Urgensi Arsip Dalam Konteks Kebangsaan

Standard

A Government without archives  would be something like a warriors without weapons, a physician without medicines, a farmer without seed an artisan without tool

( Richardo J Alfaro

Former President Of Panama, at a Society Of American Archivist Meeting, 1937)

A. Wacana Disintegrasi Bangsa

Dewasa ini banyak fenomena yang mengarah kepada disintegrasi bangsa, hilangnya kepercayaan rakyat kepada Pemerintah akibat anomali sosial dan ketegangan antar elit politik akan menyebabkan pergolakan dalam struktur sosial dan berujung pada konflik golongan yang lebih dalam dan menyebar luas seperti konflik kelas (Eisenstadt, SN,1986 :3). Kita dapat melihat fenomena tesebut melalui berbagai media, minyak tanah yang langka, bahan pokok naik, bensin naik, pemadaman listrik, konflik horisontal antar daerah, dan usaha-usaha untuk lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) seperti GAM, OPM dan RMS.

Fakta berbicara bahwa bangsa ini adalah Negara yang memiliki kumpulan suku paling heterogen sedunia, ratusan suku, ratusan bahasa daerah dan bahkan ratusan ribu pulau. Lemahnya Nasionalisme akan mengancam NKRI dan sekejap saja bumi pertiwi pecah berkeping-keping. Masih terngiang dibenak kita runtuhnya negara super power Uni Soviet, ironis dan tragis karena tidak satupun pernah meramalkan runtuhnya super power ini. Si negara super power mendadak goncang dan terpecah menjadi 15 negara merdeka (Forum Keadilan, No 44 10 Maret 2008).

Ditambah lagi dengan tertangkapnya koruptor –koruptor kelas elit mulai dari Gubernur, mantan Kapolri, hingga penangkapan Jaksa dan DPR. Kondisi ini diperparah dengan hilangnya kepercayaan rakyat kepada partai politik, karena partai politik sibuk menyelesaikan konflik internal ditubuhnya, partai juga lebih banyak mencurahkan perhatianya untuk menghadapi pemilu 2009 dan merebut kekuasaan di daerah melalui Pilkada (Kompas, 21 April  2008). Begitu Ironisnya negeri ini, negara yang kaya raya akan sumber daya alam namun tidak bisa menikmati kekayaannya. Kendati demikian dalam kondisi seperti ini masih ada modal untuk merubah kondisi bangsa. Modal itu adalah Nasionalisme dan Solidaritas Sosial (Kompas, 5 April 2008).

Karena Indonesia terdiri dari masyarakat yang heterogen maka keheterogenitasan itu dapat diintegrasikan dengan rasa nasionalisme. Rasa memiliki bangsa ini akan menjadikan kita sadar  bahwa kehidupan sejahtera akan terwujud jika semua elemen masyarakat bersatu untuk memajukan Indonesia.

Nasionalisme adalah rasa kebersamaan segolongan sebagai suatu bangsa (Utomo, Cahyo, Budi, 1995 :20). Menumbuhkan jiwa nasionalisme dalam setiap pribadi warga negara menjadi alternatif dalam upaya pengintegrasian bangsa. Arsip sebagai endapan informasi bangsa mempunyai andil yang cukup signifikan untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme, posisi arsip sebagai salah satu sumber khazanah sejarah bangsa membuat arsip menempati posisi vital.

