Menengok Kembali Keberadaan Dua Sekolah Kader Muhammadiyah

Standard


Keberadaan persyarikatan Muhammadiyah selama 97 tahun menjadi salah satu acuan bagi perkembangan Islam di  Indonesia, bagaimana tidak selama itulah muhammadiyah beserta elemenya hidup ditengah –tengah masyarakat Indonesia yang mayoritas Islam. Gerakan muhammadiyah yang berciri sosial telah banyak melakukan aksi-aksi kongkret seperti berdirinya ribuan sekolah, ratusan panti asuhan, puluhan rumah sakit dan lembaga –lembaga sosial lainya, dan saya yakin tidak ada yang meragukannya. Bagitu besarnya muhammadiyah ditambah umur yang sudah tidak muda lagi maka diperlukan kekuatan extra atau nutrisi tambahan untuk meningkatkan stamina muhammadiyah, agar dapat terus berkembang dan semakin berkembang di era global.

Penyegaran terhadap muhammadiyah atau pada semua organisasi pada umumnya memang sebuah keniscayaan. Tanpa adanya penyegaran organisasi akan “loyo” dan tidak dapat bergerak progresif seperti waktu muda dulu. Maka disini peran kader sangat penting untuk merefresh suasana di dalam organisasi. Muhammadiyah sadar akan kebutuhan kader yang demikian penting, maka dibuatlah berbagai sistem perkaderan yang diharapkan mampu menyuplai kader yang mumpuni.  Saya tidak akan melebar kemana-mana tapi saya akan memfokuskan ke dua sekolah kader muhammadiyah yang telah diakui sebagai sekolah resmi muhammadiyah yang berada langsung dibawah PP.

Muallimin-muallimat, kedua sekolah inilah yang  diakui  sebagai sekolah kader yang langsung berada di bawah pengawasan pimpinan pusat, diharapkan nantinya muhammadiyah dapat menyemai kader yang dapat dijadikan andalan dalam gerakan muhammadiyah.  Fakta dilapangan menunjukan bahwa sebagian alumni sekolah tersebut menjadi punggawa-punggawa muhammadiyah. Dalam sejarah Muhammadiyah telah tercatat nama-nama besar yang muncul dari sekolah tersebut, yang terakhir ini kita kenal Mudzakir (sebagai ketua PP IRM) dan sampai sekarang masih banyak para alumni yang berjuang bersama Muhammadiyah.  Selain itu, fakta dilapangan juga menunjukkan bahwa tidak sedikit alumni dari sekolah tersebut yang menjadi insan  yang ‘tersesat’. Bahkan tidak sedikit pula yang merubah haluan kearah yang mereka yakini. Dan saya yakin anda tidak akan memungkiri keberadaan fakta-fakta ini.

Predikat sekolah kader dan berada langsung dibawah pimpinan pusat merupakan suatu predikat yang sangat berat. Konsekuensi logis dari predikat yang disandang sekolah tersebut adalah mencetak kader-kader militan yang memiliki profil kemuhammadiyahan yang kental, sehingga nantinya akan lahir “kader yang muhammadiyah yang bermuhammadiyah”, bukan “kader muhammadiyah yang tidak bermuhammadiyah” apalagi kader non muhammadiyah. Dan setiap alumni dari muallimin –muallimat dapat tersebar di berbagai lini kehidupan dengan menampilkan  identitasnya sebagai kader muhammadiyah yang bermuhammadiyah. Dengan kata lain muallimin-muallimat adalah tempat penanaman ideologi serta pengaplikasian amalan-amalan Islam menurut muhammadiyah secara komprehensif.

Bagaimana mungkin sekolah yang berada langsung dibawah PP Muhammadiyah akan tetapi memiliki kader ‘pelangi’??, yang tidak jelas arahnya dan mempunyai interpretasi yang beragam tentang Muhammadiyah, apalagi sampai menjadi kader yang tidak memakai baju muhammadiyah???dan bahkan menjadi insan yang masih tersesat. Lalu apa sebenarnya yang diberikan di kedua sekolah tersebut. Dan apa sebenarnya yang diharapkan masing-masing sekolah tersebut untuk mengimbangi predikat yang telah diamanahkan oleh warga muhammadiyah?.

Saya teringat ketika Ust Ikhwan Ahada(Direktur muallimin) mengatakan “Kalian adalah benteng terakhir yang menjaga ideologi muhammadiyah”.  Kata-kata itu terus terngiang didalam pikiran saya, pesan itu disampaikan kepada kami, ketika berada di masjid jami’ muallimin, setelah itu saya berkata dalam hati”ideologi muhammadiyah itu bagaimana?”pertanyaan itu muncul karena memang saat itu kami baru belajar ideologi muhammadiyah dalam pelajaran Kemuhammadiyahan yang diampu oleh Ust. Muchlas Abror, dan itu hanya seminggu sekali. Itu saja baru belajar tentang MKCHM. Bagaimanapun  juga cita-cita kedua sekolah tersebut sangat besar dan ditujukan untuk keajuan muhammadiyah. Lantas apa penyebab dari ini semua?

