Hari Kartini

Standard

Antara Kartini Dengan Feminisme[1]

Upaya Mendialogkan Emansipasi Ala Barat dengan Emansipasi Ala Indonesia

21 April menjadi hari yang selalu diperingati oleh bangsa Indonesia sebagai Hari Kartini, masyarkatpun beramai-ramai menyemarakannya dengan berbagai even, mulai dari peragaan busana, pameran, lomba masak dan diskusi. Kegiatan masyarakat tersebut menjadi sebuah rutinitas tahunan, penulis sendiri kurang yakin apakah mereka memahami spirit yang dibawa oleh Kartini atau hanya menjadikan Kartini sebagai ikon pahlawan putri  Indonesia yang wajib diperingati. Ada pula kelompok ilmuwan sosial yang berdiskursus mengenai fakta sejarah yang seolah sudah paten di masyarakat, seperti kritikus sejarah yang mencoba menggulirkan wacana rekonstruksi sejarah Kartini yang dianggap terlalu berlebihan dan mengandung pemihakan. Namun, wilayah ini bukan menjadi wewenang penulis untuk memasukinya, penulis hanya akan mengulas sedikit mengenai relevansi pemikiran kartini dengan feminisme global.

Ada baiknya kita simak kisah berikut :

Pada tahun 1970, sebuah acara mewah meriah di Royal Albert Hall, London, tiba-tiba berubah menjadi huru-hara. Pembawa acara, Bob Hope, disemproti tinta, dilempari bom tepung, tomat dan telur busuk. Hadirin panic, dewan juri melarikan diri keluar, para kontestan menangis, sementara gerombolan demonstran mengamuk sambil meneriakan yel-yel “ Kami tidak cantik jelita, Tidak pula jelek, Kami marah!(We’re not beautiful, we’re not ugly, we are angry!). Protes keras terhadap kontes Miss World Beauty itu dilakukan oleh sejumlah aktivis  wanita yang tergabung dalam Gerakan Pembebasan Perempuan alias Women Liberation Movement. Bagi mereka perhelatan itu tak ubahnya ibarat ‘pasar hewan’.

Gelombang feminis di Barat merupakan respon dan reaksi tehadap situasi social disana terutama menyangkut kehidupan wanita. Dalam  Sejarah peradaban barat pelecehan terhadap wanita baik yang dilakukan oleh institusi agama maupun oleh Negara/kerajaan sudah tidak asing  lagi. Hingga munculah Mary Wollstonecraft (1759-1797) dengan tulisan berjudul A Vindication of the Rights of Women. Ia mengecam segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan, menuntut persamaan hak dalam segala aspek kehidupan.  Setelah itu munculah pemikir-pemikir feminisme di seantero Eropa dan Amerika semisal: Clara Zetkin (1857-1933) di Jerman, Hélén Brion(1882-1962) di Prancis, Anna Kuliscioff(1854-1925)di Itali (pendiri liga wanita), Carmen de Burgos ‘Columbine’(1878-1932) di Spanyol, Alexandra Kollontai (1873-1952) di Rusia dan Victoria Claflin Woodhull (1838-1927), wanita Amerika pertama yang mencalonkan diri sebagai Presiden pada 1872.  Para aktivis feminis ini menuntut reformasi hokum dan undang-undang Negara supaya lebih adil, semua harus diperlakukan sama, diberi peluang dan penghargaan yang sama pula.  Selanjutnya mereka melakukan propaganda guna mengupayakan timbulnya kesadaran dalam dunia wanita bahwa mereka hidup dalam dunia yang dikuasai laki-laki(male dominated world). Dengan cara ini mereka dapat membebaskan diri dari belenggu subordinasi dan eksploitasi.