Dalam Undang-undang Pokok Kearsipan(UUPK) mengenai tujuan kearsipan disebutkan bahwa tujuan kearsipan adalah untuk menjamin keselamatan bahan pertanggungjawaban nasional tentang perencanaan, pelaksanaan dan penyelenggaraan kehidupan kehidupan kebangsaan serta untuk menyediakan bahan pertanggungjawaban tersebut bagi kegiatan Pemerintah. Arsip sebagai bahan pertanggungjawaban nasional artinya setiap peristiwa atau kegiatan akan menimbulkan arsip. Semua jejak rekam perjalanan bangsa ini direkam oleh arsip. Semua kegiatan akan dipertanggungjawabkan. Apabila tidak ada bahan pertanggungjawaban maka Pemerintah dianggap tidak transparan dan otoriter, yang berakibat pada hilangnya serpihan sejarah sebuah bangsa dan perpecahan.  Maka, meminjam istilah Djoko Utomo bahwa arsip merupakan memori kolektif bangsa, jika bangsa ini sudah tidak peduli dengan arsip maka bangsa tersebut akan mengalami sindrom amnesia kolektif. Apabila amnesia kolektif ini tidak segera diobati bangsa akan melenceng dari jalur yang benar dan berakibat pada krisis kepercayaan kepada Pemerintah.  Fungsi arsip sebagai sumber sejarah, bukti hukum, bukti administrasi, bukti ilmiah dan bukti peradaban sangat dilindungi oleh berbagai negara, bahkan arsip diatur oleh konvensi Internasional yaitu konvensi Den Haag tahun 1954 yang mengatur perlindungan arsip dari konflik bersenjata dan perang, adapula konvensi Wina tahun 1983 mengenai suksesi negara dan arsipnya.

B. Arsip dan Integrasi Bangsa

Arsip dalam konteks kebangsaan memiliki posisi sebagai endapan memori bangsa yang dapat dimanfaatkan untuk merangkai sejarah perjalanan bangsa, menjaga stabilitas keamanan dan politik, serta sarana pencarian identitas bangsa. Andaikan ketiga poin yang disebutkan dapat bersinergi maka integrasi bangsa akan terbangun dengan kokoh.

1. Merangkai Sejarah Perjalanan Bangsa

Menurut definisi yang paling umum kata history kini berarti “masa lampau umat manusia”. Sejarah sebuah bangsa patut diketahui oleh semua masyarakat, supaya masyarakat tidak terjebak dengan kekinian dan tidak mempunyai referensi untuk melangkah ke depan. Begitu banyak hal yang dapat kita gali dari sejarah. Sejarah perjalanan bangsa diperlukan untuk menemukan nilai-nilai peradaban yang telah terkubur oleh waktu.

Sejarah dapat diketahui hanya melalui rekaman daripadanya, atau bisa disebut sumber. Sumber-sumber tulis dan lisan dibagi  atas dua jenis yaitu: sumber primer dan sumber sekunder. Sumber Primer adalah kesaksian dari seorang saksi dengan mata kepala sendiri atau dengan panca indra yang lain, atau dengan alat mekanis yang merekam peristiwa yang diceritakan. Sumber Sekunder merupakan kesaksian daripada siapa pun yang bukan merupakan saksi yang mengetahui dengan panca indra secara langsung, yakni dari seorang yang tidak hadir pada peristiwa yang diceritakan.

Arsip sebagai sumber sejarah bisa bersifat primer atau sekunder, semakin lengkap arsip yang tersedia maka semakin mudah dan akurat dalam penulisan sejarah, sebaliknya jika arsip yang tersedia sangat sedikit maka akan semakin sulit  dalam penulisan sejarah.

2. Menjaga Stabilitas Keamanan dan Politik

Peran arsip sebgai sebuah rahasia dapat menjadi alat untuk memicu terjadinya kekacauan  dalam masyarakat. Arsip mempunyai dua sifat terbuka dan tertutup. Sifat ini didasarkan pada isi informasi yang terkandung didalamnya. Yang dimaksud terbuka adalah arsip tersebut mengandung informasi yang dapat menimbulkan efek berskala luas dan tidak menyangkut kepentingan sebuah instansi atau perseorangan. Sedangkan yang dimaksud tertutup adalah arsip tersebut mengandung informasi yang dapat menimbulkan efek berskala luas dan menyangkut kepentingan sebuah instansi atau perseorangan. Arsip yang bersifat terbuka dapat diakses oleh semua orang dengan berbagaia tujuan. Namun arsip yag bersifat tertutup tidak dapat diakses oleh sembarangan orang, apabila arsip tertutup diakses oleh sembarangan orang maka akan menimbulkan permasalahan politik dan keamanan. Ada dua kasus yang dapat dijadikan contoh, yaitu:

a. Kasus Arsip Tragedi ‘65

Ketika berbicara mengenai tragedi tahun 1965 memori kita akan masuk ke dalam zaman pemberontakan PKI dan suasana negeri yang hampir runtuh. Suasana politik Indonesia yang runyam oleh kudeta militer dan konflik antar elit ini membawa korban yang tidak sedikit. Rakyat sipil yang tak berdosa menjadi korban atas kepentingan elit politik saat itu.

