MENGAKTUALISASIKAN MUHAMMADIYAH DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT

Standard


Secercah Peran Kaum Muda Muhammadiyah Dalam Membangun Gerakan Komunal

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang makmur gemah ripah loh jinawi, kondisi perairan dan tanah yang subur menjadikan Indonesia sebagai surga dunia. Kondisi alam yang mendukung beserta kehidupan masyarakat yang santun membuat Indonesia dilirik oleh banyak Imperialis. Rempah-rempah yang merupakan dagangan penting di Eropa menjadi tujuan utama para Imperialis untuk menjajah Indonesia. Sejak abad ke 15 negara Indonesia yang kaya raya menjadi jajahan bangsa asing dan dikuras semua kekayaan alam yang ada. Dibawah intimidasi asing bangsa ini terus berusaha untuk bangkit hingga abad ke 19 ( 1908-1942) dengan berkembangnya Pergerakan Kebangsaan Indonesia hingga pada tahun 1945 dicetuskanlah kemerdekaan Indonesia  melalui Proklamasi. Indonesia yang saat itu baru menikmati kemerdekaanya terus digoncang oleh pihak-pihak yang masih menginginkan kekayaan Indonesia, hingga kesimpangsiuran sistem ketatanegaraan yang dimulai pada tahun 1949 muncul Republik Indonesia Serikat dan berubah pada tahun 1950 yang pada akhirnya muncul dekrit Presiden pada tahun 1959 yang mengembalikan  landasan negara ke UUD 45. Tidak berhenti disitu Indonesia terus digoyang oleh isu-isu politik dan munculnya pemberontakan PKI yang mengakhiri era Soekarno menuju era Soeharto. Pada era Soeharto Indonesia konsen terhadap pembangunan dan stabilitas keamanan. Pembangunan dilakukan dimana-mana, militer diperkuat, ekonomi meningkat namun disisi lain, tingkat pendidikan rendah, masyarakat miskin meningkat, pelanggaran HAM dan berbagai operasi rahasia yang menciduk para aktivis –aktivis yang vokal kepada Pemerintah.

Dalam kondisi seperti itu munculah sebuah keberanian rakyat yang sudah tidakterbendung lagi . Pada tahun 1998 meletuslah reformasi yang dipelopori oleh kaum muda. Aksi mereka membuahkan hasil dengan lengsernya Soeharto sebagai Presiden yang telah menjabat selama 32 tahun.  Dengan demikian lahirlah era Reformasi yang membuka kran sebebas-bebasnya bagi masyarakat Indonesia yang sebelumnya terkekang dalam genggaman rezim Soeharto. Namun, kehidupan kenegaraan dan kemasyarakatan tidak semakin membaik seperti yang diinginkan oleh banyak orang, reformasi membawa Indonesia menuju proses pencarian jatidiri sebagai sebuah bangsa yang bermartabat.

Euforia Reformasi merubah segala tatanan sosial masyarakat, masyarakat yang dulunya selalu hidup dalam alam ‘mimpi’ seakan terbangun dan kaget melihat kehidupan nyata, melihat betapa memilukannya Indonesia, negara yang kaya tapi miskin, melihat ketertinggalan Indonesia dari negara-negara lain, melihat perilaku politik para elit yang sering membingungkan, dan terlihatnya jurang kemiskinan diantara masyarakat, semua itu tidak pernah terekspose pada orde baru, namun setelah reformasi semua pintu dibuka untuk menerima informasi apapun tanpa takut dibredel oleh Pemerintah.

Globalisasi pun membanjiri masyarakat di semua elemen baik yang berada di desa maupun di kota, sehingga menimbulkan dampak meluasnya gagasan liberalisasi, sekulerisasi dan fundamentalisme agama, munculnya berbagai kekuatan budaya lokal yang mencoba untuk menjadi kekuatan alternatif, makin meluasnya sarana informasi dan pemberitaan yang mencoba untuk mengungkap apa yang selama ini disembunyikan, diadopsinya berbagai model tata ruang yang memenuhi standar tata kota international yang semuanya itu merugikan kehidupan kebangsaan kita. Demikian halnya dampak dari kapitalisme dan neoliberalisme yang sangat merugikan bangsa dan bertentangan dengan landasan kenegaraan kita UUD 45 dan Pancasila. Contoh yang paling ketara adalah tengtang pendidikan, kita lihat begitu mahalnya biaya pendidikan, banyak masyarakat tidak dapat sekolah hanya gara-gara ongkos yang melangit. Kita lihat pada UUD Pasal 31 ayat (1) UUD 45 “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”. Pasal 31 ayat (2) UUD 45 “Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”. Pasal 31 ayat (4) UUD 45 “Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional”. Bagaimana Indonesia mewujudkan sila tentang “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”??.

