Pemira Yang Demokratis

Standard

Sebuah Utopia?

Telah kita lewati bersama pesta demokrasi bagi mahasiswa Undip. Ajang berpolitik bagi mahasiswa yang dilakuakan kali ini tidak beda dengan yang sebelumnya. KPR yang berfungsi sebagai KPU dalam pemerintahan  belum bisa memainkan peran yang signifikan dalam kancah Pemira. KPR hanya melakukan tugas-tugas teknis, hal yang substansial kurang menjadi perhatian. Hal itu menyangkut pemahaman kepada mahasiswa mengenai politik kampus. Banyak mahasiswa yang tidak mengerti substansi diadakannya Pemira!, ini terbukti dengan persentase pemilih dan yang tidak memilih. Walaupun dalam kenyataan KPR telah mengusahakannya melalui media masa, tapi hasil yang didapat masih sangat jauh dari harapan.

Pembelajaran demokrasi di kampus Undip masih terkesan eksklusif, hanya para kontestan yang memainkan perannya masing-masing, dan pemilih dijadikan alat untuk menempati posisi tertentu dalam kampus. Benar-benar aneh ketika para pemilih tidak tahu siapa yang akan dipilih , untuk apa dipilih dan mengapa harus memilih?. Anehnya lagi ketika pemilih menentukan menentukan pilihan berdasarkan kecantikan, ketampanan, “pemaksaan” atau hal lain yang bersifat fisik.

“Politik kado” itulah sebutan yang cocok bagi keadaan politik di Undip. Mengapa penulis mengistilahkan dengan nama politik kado. Kado merupakan bingkisan yang dibungkus rapat sehingga tidak terlihat isinya, lalu kado itu diberikan kepada seseorang untuk kepentingan tertentu, entah kado itu isinya bom, kue, mainan, racun itu semua tergantung dari kepentingan sang pemberi. Dalam percaturan politik di kampus Undip, menunjukan bahwa  praktek seperti ini sangat menguntungkan bagi para peserta Pemira, mereka dengan leluasa dapat menempatkan kader-kadernya tanpa harus diketahui oleh pemilih. Hanya bermodal gambar yang bagus, kata-kata yang menarik dan steatmentsteatment yang meyakinkan cukup untuk mendaur suara dalam Pemira. Pemilih sama sekali tidak tahu siapa yang akan menjadi  senat dan tidak kenal dengan siapa Presiden BEM.

Kemudian KPR juga terkesan lamban dalam mensosialisasikan hasil Pemira. Jumlah pemilih pun tidak pernah diberitahukan kepada Mahasiswa. KPR memang memikul tugas yang berat dalam Pemira. Pekerjaan yang dilakukan pra, pas dan pasca Pemira menjadi tugas utama KPR, semua anggota KPR harus sadar dengan tugas itu. Seberat apapun tugas itu, mereka telah memilihnya dan konsekuen dengan pilihannya.

Mengapa hal-hal diatas dibiarkan begitu saja?apakah KPR sengaja menciptakan iklim politk di Undip seperti ini?atau KPR mempunyai kepentingan tersendiri?. Pertanyaan-pertanyaan ini seharusnya menjadi cambuk bagi KPR untuk lebih meningkatkan kinerjanya, supaya proses demokrasi di Undip menjadi lebih baik. Bagi KPR seharusnya menyadari bahwa tugas yang diemban sangat berat, jadi diperlukan kesungguhan dan profesionalisme yang tinggi. Kepentingan-kepentingan kelompok yang ada di KPR harus segera dihilangkan.

Tugas yang berat sekaligus mulia ini memang bukan menjadi tanggungjawab KPR semata, diperlukan partisipasi dari seluruh mahasiswa Undip. Mahasiswa harus ikut peduli dan membantu KPR sehingga demokrasi yang dicita-citakan akan tercapai. Tapi jika tidak ada hubungan mutualisme antar KPR dan mahasiswa maka Demokrasi kampus adalah sebuah utopia!!!.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s