Selama ini yang diketahui oleh masyarsakat umum hanya sejumlah orang yang menculik beberapa perwira militer Angkatan Darat. Serta terbunuhnya 7 perwira dan seorang putri Jenderal Nasution. Padahal tragedi pada tahun ’65 bukan hanya itu. Ada tragedi lain yang tidak kalah dahsyat, yakni dibunuhnya ratusan ribu warga masyarakat Indonesia  beberapa saat setelah terjadinya peristiwa pembunuhan para perwira militer.

Beberapa tahun terakhir ditemukan bahwa CIA ternyata mempunyai peran dalam membuat kekacauan di Indonesia termasuk dalam tragedsi ’65.  Arsip mengenai campur tangan CIA tersimpan rapi di Amerika. Pemerintah Amerika melakukan kelalaian dengan membuka arsip tersebut hingga banyak sejarawan yang mengaksesnya. Baskara T Wardaya menulis dalam buku berjudul Bung Karno Menggugat ! Dari Marhaen, CIA, Pembantaian Massal ’65 hingga G30S :

Melihat semakin jelasnya keterlibatan Amerika Serikat, tidak mengherankan bahwa pada tahun 2001 lalu CIA dan Pemerintah Amerika Serikat bersusah payah menarik kembali publikasi sejumlah dokumen dalm serial Foreign Relations Of the United States yang berkaitan dengan keterlibatan itu.

Adajuga permasalah yang berkaitan dengan arsip dan sampai sekarang belum ditemukan titik keluar, yaitu kasus Supersemar. Hingga saat ini terdapat 3 arsip yang diklaim sebagai Supersemar. Hingga detik ini naskah asli supersemar tidak ketahuan rimbanya, beberapa orang mengaku pernah melihat naskah aslinya (Pambudi,A, 2006:10).

b. Kasus Barrack Obama

Seorang pegawai kontrak Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dipecat gara-gara mereka lancang melihat-lihat arsip paspor calon kandidat  Presiden dari Partai Demokrat Barack Obama (Suara Merdeka, 22 Maret 2008). Kejadian tersebut langsung mendapat respon dari pihak Obama dengan menuduh George W Bush melakukan pelanggaran diluar batas privasi. Kasus lain juga pernah terjadi pada tahun 1922, ketika itu personil Departemen Luar Negeri Amerika serikat membuka paspor kandidat Presiden Bill Clinton, yang kemudian dijadikan bahan serangan Republik terhadap Clinton.

Arsip-arsip mengenai hal diatas  sebenarnya harus disimpan dengan penjagaan yang ketat, arsip ini bersifat tertutup jadi tidak boleh sembarangan orang menggunakannya, apabila arsip ini disalahgunakan maka dapat menggangu stabilitas politik.

3. Sarana Pencarian Identitas Bangsa

Arsip sebagai rekaman peristiwa yang memotret kehidupan dan peradaban masa lalu menjadi alat untuk menemukan identitas bangsa. Bangsa Indonesia yang beraneka ragam dengan corak ketimuran sudah terkenal sejak dulu sebagai masyarakat yang ramah dan santun. Masyarakat Indonesia juga digolongkan dalam masyarakat melayu. Sudah seharusnya menjaga identitas ketimuran yang dekat dengan budaya melayu. Untuk mempelajari budaya diperlukan arsip-arsip yang berisi tentang sejarah  melayu. Apabila sumber-sumber sejarah melayu sudah tidak ada maka akan sulit untuk menemukan identitas kita. Naskah-naskah yang berisi sejarah melayu kini semakin banyak diburu untuk diperjualbelikan dengan harga tinggi (Kompas, 24 Maret 2008). Apabila dibiarkan maka kita semakin tidak menghargai warisan budaya dan kehilangan identitas jatidiri bangsa.

