Politik Kampus Yang Memilukan

Standard


Mahasiswa Undip baru saja menyelesaikan hajatan besar yang dinamakan Pemira. Kegiatan yang ditujukan untuk memilih Presiden dan Wapres BEM  beserta partai-partai yang diklaim sebagai repesentasi dari mahasiswa berlangsung seperti biasa, tetap stabil, beku dan sedikit aneh. Dari semua partai dan semua pasangan Capres disinyalir berasal dari ‘produk’ yang sama (terutama Pemira Universitas), anehnya lagi secara tidak sadar kita telah dikelabuhi oleh salah satu kelompok yang mendominasi pergerakan  kampus.. Dengan memobilisasi kelompoknya yang sebenarnya sedikit, mereka mampu mengisi setiap kotak suara yang disediakan oleh KPR. Kemudian dengan bangga mereka menyatakan kemenangannya  dengan mengklaim sebagai kemenangan semua. Padahal Penulis yakin lebih banyak mahasiswa yang tidak memilih daripada mahasiswa yang memilih disisi lain mereka sedikit tapi mampu memaksimalkan suara demi meraih kepentingan kelompok.

Paparan diatas ternyata tidak pernah disadari atau enggan untuk menyadari hal yang demikian. Secara Demokrasi kondisi demikian tidak sehat , karena tidak adanya hasrat politik para mahasiswa (kalau tidak mau disebut takut) untuk berhadapan dengan kelompok berkuasa. Mengapa hal ini terjadi, apakah ketertinggalan intelektual mahasiswa? atau pola pikir mahasiswa yang kolot? atau pengaruh kapitalisme pemikiran ?

Melalui pengamatan  penulis mencoba menklasifikasikan mahasiswa  menjadi beberapa golongan atau klas. Golongan Pertama adalah golongan Ideologi Politik Agama, golongan ini terdapat di berbagai pergerakan dan kantong-kantong kegiatan mahasiswa. Mereka selalu berupaya untuk menguasai sistem politik kempus dengan menyusupkan anggotanya untuk dapat aktif dan mewarnai berbagai pos-pos strategis di kampus. Dengan membawa ideologi agama mereka menjelma sebagai sosok yang inklusif dan toleran, sehingga bisa diterima oleh yang lain. Namun, pelan-pelan mereka menyeret dan mengarahkan setiap pos yang ditempati untuk men-golkan tujuan kelompok mereka. Ciri-ciri mereka  antara lain: menampakan simbol keislaman baik berupa bahasa, pakaian, pin dan atribut yang mereka klaim sebagai simbol keislaman mereka. Selain itu mereka cenderung berbeda sikap ketika berhadapan dengan kelompoknya dan ketika berhadapan dengan non kelompoknya. Ketika berhadapan atau berkumpul dengan kelompoknya mereka selalu berkomunikasi dan bersikap dengan simbol-simbol keislaman yang menjadi doktrin kelompok mereka. Selain itu mereka juga tergolong aktif dalam kegiatan-kegiatan kampus.

Golongan kedua adalah golongan Idealis Marginal, golongan ini umumnya terdiri dari mahasiswa-mahasiswa yang selalu ikut dalam kegiatan-kegiatan kampus tanpa dilandasi oleh ideologi kelompok. Secara tipologis mereka tergolong mahasiswa yang menginkan perubahan dalam sebuah tatanan masyarakat atau lingkungan tapi hanya berhenti disitu dan tidak mempunyai nafsu politik yang menggebu. Keberadaan mereka sangat menguntungkan bagi golongan Ideoligi Politik Agama, karena mereka ini dapat dikendalikan dan diajak bekerjasama (kalau tidak mau disebut membantu) oleh golongan      Ideologi Politik Agama dalam mencapai tujuan. Mereka ini umumnya selalu bekerja secara profesional dan sering dilandasi dengan rasa ingin tahu dan mencari pengalaman saja. Sehingga keberadaaan mereka ini seakan-akan termarginalkan oleh golongan Ideologi Politik Agama, artinya mereka tidak mempunyai pengaruh yang besar di dalam badan-badan kemahasiswaan.

Golongan ketiga adalah golongan Pengekor, golongan ini adalah golongan yang paling banyak, mereka terdapat di berbagai tempat dan selalu bersikap acuh terhadap kebijakan-kebijakan kampus maupun badan-badan kemahasiswaan. Keacuh-tak acuhannya ini menjadi kesempatan emas bagi golongan pertama untuk mengisi beberapa ruang kosong yang tidak ditempati oleh golongan ketiga. Golongan ini tidak berharap banyak dengan keikutsertaaanya di organisasi kampus, keikutsertaanya mereka hanya sekedar iseng dan mengisi waktu senggang. Waktu mereka lebih banyak dihabiskan di tempat-tempat nongkrong, cafe, belanja di distro, diskotik,  kos, atau sekedar belajar secara membabibuta tanpa melakukan transformasi pemikiran. Pendek kata, mereka merupakan golongan yang paling cuek dengan kondisi kampus.

Lantas, mengapa kita hanya diam melihat kekosongan ruh berdemokrasi? mengapa kita membiarkan demokrasi hanya dinikmati oleh sekelompok orang? Dimana nalar kritis kita sebagai mahasiswa?Sekarang sudah saatnya…..!

Tulisan ini dibuat hanya sebagai pembuka wacana kita yang selama ini dibekukan oleh hegemoni kelompok berkuasa, penulis mengharapkan umpan balik dari kawan-kawan mahasiswa sebagai bentuk kekritisan seorang yang mengaku agent of change !.12-3-2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s