Ke- kaffah-an PKS

Standard


Partai yang menjadi baby boomer pada pemilu 2004 telah membuat banyak ilmuwan dan praktisi politik yang lama berkiprah di perpolitikan Indonesia, mengernyitkan dahi, heran kagum dan curiga. Bagaimana tidak partai yang diusung oleh orang-orang yang sebelumnya tidak pernah bersentuhan dengan politik praktis tiba-tiba menceruat dan muncul ke permukaan. Analisa-analisa mengenai partai ini menambah diskursus perpolitikan Indonesia. Dengan mengklaim diri sebagai partai dakwah, partai ini merambah ranah sosial kemasyarakatan. Dengan peran ganda ini tanpa disaadari telah menimbulkan persinggungan antara oraganisasi sosial masyarakat yang telah lebih dulu berjuang. Persinggungan ini bukanlah perkara yang sepele akan tetapi sudah merambah ke benturan-benturan ideologi dan etika gerakan. Organisasi yang merasakan persinggungan ini antara lain: Muhammadiyah, NU, Persis.

Partai yang menjadi fenomena di masyarakat ini meniru gerakan ikhwanul muslimin yang didirikan oleh Syeikh syahid Hasan Al bana( begitu mereka menyebutnya).Dengan sistem tarbiyahnya maereka berhasil membuai ribuan massa untuk dijadikan komoditas politik.  Gerakan tarbiyah muncul pada awal orde baru beriringan dengan kebangkitanrevolusi Iran,  tarbiyah menjadi sistem perekrutan dan pembinaan para anggota PKS, Rahmat Abdullah yang dijuluki Syeikh Al Tarbiyah menjadi Ketua Dewan Syuro PK. PKS mengklaim diri sebagai gerakan altenatif  yang melampaui muhammadiyah, NU, Persis, Al Irsyad, salafi dll. Karena ingin menjadi alternatif maka PKS mengakomodasi berbagai paham agama , seperti dalam hal do’a tawassul, dalam hal ini PKS lebih luwes, karena menganggap ini masalah furu’ bukan masalh aqidah.

PKS dengan gerakan tarbiyahnya memberikan nafas baru bagi gerakan Islami Indonesia sekaligus menjadi pemicu persinggungan antara ormas yang lain. PKS memandang bahwa dakwah Islam mencakup seluruh aspek kahidupan. Maka tidak heran ketika melihat PKS melakukan lobi-lobi politik sekaligus mengadakan ruqyah massal, pengobatan gratis, membangun masjid, mengembangkan ekonomi, dan pembinaan umat. Sekali lagi peran ganda PKS atau paradigma kaffah menyebabkan PKS tidak bisa menempatkan diri ketika berada di masyarakat dan berada di dunia politik yang penuh dengan paradoks. Ketika melihat PKS melakukan aksi-aksi, kegiatan sosial dsb, akan tetapi elit-elit PKS belum tentu melakukan hal yang sama, dan bahkan sangat jelas terlihat pada pilpres 2004 yang nyata-nyata ‘tidak tegas’ dalam memutuskan calon presiden. dan sekarang kita lihat kalo PKS menjadi kelompok yang mendua, karena disatu sisi mereka koalisi disisi lain menempatkan diri pada oposisi hanya untuk mencitrakan diri sebgai partai ‘bersih’.

Sebenarnya banyak hal-hal bias yang dilakukan oleh PKS akan tetapi dengan pola tarbiyahnya PKS seolah-olah membentuk pola pikir yang rigid, dan tanpa ada dialektika pada para anggotanya, terutama di daerah. Sehingga mereka begitu mudah menerima apa yang disampaikan oleh para murabbinya.  Selain itu para kader PKS banyak yang sering kali kebablasan dalam berdakwah dengan cara memakai fasilitas –fasilitas ormas lain, seakan-akan berlagak bodoh dan menganggap perbuatannya benar. Yang kemudian digiring untuk kepentingan politik yang pragmatis dan paradoks.  Oleh karena itu marilah kita bersama-sama bertabayyun dalam setiap tindakan dan perbuatan. Berfastabiqul khairatlah dengan etika dan akhlak, kritis dalam tindakan dan saling menasehati dengan cara yang baik. Billahi Sabililhaq. Wallahu a’lam bishowab.(24-7-07)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s