C. Refleksi Kearsipan Indonesia

Sudah 10 tahun reformasi berlalu, setelah bangkit dari krisis multidimensioanal  Indonesia mencoba bankit dengan membawa semangat perbaikan di segala lini. Demokrasi yang santer digulirkan oleh para tokoh membuat Indonesia harus bergelut dengan mata rantai demokrasi yang membawanya menuju arus globalisasi. Perekonomian bebas yang diusung oleh negara neoliberalis membuat perekonomian Indonesia menurun, walupun pada sektor makro meningkat tapi masih banyak dijumpai buruh dengan gaji minim dan pengangguran dimana-mana.

Pemberantasan Korupsi yang semakin hari semakin didengungkan menyeret para para pelaku ke meja hijau, aparat birokrasi gencar mensosialisasikan slogan good government. Perubahan seakan terjadi diberbagai tempat, namun bagaimana dengan kearsipan ? apakah kearsipan juga mengalami reformasi ? mengapa masih banyak orang yang menganggap remeh arsip?

Sekiranya dunia kearsipan memang banyak mengalami perubahan, dalam struktur keorganisasian sudah berubah sesuai dengan otonomi daerah, dalam hal pegawai sudah ada perubahan dengan adanya tunjangan arsiparis, dalam hal keilmuan sudah mulai dirintis pendidikan sarjana untuk di beberapa universitas, dalam hal hukum sudah digulirkannya wacana amandemen UUPK(undang-undang pokok kearsipan) dan disahkanya UU Transparansi dan Kebebasan Memperoleh Informasi Publik, dalam hal sosialisasi sudah mulai dilaksanakan kegiatan wisata arsip yang melibatkan masyarakat luas. Perkembangan ini patut diapresiasi oleh berbagai pihak, tanpa menampik kekurangan disana-sini seperti kasus pencurian arsip di Banjarnegara, pemalsuan dokumen di Pematang Siantar, penyitaan arsip di RSHJ Pondok Gede,  transparansi arsip pemilu, rasa inferior para arsiparis, dan penggunaan teknologi dalam kearsipan.

Kedepan kearsipan Indonesia akan lebih berdaya guna apabila semangat dan gerakan cinta arsip selalu ditekankan kepada para pemegang kebijakan dan arsiparis, selain itu eksistensi organisasi profesi harus diperjelas supaya lebih dirasakan manfaatnya. Dengan begitu peran arsip sebagai pemersatu bangsa dapat diaktualisasiskan dalam kehidupan bernegara, sehingga bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Merdeka!!!!

Daftar Pustaka

Buku

Cox, Richard, J, 1992, Managing Institutional Archives: Foundational Principles and Practice, United States of America: Greenwood Press

Eisenstadt, SH, 1986, Revolusi dan Transformasi Masyarakat, Jakarta: Rajawali

Gottschalk, Louis, 1985, Mengerti Sejarah, Jakarta: UI Press

Pambudi A, 2006, Supersemar Palsu : Kesaksian Tiga Jenderal, Tanggerang : Agromedia

Priyanto, Supriyo, 2005, Pendidikan Kewarganegaraan, Semarang:FASindo

Sulistyo-Basuki, 2003, Manajemen Arsip Dinamis, Jakarta : Gramedia

Utomo, Cahyo, Budi, 1995, Dinamika Pergerakan Kebangsaan Indonesia dari Kebangkitan Hingga Kemerdekaan, Semarang: IKIP Semarang Press

Wardaya, Baskara. T, 2006, Bung Karno Menggugat ! Dari Marhaen, CIA, Pembantaian Massal ’65 hingga G30S, Yogyakarta:  Galangpress

Peraturan Hukum

Undang-undang No 7 Tahun 1971 Tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kearsipan

Media Massa

Forum Keadilan No 44 10 Maret 2008

Kompas, 18 Maret 2008

Kompas, 24 Maret 2008

Kompas, 5 April 2008

Kompas, 9 April 2008

Kompas, 15 April 2008

Kompas, 21 April 2008

Suara Merdeka, 22 Maret 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s