Urgensi Taman Bacaan

Standard


Oleh : M Isa Thoriq A

Baca ! baca ! baca ! Tulis ! tulis! tulis!, itulah pesan Taufik Ismail kepada Organisasi Pelajar Muhammadiyah (IPM) beberapa waktu yang lalu. Pesan singkat itu begitu mendalam dan menyentuh aspek fundamental dalam sebuah peradaban bangsa. Membaca merupakan suatu proses sadar manusia dalam memahami dan mengurai informasi yang ada disekitar. Buku, dalam hal ini berisi mengenai informasi yang ada disekitar kita. Dengan membaca buku berarti kita mencoba memahami dan mengurai informasi yang ada dalam buku. Oleh karena itu budaya membaca merupakan modal dasar bagi perkembangan sumber daya manusia di Indonesia.

Budaya membaca di Indonesia tergolong masih lemah, hal ini disinyalir disebabkan oleh beberapa masalah seperti : harga buku, kuatnya pengaruh televisi, tidak ada dorongan dari orangtua dan kurangnya akses terhadap buku. Disinilah peran Pemerintah sebagai penyelenggara kehidupan bernegara untuk tampil menjadi pendorong dan mendukung penuh perkembangan budaya membaca di masyarakat.
Pemerintah sebenarnya sudah melaksanakan upaya untuk meningkatkan motivasi membaca di tengan masyarakat, melalui perpustakaan keliling, bimbingan terhadap perpustakaan di berbagai tempat. Hal ini ternyata tidak cukup, maka muncul lah komunitas baca yang biasa disebut dengan taman bacaan dan  disponsori oleh swadaya masyarakat. Dengan adanya Taman Bacaan  tugas Pemerintah menjadi lebih ringan, karena selama ini Taman Bacaan diketahui lebih kreatif dan lebih mudah diterima di tengah masyarakat.

Namun, beberapa minggu  terakhir Pemerintah momotong separuh anggaran untuk Taman Bacaan, entah apa pertimbangan Pemerintah sampai tega mengurangi anggaran untuk hal yang begitu penting, membaca!.

Taman Bacaan biasanya berada di tengah komunitas masyarakat desa atau pinggiran kota, peran Taman Bacaan sebagai alternatif bagi anak yang tidak mampu sekolah dan pemuda desa yang memiliki akses terbatas bagi pendidikan merupakan peran vital yang harus disadari oleh Pemerintah, keberadaan taman bacaan seperti sebuah oase ilmu di tengah gurun kapitalisme pendidikan yang materialistis. Para pelaku mempunyai semangat perbaikan dan pemberdayaan yang luar biasa jika dibanding dengan anggota DPR yang hanya tidur ketika rapat.

Apakah buku hanya bisa dinikmati oleh segelintir manusia kaya? Padahal  kita selalu berslogan “Bersama Kita Bisa”, bagaimana bisa bersama kalau buku tidak dapat dinikmati oleh semua orang.  Dipelosok desa, dipinggiran kota anak-anak dan pemuda sibuk dengan pola hidup meniru –niru masyarakat hedonis,  mereka menjadi tawanan kapitalisme dalam berbagai aspek termasuk ilmu. Alangkah merana peradaban manusia jika tidak mempunyai budaya membaca dan sibuk dengan iklim hedonis yang menyesakan dada.

Mari kita contoh pendahulu kita, M Natsir, sorang pejuang, politikus, dan  penulis handal yang menguasai 7 bahasa, beliau berkata bahwa untuk dapat menulis kita harus banyak membaca. Pejuang yang tidak pernah sekolah formal ini membuktikan bahwa dengan membaca kita dapat mengangkat martabat bangsa. Sungguh memalukan ketika HDI (Human Development Indeks) Indonesia termasuk rendah diantara negara-negara ASEAN (Kompas, 8 Desember 20007)

Sekali lagi, Pemerintah seharusnya sadar akan pentingnya budaya membaca dan mencintai ilmu. Banyak bukti yang menunjukan bahwa kebangkitan negara diawali dengan menanamkan nilai keilmuan dan membentuk budaya membaca dalam masyarakat. Jika Pemerintah terus menerus mengabaikan hal ini, maka Indonesia hanya akan dipenuhi oleh orang –orang beringas, rakus dan sombong.31-12-2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s