Pelanggaran Etika Dalam Perpustakaan

Standard

Etika berasal dari kata Yunani “ethos” yang berarti watak kesusilaan atau adat. Identik dengan perkataan moral yang berasal dari kata latin “Mos” yang dalam bentu jamaknya “mores” yang berarti juga adat atau cara hidup. Secara istilah etika adalah suatu ilmu yang membicarakan masalah perbuatan atau tingkah laku manusia  mana yang dapat dinilai baik dan mana yang jahat.

Etika sebagai suatu ilmu, merupakab salah satu cabang dari filsafat. Sifatnya praktis, normatif dan fungsional sehingga dengan demikian merupakan suatu ilmu yang langsung berguna dalam pergaulan hidup sehari-hari. Etika juga dapat menjadi asas dan menjiwai norma-norma dalam kehidupan, di samping sekaligus memberikan penilaian terhadap corak perbuatan seorang sebagai manusia.  Etika berfungsi untuk mengatur hubungan dengan orang lain atau dengan yang  “lain”.

Dalam kehidupan sehari-hari manusia akan berinteraksi dengan orang lain atau bergaul dalam lingkungannya, dan seringkali jika ada orang yang melakukan perbuatan tercela maka orang tersebut dikatakan bahwa orang tersebut tidak bermoral atau tidak punya etika. Begitu juga sebaliknya jika ada orang yang berbuat baik maka orang tersebut dikatakan memiliki etika atau bermoral.

Di setiap tempat, wilayah  atau ruang lingkup memiliki etika sendiri-sendiri, hal ini berdasarkan nilai-nilai yang ada dalam wilayah tersebut.  Etika yang dianggap baik di suatu wilayah menjadi tidak baik di wilayah lain, meskipun  ada juga etika yang dianggap sama.

Bagi masyarakat Indonesia etika sangat dijunjung tinggi apalagi masyarakat Jawa. Orang akan mudah dinilai dari etika nya terhadap orang lain. Etika dalam masyarakat menjadi sebuah aturan yang tidak tertulis dan harus di patuhi. Hal ini menjadi ciri khas masyarakat Indonesia. Etika ini juga berada di berbagai tempat publik , seperti:perpustakaan,  sekolah, kampus, mall, pasar, dan sebagainya.

Perpustakaan sebagai tempat belajar dan mencari sumber informasi memiliki etika tersendiri. Sebagaimana kita ketahui, perpustakaan menjadi tempat berkumpul bagi orang-orang yang ingin mencari buku dan membacanya, maka dibutuhkan ketenangan dan kenyamanan, maka disana ada etika untuk tidak berteriak-teriak dan membuat gaduh suasana. Buku-buku yang disimpan di perpustakaan merupakan koleksi dan kekayaan bagi ilmu pengetahuan, keberadaan nya sebagai warisan bangsa sangat dibutuhkan oleh generasi mendatang, maka perlu kondisinya perlu terjaga agat tetap awet dan tahan lama, maka etika nya adalah tidak boleh menyobek, merusak dan mencuri buku.

Namun banyak orang yang melakukan pencurian buku, atau pun berbuat semaunya di perpustakaan tanpa peduli dengan keadaan sekitarnya. Ada beberapa sebab yang membuat orang melanggar etika, yaitu:

  1. Ketidaktahuan

Orang yang tidak tahu tentang etika disuatu masyarakat akan berbuat sesuai dengan apa yang biasa dilakukan. Misalnya: mahasiswa baru yang jarang mengunjungi perpustakaan suatu saat datang ke perpustakaan universitas  untuk pertama kali, dengan santainya dia masuk perpustakaan dengan segerombolan temanya dan ngobrol dengan suara yang kencang di dalam perpustakaan.

  1. Keterpaksaan/kebutuhan

Terkadang seseorang sudah mengetahui mengenai suatu etika yang ada dalam perpustakaan. Akan tetapi karena terdesak kebutuhan akhirnya dia melanggar etika tersebut. Misal : Seorang mahasiswa yang membutuhkan suatu bahan, namun saat itu dia tidak memiliki uang untuk mengcopy, atau tidak mempunyai kartu pinjam, akhirnya dia menyobek bagian buku yang dibutuhkan atau mencuri buku itu.

  1. Tidak percaya dengan nilai-nilai

Etika merupakan kumpulan nilai yang diangkat untuk menjadi sebuah pedoman bagi kehidupan manusia. Pedoman itu dijunjung tinggi untuk mendapatkan keharmonisan dalam kehidupan, namun terkadang adanya etika tersebut tidak membawa dampak terhadap keadaan sekitar sehingga mulai muncul anggapan jika etika sudah tidak berguna lagi. Misal: Di dalam perpustakaan yang terdapat banyak bahan kertas dan orang-orang yang belajar sangat tidak baik jika ada orang yang merokok. Namun karena ada beberapa petugas yang merokok, maka beberapa mahasiswa pun ikut merokok  di ruangan perpustakaan.

Demikian penyebab terjadinya pelanggaran etika di perpustakaan. Terimakasih

2 responses »

  1. tulisan yang menarik mas Isa..
    namun, saya ingin bertanya bagaimana seharusnya sikap seorang pustakawan ketika menghadapi adanya sensor atau larangan terhadap suatu bahan pustaka oleh pemerintah, padahal di sisi lain kan harus ada keterbukaan informasi publik, bagaimana menurut mas..
    trim’s🙂

    oyaa mampir juga ke blog saya
    http://suryadiachmad.wordpress.com/😀

    • Terimakasih mas Suryadi,,
      Larangan atau sensor terhadap materi informasi seperti buku itu dilakukan Pemerintah demi kepentingan negara. Setiap pengetahuan memang bebas dipelajari, tapi itu dalam ranah individu, namun jika sudah menjadi konsumsi umum, akan lain soal. Misalnya begini, saya mau belajar ilmu santet, maka saya baca buku-buku mantra kuno , nah Pemerintah tidak bisa melarang saya untuk melakukannya, karena sifatnya masih individu. Tapi kalau itu saya terapkan misal di sekolah dan saya sebarlaskan bebas, maka ini bakal dilarang. Buku2 yang disinyalir dapat mengganggu pola pikir, meresahkan, lemah argumen dan merusak tatanan masyarakat akan di batasi/disensor oleh pemerintah.
      Ada hal menarik mas, di Perpustakaan yang ada koleksi “RHS” ternyata masih boleh utk dibaca, ya kan? misal buku soal serat centini, yang berisi soal bagaimana hubungan seks di zaman jawa kuno, buku ini boleh dipinjam tapi terbatas untuk usia tertentu..
      hehehe,, semoga bermanfaat,,🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s