Sang Muslimun

Standard


Bersih-bersih rumah memang menjadi kebiasaanku setiap kali aku pulang kerumah, sore itu Bapak menyuruh ku untuk mencukur rambutku yang sudah mulai panjang, akupun menurutinya dan pergi ke tempat tukang cukur langganan keluarga.

Tempatnya tidak terlalu jauh dari rumah ku, sepeda motor telah ku siapkan dan aku bergegas menuju tempat cukur. Setibanya disana 2 orang sedang mengantri, “Ayo Ganteng” begitu sapa tukang cukur itu setiap kali aku datang. Entah mengapa dia memanggilku ganteng, mungkin dia tidak tahu namaku dan malas bertanya , baginya seperti Shekesspere “Apalah Artinya Nama, mawar tetaplah mawar, berduri dan indah, walaupun dia adalah gambar, patung, atau khayalan”.

Muslimun nama tukang cukur itu, sosok yang lumayan aku kagumi, sederhana, santun, pekerja keras, baik, supel dan rajin beribadah. Dalam bekerja Muslimun selalu memakai penutup hidung dari kain, dengan ketelitian Muslimun bekerja secara professional sebagai tukang cukur.

Biasanya setiap aku ke tempat cukur, orang-orang ngobrol tentang berbagai hal, politik, agama, sosial itulah yang selalu kudengar dari obrolan mereka. “Ayo ganteng, kene” Muslimun memanggilku untuk segera menduduki kursi ‘eksekusi’. Nah setelah aku duduk dan Muslimun pun mengeksekusiku dengan mencukur rambut hitamku. Obrolanpun terjadi seketika antara aku dengan Muslimun dengan bahasa jawa khas  mayong :

Muslimun        : Piye sekolahe wis bar tah durong? (dengan logat mayong yang kuentel)

Aku                 : Dereng lek, mogi2 cepet lulus trus entok kerjo hera lek

Muslimun     : he’e temenan tah , nek misale aku bisa kembali waktu kecil, aku ingin                                            sekolah yang tinggi.

Muslimun melanjutkan..

Muslimun        :Yakinlah kamu kalau bisa sekolah tinggi kamu tidak usah kayak aku    gini.. klo sekolah tinggi kamu bisa jadi PNS, setiap bulan menerima gaji dan dapat jaminan kalo sudah pensiun.

Aku hanya ‘nggah-nggih-nggah-nggih

Muslimin melanjutkan sambil menyisir rambut dan memotongnya sedikit demi sedikit,

Muslimun        : Ojo koyo wong saiki, dho pacaran , dho rak sholat, lali ngibadah..

Aku                 : looh jenengan rak tau pacaran yo lek ?, sedikit heran

Muslimin langsung menyahut

Muslimin         : Blas rak tau, kayak gitu perbuatanya iblis, rak ono ngono iku, dosa jare guru ngajiku.

Lalu dia bercerita tentang kisah cintanya mendapatkan Sang Istri

Muslimun        : Aku dengan istriku tidak pernah pacaran, begitu aku kenal dia, langsung ku datangi rumahnya dan berkata”kue gelem mbek aku ra?nek gelem ayo nikah!” .Trus dia minta beberapa waktu untuk berpikir, dan akhirnya aku diterima….La ngono lo sing apik iku..

Aku                 : OOooO nggih2

Muslimun        : Padahal sebelumnya itu sudah ada 3 orang yang melamar dan dia tolak semua… wes tah rak usah pacaran, ben entuk bojo ayu koyo aku, hehehe.

Aku                 : Ah masak?

Muslimun        : Looh dikandani kok, bojoku ngono2 lulusan Aliyah Kudus, la meneh anaku pinter tenan

Dia bicara dengan ekspresi kebanggan  yang terpancar dari sorot matanya

Aku                 : Memang betul, tapi saiki akeh wong sing do pacaran e.

Muslimun        : Layo rak ussah mbok tiru, urip iku mung ngarep-ngarep ridhone Allah Ta’ala,,mulakno sing diperintahke kui dilakoni nek sing dilarang kui diadohi..Aku dadi wong urip iku rak gelem petingkah sing ora2, mulakno nek ono wong sing ngganggu aku iki keliru, la Muslimun rak tau ngganggu kok diganggu

Aku                 : Emang jenengan pernah diganggu orang?

Muslimun        : Yo udah pernah, tpi tak jarno , mengko la mati2 dewe

Aku                 : He’e lek

Muslimun mengambil silet untuk melakukan proses finishing yaitu pengerokan,

Muslimun        : Pokoke kue sekolah seng duwur trus mung berharap karo ridhone Allah Ta’ala

Aku pun beralih ke topik lain

Aku                 : Sak niki mundak pinten lek?

Muslimun        : harganya tidak naik,,

Aku                 : Lho padahal yang lainya naik , tpi kok jenengan tidak naik

Muslimun        : Ora ah, kasihan kalau dinaikan, masyarakat sudah susah dengan kenaikan Harga BBM . nanti kalo harga cukur rambut naik malah tambah kasihan masyarakat., po meneh iki neng ndeso

Aku                 : wah nggih2

Muslimun mengambil sikat rambut dan membersihkan potongan2 rambut yang menempel di sekitar wajahku, dan membuka kain pelindung yang dipasang di sekitar leherku. Proses pencukuran pun selesai dengan uang tiga ribu yang ku berikan padanya.

Teman, begitulah kejadian yang membuatku berpikir,, orang seperti lek Muslimun yang hanya tukang cukur, orang desa, tapi mampu mengenal dirinya , mampu menunjukkan eksistensinya sebagai hamba Tuhan. Kerendahan hati dan ketundukan jiwanya membuat dirinya dapat menemukan jatidiri. Tanpa melalui proses pendidikan secara formal Muslimun mampu mengetahui hal2 penting mengenai kehidupan. Keyakinan yang kuat atas kuasa Tuhan menyebabkab dia kokoh dalam setiap keadaan termasuk dalm pencarian jodoh, saking yakinnya, dia sudah berpikir untuk mencari yang lain kalau calon istrinya tidak mau diajak menikah..3-6-2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s