Realitas adalah realitas, apa yang terjadi itulah yang terjadi namun sesuatu yang terjadi tidak mungkin karena sesuatu itu terjadi dengan sendiri, ada banyak faktor yang mengakibatkan munculnya realitas. Bagaikan mengurai benang kusut, kita harus memilah saru persatu dan menata kembali tatanan benang sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan mempunyai pengaruh  yang besar bagi  bangsa Indonesia dalam mengurai benang kusut. Muhammadiyah berkembang bukan dengan sistem ajaranya, bukan dengan kekayaannya, bukan dengan kekuatanya namun Muhammadiyah berkembang dengan amal dan keikhlasannya. Dengan teologi Al-Ma’un Muhammadiyah berhasil mengajak masyarakat untuk berbondong-bondong untuk berilmu, beriman dan beramal secara ikhlas. Trilogi inilah yang menjadi landasan gerak utama Muhammadiyah dalam menciptakan masyarakat Islam sebenar-benarnya. Terobosan Sang Kyai pada awalnya adalah untuk mencerdaskan umat Islam dan membebasakan umat Islam dari ketertinggalan dan keterpurukan, dengan menggunakan sistem-sistem barat yang tidak menyalahi aturan Islam.  Sang Kyai memberanikan diri untuk mendongkrak kejumudan dan kebekuan umat Islam saat itu. Langkah Sang Kyai dinilai aneh saat itu bahkan beliau dikatakan Kyai gadungan. Selain dengan aksi sosialnya Muhammadiyah juga dikenal luas sebagai gerakan purifikasi Islam, yang menginginkan Islam autentik. Dengan berlandaskan Tauhid sebagaimana tercantum dalam Mukaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, Muhammadiyah menyadari sepenuhnya bahwa manusia adalah makhluk sosial/bermasyarakat, sehingga Islam harus memasyarakat dan lebih memberdayakan masyarakat. Maka lahirlah PKU Muhammadiyah, Panti Asuhan, Sekolah, Universitas, Pondok Pesantren yang semuanya itu ditujukan untuk memberdayakan dan melayani masayarakat.

Dewasa ini kita melihat fenomena yang memprihatinkan dalam Muhammadiyah. Betapa banyak Sekolah Muhammadiyah, betapa banyak Rumah Sakit, Panti Asuhan, Panti Jompo, Universitas, BMT, namun berapa Sekolah Muhammadiyah yang mampu bersaing di era globalisasi?, berapa Rumah Sakit Muhammadiyah yang mampu melayani masyarakat miskin dengan biaya yang murah?, sudahkah Muhammadiyah menggerakkan semua panti-pantinya untuk mengentaskan anak-anak jalanan, traficking?, sudahkah Muhammadiyah mampu menjawab tantangan kemiskinan, pengangguran, kebodohan yang telah merata di Nusantara. Muhammadiyah sudah berjalan 97 tahun, usia yang cukup lama sebagai gerakan sosial keagamaan, meskipun demikian kita ketahui bahwa ternyata Muhammadiyah belum bisa memberikan suatu altenatif dari berbagai persoalan pokok bangsa ini, dilihat dari pendidikan, Muhammadiyah terlalu ketinggalan dengan pola-pola sekolah non Muhammadiyah terlebih setelah munculnya sekolah berlabel “Islam Terpadu (IT)”, gerakan sosial Muhammadiyah tenggelam dengan munculnya badan-badan zakat, sosial yang menggarap kaum marginal dan proletar, gerakan dakwah Muhammadiyah seakan layu dengan datangnya gerakan-gerakan Islam Transnasional yang membawa nafas baru dalam khazanah gerakan Islam di Indonesia.

