Perjalanan

Standard

Perjalanan

Senin pagi, dari rumah aku berangkat ke semarang untuk persiapan perjalananku ke Jogja. Keinginan untuk pergi ke sana sudah ku rencanakan seminggu sebelumnya. Awalnya ada teman yang akan mengambil buku di penerbit Resist, buku itu merupakan sumbangan untuk Taman Baca PC IMM, mengetahui hal itu spontan aku menyediakan diri untuk menemaninya. Aku berniat untuk mencari arsip-arsip Kokam/Pemuda Muhammadiyah yang berkaitan dengan PKI, arsip tersebut rencananya mau kuserahkan ke Prof A Mansur Suryanegara guna melengkapi penulisan buku nya yang kedua. Rencana awal yang hanya dua orang bertambah menjadi empat orang dengan mengajak Bidang keilmuan yang lain, dengan begini akan  mempererat persahabatan/tim, aku, Rona, Subhan dan Hasan.  Lalu kami berempat bertolak dari semarang pukul 10 pagi, dalam perjalanan kami terus dipayungi langit berawan, harapan terbesar kami adalah tidak hujan, sehingga perjalanan menjadi lancer. Ketika akan berangkat kita sepakat untuk jalan santai, tidak terlalu kencang, tapi yang namanya udah dijalan, kecepatan 80/km tidak terasa, kami terus kebut-kebutan. Alhamdulillah sampai di Jogja jam 12.35. Tujuan pertama kami adalah resist book. Penerbit yang paling radikal ini ternyata tidak memiliki gedung yag besar, lokasi nya berada di tengah perkampungan di jl Magelang, sesampainya disana kami langsung bersitirahat sambil melihat koleksi buku, kaos dan pin yang dipajang di etalase, sembari menunggu orang yang kami cari, namnya Titis, kami memanggilnya mbak titis, orangnya asik dan supel. Akhirnya mbak titis datang, dia baru saja dari warung untuk makan siang, kami ngobrol sebentar sambil disiapkan buku-buku yang mau disumbangkan, dalam obrolan itu mbak titis menawarkan pada kami untuk menjualkan buku di Muktamar IMM, dengan sedikit pertimbangan kesempatan itu kami ambil, lumayan siapa tahu dapat untuk ongkos pulang.  Buku telah siap dan untuk penyerahannya kami minta mbak titis untuk foto bareng, ah ternyata dia malu-malu dengan alas an gak mau narsis, dia eyel-eyelan dengan temannya, kemudian mbak titis minta temannya untuk menyerahkan buku itu.

Selanjutnya perjalanan kami menuju base camp IMM UNY, IMM UNY cukup besar kader yang dimiliki banyak dan sepertinya system pengkaderannya cukup mapan. Dalam perjalanan ku bayangkan base camp itu seperti  rumah kontrakan yang dihuni oleh anggota IMM, bayanganku buyar ketika sampai di sana ternyata base campnya adalah TK Aisyiah busthanul athfal.TK itu cukup besar mempunyai empat kelas, ruangannya diwarnai dengan pernak-pernik hiasan khas anak-anak, sama sekali tidak menyiratkan kesan bahwa itu adalah base camp para aktivis IMM, barangkali menurut analisaku, ini adalah gambaran dari karakter IMM UNY yang halus dan tidak radikal, paling tidak mereka enggan untuk berdemo dan aktivitas politik lainnya, ah ini hanya pikiran sekilas aja. Kami disambut oleh salah satu teman disana, samba istirahat, sholat, cuci muka, temanku Rona keluar untuk membeli peralatan penelitian di UGM.  Jam sudah menunjukan pukul 3 sore dan Allah sedang malukiskan warna hitam pada langit Jogja. Rencana yang ku ketahui kami akan nginap di Jogja satu malam, selain agar lebih santai kebutuhan yang ku cari juga belum dapat, namun teman yang lain nampaknya tidak setuju dan ingin pulung hari itu juga. Huuuf, baiklah, kataku, karena kita berangkat bersama kita juga harus pulang bersama. Karena kita harus pulung pada malam itu juga, maka kami menghapus beberpa tempat yang akan kami kunjungi. Prioritas kami adalah berziarah ke makam KH A Dahlan dan ke Piyungan. Hujan semakin lebat awan itu tak mau menyingkir dari langit jogja, kami menunggu beberapa menit. Hujan pun sedikit demi sedikit berhenti, tapi tetap awan it uterus berdatangan dari arah utara.

