Sohibu Baiti Pelepas Rindu Menuju Cinta dan Peneguh Jiwa

Standard

Perasaan luluh, mencair, dan menguap, getaran hebat menjalar dari ujung kaki menuju kepala dengan sangat pelan tapi ku rasakan pasti, menjalar ke setiap pembuluh darah, sel, rongga-rongga, organ hingga melewati hati, akupun semakin terguncang,getaran itu naik keatas hingga memukul otak ku dan akhirnya menguasai diriku yang sungguh tidak berdaya. Diriku yang sebenarnya berkelompok dengan sembilan orang dan saling bergandeng tangan menjadi hilang, terasa sesak, dada ini, diri ini terlalu sempit menerima kuasaNya, menerima kebaikanNya, menerima rahmatNya. Getaran itu terus menerus berputar dalam diriku, lantunan syair “Sohibu Baiti” diiringi musik Kyai Kanjeng meraung-raung menggilas hawa nafsu, mengusir kedukaan, mengusir keterasingan, mengusir segala bentuk keduniawian. Seluruh persoalan, pemikiran dan suasana hati yang kubawa perlahan terkikis oleh sebuah getaran,oleh sebuah siraman sejuk. Tetesan air mata mulai tak kuasa menahan diri dan keluar melalui mata yang sudah terpejam, mulut tidak henti-hentinya mengucap sesuatu yang begitu dirindukan, begitu dicintai, begitu dibutuhkan, sambil terus terisak dan meronta-ronta dalam hati, getaran ini terlalu kuat…Allah…Allah…Allah..Allah…Allah..Allah..Allah..Allah…Ya Allah…….

Perasaan ini masih cukup luas untuk menampung perasaan cinta kepada seseorang, masih sangat luas untuk menampung persoalan hidup, masing sangat luas untuk menghadapi cobaan di dunia, masih sangat luas untuk menampung kemunafikan-kemunafikan yang ada, masih cukup luas untuk menerima kekecewaan…namun begitu getaran cahaya itu datang, aku tidak tahu, semua terasa sempit, diriku merasa kecil, lemah,lama-lama tak mampu aku menampungNya. Begitu sucinya getaran cahaya itu, hingga aku merasa paling hina dan menjijikan, begitu baiknya getaran cahaya itu hingga aku merasa paling kejam, begitu lembutnya getaran cahaya itu hingga aku merasa keras, begitu halusnya cahaya itu hingga aku merasa paling kasar, begitu kuatnya cahaya itu hingga aku merasa lemah dan begitu besarnya cahaya itu hingga aku merasa kerdil dan tak punya daya apa-apa. Rasa cintaku pada seseorang lantas lenyap seketika, digantikan dengan rasa cintaku pada Allah, rasa rinduku pada manusia lantas sirna digantikan dengan rasa rinduku dengan Rasulullah, rasa benciku kepada manusia sirna dengan kasih sayangNya, rasa dengki kepada manusia pun meleleh diganti rasa iba Nya. Aku tidak punya apa-apa, aku hanya cipratan cinta dari sang kekasih, aku hanya bentuk belas kasihan sang kekasih, aku hanya setetes dari isi samudra kebaikan yang diteteskan di bumi, aku bukanlah apa-apa, aku lahir dari rasa kasih sayang Allah, untuk ditempatkan didunia ini, aku hanya mertamu, aku hanya bertamu, siapakah yang memiliki Rumah ini? Allahlah yang memiliki rumah ini engkaulah yang memiliki segalanya dan aku hanya bertamu, hanya bertamu, Rasulullah sebagai pejaga pintunya, syukur-syukur dapat Kau perbolehkan masuk, sampai depan pun dan hanya duduk di emperan rumahMu aku sudah sangat senang dan bahagia, daripada aku berada di emperan jalan, di dalam got, di kolong jembatan. Aku mohon untuk masuk kedalam rumah Mu,,tapi sebelumnya aku harus sampaikan takdzimku pada sang penjaga pintu Ya Rasulullah…Dan pada malam itu aku diijinkan masuk kedalam rumah Allah,,dengan jalan jongkok aku tertatih-tatih menikmati setiap sentuhan lantai yang ada di dalamnya,..Aku takjub dengan segala hiasan, ornamen, arsitektuk, nuansa dan sauasana yang ada didalamnya. Inilah rumah sebenarnya, rumah dimana para kaum Mukmin akan kembali dan hidup kekal bersama Nya,rumah dimana kebahagian sejati ditemukan, rumah yang memberikan ketentraman dan cinta kasih yang sejati, rumah yang meleburkan segala rasa cinta kepada dunia dan seisinya.