Pada dasarnya Muhammadiyah sudah mempunyai landasan gerakan yang kuat, mulai dari AD/ART, MKCHM, Kepribadian Muhammadiyah, Khitah, PHI, HPT dan berbagai berita-berita resmi Muhammadiyah. Namun pantas kiranya disayangkan karena tidak semua Landasan itu dipakai oleh para penggerak organisasi atau para kader.  Gerakan yang sangat tua ini mungkin sudah lupa dengan  kepribadian aslinya,  maka tidak heran jika Muhammadiyah sebagai gerakan pemberdayaan masyarakat tidak mampu dirasakan oleh rakyat. Para kader muda Muhammadiyah yang mengatasnamakan “intelektual muda” seakan sudah bangga dengan keintelektualannya dan enggan membaca kembali ruh Muhammadiyah yang ada pada sumber-sumber resmi. Model intelektual Muhamadiyah sejalan dengan model yang diinginkan oleh Ali Syariati, sebagaimana yang telah dia sampaikan kepada seluruh intelektual muslim dalam sebuah orasinya “Wahai ulil albab, raushan fikr, kalian jangan berhenti di atas menara gading! Turunlah ke bawah, ke kampung-kampung, ke kota-kota, ke pasar-pasar, ke sekolah-sekolah, ke tempat di mana ada sekumpulan manusia! Jangan puas dengan ilmu yang telah kalian dapatkan. Sebab ilmu itu harus kalian abdikan ke tengah masyarakat. Tumbuhkan kesadaran dan semangat umat untuk merubah dunia dengan bimbingan ilmu. Jangan anjurkan mereka meniru-niru Barat atau menjiplak Timur. Sebab Barat dan Timur bukanlah kutub yang harus dipilih, keduanya sama-sama tumbuh dari jantung tradisi. Hidupkan Islam, sebab Islam bukan tradisi, bukan Barat, bukan pula Timur! Islam adalah wahyu. Pelajari keyakinan dasar dan proses yang membentuk kesadaran masyarakatmu, kemudian kebudayaan mereka, dan karakteristik mereka. Tugas kalian adalah merobohkan sistem masyarakat yang berdasar atas penindasan, ketidakadilan, dan kezaliman dengan membentuk umat yang terbangun atas dasar tauhid. Inilah tugas para rasul. Kini, kalianlah penerusnya!!”

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah basis penguatan kader muda dalam membentuk intelektual organik dalam rangka memasifkan lagi gerakan pembangunan yang berlandaskan Tauhid sebagaimana yang dipahami oleh Muhammadiyah. Manifesto gerakan harus segera diwujudkan melalui pemberdayaan masyarakat dan merakyat. Seringkali kita melihat para intelektual berbicara dengan retorika yang menawan beserta dalil-dalil ilmiah yang memukau namun keberadaan mereka samasekali tidak pernah dirasakan oleh masyarakat, seakan hidup dalam imajinasi intelektualnya dan tidak pernah merasakan realitas yang ada pada akar rumput.

Masa depan Muhammadiyah ada di tangan kaum muda, andaikan kaum muda tidak berusaha untuk menjamah ruh ideologi Muhammdiyah melalui sumber-sumber resmi yang ada maka eksistensi Muhammadiyah kelak tidak akan sesuai dengan harapan dan cita-cita luhur para pendahulu. Banyak hal yang harus diperbaiki dan direfresh, namun seandainya penulis “ditanya darimana kita mulai?”, penulis akan menjawab dengan tegas “kita mulai dari kaum muda!”. Lakukan Segera!

Fastabiqul Khairat……

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Al Asy’ari, Deny. 2005. Pemberontakan Kaum Muda Muhammadiyah. Yogyakarta:          Resist Book.

Pasha, Mustafa, Kamal, dan Ahmad  Adaby Darban. 2002. Muhammadiyah sebagai         Gerakan Islam. Yogyakarta: LPPI.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah. 2005. AD/ART  Muhammadiyah. Yogyakarta. Suara      Muhammadiyah

Rais, Muhammad Amien. 1998. Suksesi dan Keajaiban Kekuasaan.Yogyakarta: Pustaka   Pelajar . 31-1-2008

Jurnal

Fakih, Mansour. Neoliberalisme dan Globalisasi. Ekonomi Politik Digital Jurnal Al            Manar Edisi I / 2004.

Supriyadi, Eko. Islam Yang Mencerahkan. ‘Ulumuddin Digital Jurnal Al Manar Edisi I /   2004.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s