Kami langsung berangkat menuju makam KH A Dahlan, kami semua tidak tahu tempatnya, ku kira di sekitar Masjid Gedhe , kami pun kesana. Perjalanan kami ke Masjid Gedhe Kauman dihantui oleh awan gelap yang bergelantungan di langit. Sesampainya di stasiun tugu mendadak awan-awan itu tidak kuat menanggung beban air yang ada lantas menumpahkannya begitu saja tanpa ada sebuah ritme. Kami berempat langsug menepi dan secepatnya memakai jas hujan yang sebelumnya sudah kami persiapkan, untungnya masing-masing mempunyai jas hujan, aku sendiri mengenakan jas hujan warna kuning pemberian Mas Haris, jas hujan baru yang sering dipakai para pekerja industry. Dengan memakai jas hujan kami menuju masji Gedhe, yang kami perkirakan makam KH A Dahlan ada disana. Sepanjang malioboro hujan sangat deras, ada pemandangan asyik yang baru kutemui di Jogja, yaitu rentetan patung wajah dan satu patung orang yang sedang berfikir serius/filosof namun berwajah pribumi dengan menggunakan blankon, sayangnya saat itu kondisi hujan dan kami tidak sempat memfotonya. Sampailah kami di masjid gedhe.Kami sangat yakin makam KH A Dahlan ada di belakang masjid, sampai temen ku, Rona menanyakan letak pastinya makam KH A Dahlan, ternyata kami semua keliru, makam beliau ada di Karangkajen. Kami diarahkan ke SMP Muhammadiyah 9. Ah ternyata kami salah tempat, selain itu resleting  jas hujan yang ku pakai  rusak, tidak bisa dibuka, aku dan hasan mencoba memperbaikinya, sampai kami menyerah dan membiarkan jas huja itu tetap rusak, jadi kalau mau melepas caranya seperti melepas kaos.

Hujan masih turun dengan deras, taspi tekad kami untuk berziarah ke Makam KH A Dahlan tidaklah surut justru semakin menguat. Tekad kami sudah bulat untuk berziarah ke Makam orang terhebat dalam Muhammadiyah ini, hujan deraspun tidak kami hiraukan.

Kamipun berangkat ke SMP Muhammadiyah 9, sampai disana kami bertanya kepada Salah satu warga. Orang itu menunjukan arah makam di sebelah barat, akhirnya kami menemukan makam tersebut. Makam itu terletak di sebuah komplek pemakaman karangkajen untuk menuju kesan sama sekali tidak ada petunjuk-petunjuk selain papan berukuran 50×20 cm yang menunjukan lokasi makam Pahlawan nasional KH A Dahlan. Motor kami parkir di masjid, meskipun saat itu masih hujan kami tetap nekat masuk ke makam dengan mengenakan jas hujan. Kami pun tiba di depan KH Ahmad Dahlan.

Ahmad Dahlan, seorang khalifatullah fil ardh, wali Allah yang ikhlas berjuang untuk kejayaan Islam dan menciptakan masyarakat yang sejahtera, namanya tenar seantero jagad, gerakan yang ia wariskan sampai saat ini masih ada dan eksis, bahkan sudah berusia 100 Tahun. Muhammadiyah yang didirikan KH A Dahlan saat ini mempunyai ribuan sekolah, ratusan panti asuhan, rumah sakit, perguruan tinggi, dan puluhan pondok pesantren.  Organisasi tertua di bumi pertiwi ini lahir dari seorang Ahmad Dahlan sosok revolusioner saat itu, pemuda yang cerdas, berani dan sederhana. Sosok sederhana ini masih terlihat sampai beliau meninggal dunia, hingga saat ini, makam beliau yang terletak di Makam Karangkajen, Yogyakarta jauh dari seorang  tokoh pahlawan yang lain, hanya asepetak tanah yang diberi batas semen dan ditumpuk batu-batuan. Tanpa ada payung dan bangunan yang lain, makamnya pun menyatu dengan makam-makam yang lain.  Dibawah derasnya hujan kami membaur dengan suasana ketenangan dan kezuhudan. Di makam seperti inilah kami akan kembali.