Malam itu, seperti biasanya Pengajian Gambang Syafaat dilaksanakan di Masjid Baiturahman. Aku sudah merencanakan untuk hadir sejak lama. Setelah lama tidak mengunjungi sedulur-sedulur di Maiyah, akupun mewajibkan diri untuk hadir. Pengajian yang berakhir hingga jam tiga pagi ini memerlukan tenaga ekstra, maka aku persiapkan dengan tidur di sore hari setelah semua aktivitas selesai. Pada malamnya jam 21.00 aku hendak berangkat, tapi langit nampak sangat tidak bersahabat, guyuran hujan menghalangiku untuk berangkat, aku pu menunggu sambil nonton piala dunia. Hingga sekitar jam 22.40 hujan telah reda dan aku yang sebelumnya telah menyiapkan diri langsung mengenakan jaket istimewaku dan pergi mengendarai motor menuju masjid Baiturahman. Perjalanan memakan waktu 20 menit, sebuah perjalan yang setiap hari kulakukan demi sebuah impian dan target, kuliah. Setiap hari aku melawati rute yang sama, hampir setiap hari bolak-balik Bulusan-Ngesrep-Jatingaleh-Pleburan. Sampailah aku di pelataran parkir masjid baiturahman, sepertnya acara baru saja dimulai, terlihat bebrapa orang sudah duduk beralaskan terpal seadanya, pengajian ini dilaksanakan di depan masjid Baiturahman, aspal yang basah sisa air hujan ditutup dengan terpal dan karpet, meski begitu keadaan masih basah, langit masing menyisakan mendungnya, sesekali rembulan datang mengintip namun dilarang oleh segumpalan awan gelap diatas sana. Aku memang datang untuk mencurahkan seluruh perasaanku, bebanku dan segala hal tentang hidupku. Dalam beberapa minggu terakhir ini aku diliputi berbagai persoalan, mulai dari Ujian, Seminar Skripsi, KKN, IMM, masalah Tuhan, dan masalah yang paling menyita perhatianku yaitu sebuah perasaan cinta kepada seseorang yang berlabuh dalam hatiku. Perasaan ini sulit untuk dicerna, aku sendiri bingung harus berbuat apa, maka selama ini jika perasaan ini datang, aku hanya akan mengadu kepada Allah, untuk segera mendapat petunjukNya, dialah sang Permata itu. Maka pada malam itu akupun akan sampaikan persoalanku pada Allah sang pemilik Permata.

Beruntung kedatanganku tidak terlalu telat, begitu datang seperti biasa jamaah akan disambut dengan musik spiritual dalam berbagai versi, dangdut, pop, melayu, arab, keroncong, jazz dan sebagainya. Setelah itu dilanjutkan dengan shalawat sebentar, lalu acara seremonial dilakukan, pada kesempatan itu juga dilakukan peluncuran album “Sohibu Baiti”. Lalu pembawa acara yang mengenakan pakaian hitam serta peci putih mengajak jamaah untuk berdiri dan membentuk kelompok berjumlah sembilan orang. Lantas aku bersama orang-orang disekitarku membentuk lingkaran kecil dan seling bergandeng tangan. Kemudian kami diminta untuk memjamkan mata, dan acarapun dimulai, seperti yang aku ceritakan diatas, suasana seperti itulah yang kami. Dan setelah kami membuka mata, suasana langit pun berubah, langit ikut terpesona dan menyingkap tabir awan gelap dan mengijinkan rembulan menemani persembahan kami. Dan sejak itu dilangit hanya nampak satu bulan purnama seolah menjadi saksi dari perjumpaan yang kami rasakan. Setelah itu, masing-masing dari kelompok dipersilahkan untuk memberikan respon dan apa yang sudah dirasakan, ada empat orang yang maju kedepan, mulai dari mahasiswa hingga tukang becak. Yang dirasakan oleh mereka bermacam-macam, ada yang mengatakan seolah-olah merasakan Allah dan Nabi Muhammad, dan merasakan kerdilnya diri ini, teringat dimana masa-masa menjadi seorang atheis. Seorang tukang becak yang tampil pada malam itu mengatakan bahwa dia tidak bisa merasakan kehadiran Allah, dan juga tidak merasakan kehadiran Rasulullah. Namun tubuhnya menggigil, karena mendengar irama lagu dan syair yang diperdengarkan saat itu, dia teringat segala macam kehidupanya di Jalanan, dengan polos dia sangat merasa berdosa sering melihat wanita-wanita yang tidak menutup aurat dan justru memperlihatkannya, sebagai tukang becak di sekitar simpang lima dia tidak bisa mengelak dari hal-hal semacam itu.

