purwogondo, dan Robayan) turun dari masjid / mushalla untuk melakukan arak-arakan (lihat gambar 2). Ada aksi theatrikal yang dilaksanakan seniman setempat, selebihnya diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat dewasa maupun anak-anak. Ribuan orang dengan membawa lampion (lihat gambar 3), mereka bergerak dari halaman masjid Al Makmur Desa Kriyan dengan mengarak simbol Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadirin menuju pusat Kecamatan (lihat gambar 4).

Festival Baratan dimeriahkan oleh pawai anak-anak, maupun orang dewasa dengan membawa mobil-mobilan, terbuat dari bambu dan papan, disampuli dengan kertas warna-warni. Pada atap mobil-mobilan, dibuatkan lubang, fungsinya untuk memberikan jalan asap dari lilin yang dipasang di dalamnya agar tidak membakar kertas yang menghiasinya.. Biasanya penjual mobil-mobilan sudah ada kira-kira seminggu sebelum acara. Harga yang dipatok penjual relatif terjangkau mulai dari 5000-15.000 untuk ukuran kecil dan sedang. Bentuknya pun bervariasi, menyerupai bus, mobil sedan, dan kapal, dan lain-lainnya.. Ini mempunyai kelebihan, bentuknya lebih bagus dan mendetail. Harganya bisa mencapai ratusan ribu, tergantung tingkat kesulitannya. Penjaja ube rampe baratan ini dapat dijumpai di pasar, seperti pasar Mayong, Kalinyamatan, dan Pecangaan.

Secara tidak langsung tradisi ini menggambarkan sebuah persiapan untuk memasuki bulan Ramadhan. Diawali dengan membaca do’a nisyfu sya’ban  kemudian masyarakat diajak memakan puli yang mensimbolkan permohonan ampunan kepada Allah SWT, setelah itu masyarakat  melakukan arak-arakan untuk merayakan /mensyukuri karena akan dipertemukan lagi dengan bulan suci ramadhan. Mereka membawa lampion sebagai alat penerangan yang diharapkan akan penerang dalam hidup sehingga lancar dalam menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Keberadaan Ratu Kalinyamat merupakan  simbol penghormatan pada penguasa saat itu yang menjadi penguasa Jepara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s