Pikiran dan hati kami menyatu dengan spirit perjuangan Sang Kyai. Semangat Kyai untuk menyebarkan Islam yang murni dan berkemajuan memenuhi ruang pikiran dan relung hati yang terdalam, bagaimana saat itu kyai dapat mendirikan Muhammadiyah, apakah dia tahu organisasi yang dibuatnya akan bertahan sampai sekarang?kawan-kawan beliau sudah gagal, hanya Nahdhatul Ulama saja yang masih bertahan, Boedi Utomo, Sarekat Islam, Tamansiswa semua telah gulung tikar. Hal ini menjadikan muhammadiyah sebagai organisasi tertua di Indonesia.  Aku berkata dalam hati “ Kyai Dahlan, mengapa kau tega membentuk muhammadiyah tapi kau tak pernah menulis buku tentang pikiranmu?, lihat saat ini apa yang terjadi, banyak orang yang menafsirkan pikiranmu melalui perbuatan yang kamu lakukan, sialnya banyak versi tentang itu dan seringkali mereka bertentangan satu dengan yang lain. Sekarang engkau memiliki sekolahan, rumah sakit, panti asuhan, pondok pesantren, dan universitas, lengkap sudah semua instrument Negara, kecuali ekonomi, untuk yang satu ini Muhammadiyah masih lemah, hai kyai sekarang kau kaya raya, tapi aku tidak tahu apakah kekayaan itu juga mencerminkan kekayaan amal sholeh, amal yang ikhlas? Atau jangan-jangan amal usaha tersebut merupaka ladang bisnis semata yang didalamnya terdapat para manusia rakus yang tidak berani berkorban???”. Aku diam sejanak ku coba untuk meresapi jiwa KH A Dahlan saat itu, kutatap tajam batu nisan yang ada di depanku, terpampang jelas di situ tertulis “KH Ahmad Dahlan”

Air hujan terus membasahi tubuhku yang sudah terbalut dengan mantel, udara dingin serta suara rintik hujan kembali membawaku ke alam sunyi, lali aku berkata dalam hati “Ya kyai banyak sejarah yang telah di goreskan Muhammadiyah, namun dalm setiap goresan itu selalu menggunakan tinta dan bulpoin yang berbeda, serta bentuk goresan yang berbeda pula. Saat ini ,kau tahu, ada Muhammadiyah Fanatik, Liberal, fundamental, Sufi, Kristen, dan moderat, coba kau lihat inilah sebabnya karena kau tidak membuat semacam buku panduan bermuhammadiyah serta tidak kau tuliskan cita-cita mu dalam sebuah karangan”. Ingin rasanya mata ini mengeluarkan butiran air mata, tapi aku takut hal nin termasuk dalam meratapi engkau, sebuah hal yang tentu engkau tidak suka.  Tapi aku yakin bahwa engkau bukanlah seorang a yang berpikiran pendek, aku tahu kau pasti berikir ke depan untuk Muhammadiyah, masa depan Muhammadiyah dan tentunya masa depan Islam. Kau pernah berkata “ Muhammadiyah di Indonesia ini bisa saja hilang namun Islam tidak akan pernah hilang dari Indonesia”

Kau juga pernah berkata “Jadilah dokter, insiyur, master, guru, dan lain-lain tapi kembalilah ke Muhammadiyah” kata-kata mu itu menandakan bahwa kau yakin suatu saat Muhammadiyah akan semakin besar  dan kebesaran muhammadiyah membuthkan tenaga ahli2 yang banyak. Kau juga pernah berpesan “Yen durong wani mbeset kulite dewe durong Islam Sejati”, seharusny a ini yang melandasi akhlak para anggota muhammadiyah.

Nampaknya aku harus segera menyudahi keberadaanku di makam karangkajen, waktulah yang membatasi pertemuan kami dengan KH A Dahlan, kami harus segera beranjak ke tempat lain sebelum magrib tiba, tetesan hujan masih membasahi tanah Jogja, kami pun pamit dengan Sang Kyai, kami harap banyak kader yang mau berziarah ke makam mu, bukan untuk meminta berkah atau mengharap sesuatu padamu, namun untuk menggali semangat perjuanganmu. Selama ini banyak orang yang mengaku kenal dengan mu, mereka bicara atas nama mu dengan berbagai teori yang dia yakini , tapi sayangnya mereka belum pernah pergi menemuimu secara langsung, yang mereka andalkan hanya nalar pikiran dan dahaga intelektual yang memcu mereka berpikir tentang dirimu. Namun ketika diminta berkorban untuk perjuangan mereka akan berpikir ulang.  Wahai kyai aku takzim padamu, aku malu berada di makam mu, aku yang penuh dosa ini malu melihat wajahmu, Ya Allah ampunilah aku, berilah balasan yang setimpal dengan apa yang diperbuat KH A dahlan selama masih hidup, semoga Engkau menggolongkannya termasuk dalam hamba yang muttaqin.

Kami pun pergi meninggalkan makam Kyai, dengan mengingat kalimat yang selalu ada di meja tulis beliau “Maut adalah suatu bahaya yang besar, tetapi lupa kepada maut adalah bahaya yang lebih besar. Maka bersiap-siaplah menghadapi maut dengan menyelesaikan urusanmu dengan Allah dan urusanmu dengan manusia”. Billahi fi Sabilillhaq, Fastabiqulkhairat. Alhamdulillahirabbil alamin…Arqom -29 -1-10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s