Muallimin-Muallimat telah banyak menelorkan kader-kader yang handal, banyak dari alumninya yang menjadi ujung tombak dimanapun mereka berada, mereka menjadi penggerak. Mungkin inilah salah satu andalan dari para alumni di kedua seekolah tersebut, kemandirian dan kepeloporan menjadi ciri khas para alumni kedua sekolah tersebut. Lantas apakah ciri ini menjadi ciri khusus sekolah kader persyarikatan?dan apakah ciri ini dapat diandalkan?, sebenarnya hal itu sudah baik, dengan kepeloporan dan kemandirian para alumni dapat bergerak sebagai sel aktif yang terus merambat tanpa ketergantungan dengan orang lain. Permasalahannya adalah mungkinkah mereka dapat memainkan fungsi sebagai seorang penjaga benteng terakhir ideologi muhammadiyah? menurut saya hal itu tidak cukup, dibutuhkan bekal ideologi muhammadiyah yang mengakar kuat serta pemahaman tentang Islam menurut muhammadiyah. Jika hanya mengandalkan kemandirian dan kepeloporan mereka akan “lari” semau mereka, tanpa ada sebuah ikatan dengan persyarikatan.

Melalui pengamatan saya, faktor faktor yang perlu diperhatikan adalah: 1. Pengelola. Pengelola mempunyai peran yang penting dalam membentuk karakter seorang  kader persyarikatan, jika para pengelolanya sendiri sudah tidak sinkron, lalu bagaimana mungkin dapat mewujudkan visi dan misi sekolah?. Yang terjadi nantinya hanya sebuah kerancuan dalam diri peserta didik dalam menentukan tujuannya. 2, Siswa, Kesalahan terbesar menurut saya adalah menerima siswa yang tidak berasal dari keluarga muhammadiyah dan tidak tahu tujuan muallimin –muallimat, biasa nya para orang tua menyekolahkan anaknya di muallimin- muallimat hanya untuk berlepas diri dari kenakalan anaknya, terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan dan hanya ingin anaknya terhindar dari pergaulan bebas di luar.  Ketidak tahuan ini akan berakibat fatal tatkala para orang tua tidak mendukung anaknya atau sang anak tidak merasa memiliki muhammadiyah.

Seharusnya para pengelola ini benar-benar memiliki karakter muhammadiyah terlebih dahulu, mereka harus paham dengan ideologi muhammadiyah. Jiwa muhammadiyah yang kental akan menyatukan langkah mereka sehingga terbentuklah suatu simfoni gerakan yang indah. Tapi apa yang terjadi selama ini?. Kemudian proses seleksi siswa baru harus diperketar, penjaringannya harus memperhatikan tujuan, dan motivasinya. Selain itu  perlu dibikin kontrak antara siswa dengan pengelola, yang isinya tidak lain adalah bahwa anak tersebut bersedia untuk dididik sebagai calon kader persyarikatan. Jika hal-hal diatas telah dilakukan, saya yakin nama muallimin-muallimat akan semakin menggaung di Indonesia raya ini.

Saya juga menyoroti mengenai sistem pendidikan, saya kira waktu pendidikan di muallimn –muallimat sebaiknya 6 th utuh. Andaikan Cuma setengahnya, saya kira kok tidak mengena dengan tujuannya. Kan tidak bisa disamakan siswa yang hanya 3th dengan yang 6th. Ingat muallimin-muallimat adalah sekolah kader yang berada langsung dibawah PP. ..Bukan sekolah-sekolah muhammadiyah yang biasa-biasa.

Ya, hal yang saya kemukakan diatas mungkin terlalu emosional dan ‘bermimpi”, mungkin ini memang hanya sebuah impian, dan semua ini saya mimpikan jikalau memang madrasah muallaimin-muallimat masih layak dijadikan sekolah kader yang berada langsung di bawah PP Muhammadiyah, kalau masih layak. Tulisan ini saya buat tanpa ada maksud apapun selain untuk menyumbang tulisan bagi yang mau membacanya. Saya sadar sudah bukan saatnya lagi kita berteori dan berargumentasi, sekarang adalah saat untuk berbuat sekecil apapun untuk merubah keadaan.  Suatu penghargaan bagi saya jika pembaca memberikan kritik yang konstruktif terhadap diri saya. Semoga kita semua selalu berada di jalan Allah SWT bersama-sama menegakkan Islam melalui muhammadiyah. Amin. Terima kasih.

31-7-2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s