Sejenak, mari kita kembali ke Indonesia, pada tahun 1890-1900 merupakan masa dimana seorang gadis jawa bernama Kartini mengalami dialektika pemikiran yang masif, benturan antara cita-cita, impian, harapan dengan  kondisi riil di lingkungannya membuat dia berjuang keras untuk memahaminya. Kondisi sosio-kultur masyarakat jawa yang kental dengan aroma imperialisme serta kebekuan pemikiran para ulama dalam menafsirkan teks-teksi suci membuat Kartini bimbang dan merasakan ganjalan yang sangat besar pada masyarakatnya saat itu.  Hingga dalam masa pingitan dia selalu berupaya keras untuk memahami subuah kegamangan hidup yang ia derita, dengan bekal sekolah di ELS (Europese Lagere School) Kartini membaca tulisan-tulisan di Surat Kabar Belanda maupun buku-buku terbitan Belanda, dengan pembacaanya mengenai dunia luar membantu Kartini untuk menkontruksi pikirannya dalam membentuk sebuah pandangan hidup. Interpretasi Kartini selalu dikomunikasikan dengan temannya dari Belanda, melalui surat menyurat kartini selalu menjalin komunikasi dengan mereka, dan mereka ini yang waktu itu menjadi teman diskusi. Kartini melihat fenomena perempuan di lingkunganya yang sangat terbelakang dan menjadi the second dalam setiap sesuatu, apalagi  ketika berhadapan dengan penjajah yang selalu menganggap Bumiputra sebagai budaknya.

Kartini pun melakukan pemberontakan, dengan berbekal kepekaan dan keprihatinan lalu dia tuliskan segalanya hingga ide Kartini hingga dapat dibaca oleh masyarakat. Dalam masalah wanita, kartini menyoroti kedudukan wanita yang tidak pernah diberi ruang kebebasan dan berekspresi, wanita berada dalam pasungan adat dan hanya menjadi pelengkap kaum adam. Sunggah hal ini membuat Kartini sedih, hingga dia mencita-citakan kedepan wanita jawa dapat sama-sama mengenyam pendidikan dan memperoleh hak yang sama dengan kaum laki-laki tanpa diskriminasi. Sungguh saat itu kondisi perempuan sangat mengenaskan, hingga Kartinipun mengalami sendiri ketidakadilan sistem adat saat itu, keinginanya untuk melanjutkan sekolah ke Belanda pupus karena harus menikah dengan seorang yang dia tidak kenal. Dengan rasa cinta terhadap Ayahnya, Kartini pun masuk ke wilayah domestik Bupati Rembang dengan menjadi jadi istri ke 4 .

Benang Merah Pemikiran Kartini Dengan Feminisme Global

Kesamaan pikiran Kartini dengan penggiat emansipasi wanita pada tahun 1800an terletak pada keberaniannya dalam mendobrak dogma yang mengungkung kehidupan wanita, dengan latar belakang tradisi yang serupa, kartini melawan misogini(pandangan sebelah mata terhadap perempuan) dan menggantinya dengan emansipasi, secara berlebihan Pramoedya AT mengatakan” Kartini telah sampai pada teori tentang Revolusi Sosialis, yang bertujuan merobohkan nilai-nilai secara total, dan menggantinya dengan nilai-nilai baru “. Demikian halnya dengan para aktivis perempuan di Barat yang memberontak  aturan, norma yang mengarah ke misogini . Yang membedakan sebenarnya adalah Keputusan Kartini untuk taat kepada Ayahanda hingga dia menjadi anak yang baik dan istri yang baik alias tetap profesional sebagai istri. Walaupun dia memperjungakan kebebasan namun dia tidak lupa kodrat wanita yang lebih mulia dan bijaksana. Berbeda dengan aktivis feminisme di Barat yang mengalami evolusi yang spektakuler, yaitu munculnya kelompok-kelompok feminis radikal yang bersikap anti laki-lak, mengutuk sistem patriarki, mencemooh perkawinan, menghalalkan aborsi, merayakan lesbianisme dan revolusi seks. Sungguh perbuatan yang keblinger. Pada era globalisasi paham feminisme ini merasuk ke berbagai budaya bangsa, maka  anggapan mengenai neo imperialisme, yaitu penjajahan non fisik, berbagai produk  budaya barat diekspor ke berbagai negara.  Untungnya Indonesia tidak sampai ke taraf tersebut, namun masyarakat Indonesia juga belum bisa lepas dari misogini karena kuatnya tradisi yang selalu di wariskan dari generasi ke generasi.

