Pemaksaan Ideologi

Standard

Semester ganjl akan segera usai. Bagi para mahasiswa baru hal ini merupakan hal yang monumental karena mereka telah melewati fase pertama dalam kehidupan kampus. Kehidupan kampus memang berbeda dengan kehidupan mereka sewaktu SMA dulu. Kehidupan kampus yang penuh dengan dinamika mengharuskan mereka untuk dapat meningkatkan personal skill.  Predikat sebagai mahasiswa baru pun telah mereka sandang, pada semester pertama ini mereka berada dalam keadaan peralihan antara masa SMA yang lebih cenderung suka bersenang-senang ke masa Kampus yang lebh cenderung kritis, radikal dan moderat. Pada masa ini mereka membutuhkan bimbingan untuk bisa melewati. Karena tidak mudah untuk merubah suatu pola hidup seseorang maka para senior mempunyai peran penting dalam proses pembimbingan.

PMB yang menjadi ajang  untuk mengenalkan nilai-nilai kemahasiswaan kepada para mahasiswa baru selama ini kurang bisa dirasakan. Memang dalam kenyataan PMB dipegang oleh para dosen, akan tetapi sedikit banyak  BEM dan HMJ mempunyai peran didalamnya. Hal ini terlihat sekali dalam acara-acara yang diadakan dalam rangka PMB terutama yang dilakukan oleh para senior. Kegiatan-kegiatan itu lebih bersifat hiburan dan perploncoan. Akan tetapi sedikit sekali kegiatan yang menumbuhkan daya kritis mahasiswa. Padahal mahasiswa adalah agen-agen perubahan yang sanggup memperbaiki bangsa Indonesia.

Begitu juga setelah masa PMB berlalu peran organisasi-organisasi intra tidak bisa “membumi” di kalangan mahasiswa. Program-program organisasi intra yang biasanya dapat membumi di kalangan mahasiswa adalah kegiatan yang bersifat party atau study. Sehingga mahasiswa yang diharapkan menjadi kaum idealis menjadi mahasiswa yang pragmatis dalam berbagai hal. Kemunduran ini mengakibatkan mahasiswa hanya berada dalam lingkup 4K(Kampus, Kantin, Kongkow dan Kamar). Jika terus demikian maka kampus hanya akan mencetak kaum intelektual yang pragmatis  atau dalam istilahnya Andi Rahmat dalam buku Gerakan Perlawanan dari Masjid Kampus disebut sebagai children of pragmaitsm. Oleh karena itu peran organisasi extra sangat diharapkan dalam hal ini, sebagai alat transformasi nilai-nilai kemahasiswaan.

Akan tetapi dalam tataran praksisnya, ada organisasi extra yang menggunakan cara-cara yang pragmatis. Salah satu contoh adalah kasus perekrutan kader baru, dalam hal ini ada 2(dua) pola yang sering kita jumpai yaitu : Pertama: “pemaksaan” terhadap para mahasiswa baru untuk ikut bergerak di dalam salah satu organisasi. Mahasiswa baru memang menjadi lahan basah bagi para aktivis pegerakan untuk menjadikanya sebagai kader. Akan tetapi dalam perekrutannya harus tetap  menghormati sang mahasiswa baru,  jangan sampai memaksakan ideologi gerakannya kapada mahasiswa. Implikasi dari pemaksaan itu menyebabkan mahasiswa merasa tidak nyaman dalam menjalani aktivitasnya. Kedua: Menggunakan organisasi intra ( BEM, HMJ, ROHIS ) sebagai alat untuk kepentingan kelompok tertentu. Mahasiswa yang berada dalam organisasi intra yang ada dilingkungan kampus harus memikirkan seluruh mahasiswa yang ada di dalamnya tanpa terkecuali. Jika hal ini sudah diboncengi oleh kepentingan suatu kelompok  maka  akan tercipta suatu  ketidakadilan. Mereka mengatasnamakan seluruh mahasiswa untuk mendukung atau melakuakan aktivitas kelompoknya.

Ini merupakan koreksi bagi kita sebagai mahasiswa UNDIP. Sebagai agent of change kita harus dapat memetakan kondisi kita sebagai bangsa Indonesia dan melakuakan sesuatu yang bermanfaat bagi negeri tercinta ini. Masa depan bangsa ini diukur melalui para mahasiswanya, karena mahasiswalah  yang akan memimpin bangsa di masa depan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s