Fundamentalis Vs Liberal

Indonesia pascakolonial menjadi babak baru perjalanan bangsa, setelah mengalami kemerdekaan dan Indonesia masuk dalam masyarakat Internasional maka tidak dapat dielakan dari globalisasi. Waters mencirikan globalisasi sebagai suatu proses sosial yang memperlihatkan bahwa batasan-batasan geografis atas pengaturan-pengaturan sosial dan budaya semakin menyusut dan orang-orang akan sadar bahwa mereka sedang menyusut. Batas dimensi waktu, geografis dan ditembus begitu saja hingga transfer budaya, pemikiran begitu mudah dan cepat.

Nah mengenai hal yang bersangkutan dengan wanita, ada dua arus yang masuk ke Indonesia , arus fundamentalis dan liberal.  Pertama, Arus Fundamentalis membawa paham yang mengajak untuk kembali ke masa lalu dengan berlandaskan identitas agama, mereka menempatakan perempuan sebagai makhluk yang tertutup dan tidak boleh terjamah oleh orang luar, hingga mereka memberi batasan yang kaku dalam gerak hidup wanita. Kedua, Arus Liberal, mereka ini lah yang menjadi bagian dari feminis radikal yang berlabuh di Indonesia, mereka mencoba menolak institusi pernikahan, menguak ke-tabu-an mendesakralisasi agama. Kedatangan mereka selalu menjadi hal yang kontroversial. Kehidupan serba materialis bagi mereka adalah keniscayaan, hingga tidak perlu lagi untuk berpikir sesuatu yang transenden. Padahal para pendahulu mereka di Barat telah mengalami alienasi (lonely)keterasingan(kesendirian), hingga saat ini mereka mulai mencari format baru untuk mengatasinya.

Kedua arus ini selalu berbenturan, dan keduanya merupakan resiko globalisasi yang harus kita terima. Lantas, bagaimana peran wanita-wanita Indonesia? Haruskah meneladani Kartini sebagai Ibu Emansipasi Indonesia?. Penulis kira terlalu naif jika kita selalu melandaskan gerakan emansipasi kepada seorang Kartini saja, padahal banyak pahlawan perempuan lain yang hebat, seperti : Cut Nyak Dhien, Dewi Sartika, Cut Meutia, Rohana Kudus, Martha Christina Tiahahu, Herlina Efendi, Emmy Saelan dll. Artinya kita juga harus belajar dari mereka juga.

Permasalahan ini belum ditambah dengan eksploitasi Kapitalis terhadap wanita. Tanpa disadari wanita dimanfaatkan oleh kapitalis untuk mengeruk modal dan memenuhi pundi-pundi mereka, sungguh mulut kapitalis terang-terangan mempersepsikan wanita dengan ketentuan tertentu yang mengarah kepada akses produk kapitalis, hingga wanita menjadi makhluk yang paling konsumtif di dunia, dan tentu tubuhnya menjadi magnet yang paling kuat untuk menarik orang membeli suatu produk. Dan sayangnya, kita tidak tahu!!

Daftar Pustaka

Alfathri, Adlin. 2006. Resistensi  Gaya Hidup: Teori dan Realitas. Yogyakarta dan Bandung. Jalasutra

Arif, Syamsudin. 2008. Orientalis dan Diabolisme Pemikiran. Jakarta. Gema Insani

Melliana, Annastasia,S. 2006. Menjelajah Tubuh: Perempuan dan Mitos                             Kecantikan. Yogyakarta. LKiS

Munti,Ratna, Batara . 2005. Demokrasi Keintiman.Yogyakarta. LKiS

Toer, Pramoedya, Ananta. 2006. Panggil Aku Kartini Saja. Jakarta Timur. Lentera Dipantara


[1] . Oleh M Isa Thoriq A. Mahasiswa DIII Kearsipan. Disampaikan pada Diskusi Dalam Rangka Hari Kartini yang diselenggarakan oleh HMJ Sejarah. 22-4-2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s