Yang terkahir ada pengakuan yang bagiku juga luar biasa. Dia mengaku seorang yang tidur di masjid, dia bercerita bahwa sudah lama dia tidak menemukan jodoh, beberapa bulan ini dia ketemu dengan seorang gadis yang berhasil memperdaya dirinya, dengan sangat senang dan bersyukur ia mulai mendekati gadis itu, pendekatan itu berhasil dan mullai berhubungan. Dengan segala yang dimilikinya sebagai orang desa dia mencoba untuk membahagiakan gadis yang dikenalnya di Pengajian Maiyah. Hingga dia sudah siap untuk menuju jenjang kesempurnaan cinta, Pernikahan. Namun ternyata ada sesuatu yang terjadi sehingga rencana yang telah dia buat kandas dengan sebuah ucapan singkat dari gadis itu “Aku bukan adikmu lagi…”. Pemuda itu lantas hancur dan begitu sakit atas perlakuan yang dia dapatkan, dia mencoba menguatkan dirinya, dan setelah mendengar syair dan lagu serta suasana keakraban pada malam itu dia mengaku kalau dirinya sudah bahagia, merdeka, baginya gadis itu tak ubahnya seperti berhala yang hanya menghalanginya untuk berjumpa dengan Allah. Dan dia tahu bahwa Allah sedang mempersiapkan yang lebih baik dari gadis itu. Seketika itu juga aku berpikir, bahwa aku menganggap perempuan yang kucintai barangkali hanya sebuah ilusi, ilusi dunia yang mencoba menghalangiku untuk menemukan cinta sejati, ilusi yang menghalangiku dari impian yang akan kubangun, namun bagiku dia adalah permata dan aku adalah lumpur, aku merasa tak pantas memilikinya, namun aku juga tak ingin kehilangan dia, bukankah ini sesuatu yang membingungkan, lalu aku berinisiatif untuk mengirim pesan singkat, aku ingin katakan padanya bahwa, cobalah sowan pada Allah dengan segenap cinta yang kau punya dan rasakan kehadirannya pada dirimu, lihatlah sang penciptamu, yang telah memberimu pesona dan keindahan tiada tara. Namun aku tak sanggup, sekali lagi bagiku dia adalah permata dan aku adalah lumpur, maka berat rasanya untuk menodai permata dengan ke-lumpur-anku. Maka kuurungkan niat itu, dan berserah pada Allah Ta’ala, kulo nderek paduka Gusti. Tak berselang lama, entah apa yang terjadi tiba-tiba saja ada sebuah pesan singkat,yang datang dari Sang Permata..(cerita ini tidak aku lanjutkan)

Yang sudah aku nantikan telah datang, Cak Nun, Kyai Budi, dan Pak Mustafa sudah bersama-sama jamaah berada di depan untuk bersama merasakan Cinta. Cak nun mengawali perbincangan dengan mempersilahkan jamaah bertanya, setelah ditunggu beberapa saat, belum ada jamaah yang berani bertanya langsung, lantas Cak Nun menegaskan, bahwa dirinya bukan guru, “Aku bukan guru yang memberi kalian pelajaran”, sebaliknya Cak Nun justru ingin belajar kepada siapapun dan tidak ingin mengajari siapapun. “ Yang terpenting itu belajar kepada..bukan mengajari siapa”, karena masing-masing mempunyai guru, dan Allahlah guru sejati itu. Jika demikian, dirikitalah yang dapat menemukan Guru Sejati itu, “Temuilah dia di dalam rumahNya, yaitu di dalam hatimu”. Keberadaan guru atau cahaya (Nur Muhammad) itu sudah cukup untuk membuat manusia merdeka,bahkan manusia sebenarnya tidak memerlukan bantuan jika sekedar ingin berbuat baik, sekalipun bantuan qur’an dan sunnah. Tanpa Qur’an dan sunnah sebenarnya manusia dapat berbuat baik jika dia mengerti siapa gurunya, Al Quran terlalu kecil untuk hanya mengatakan hal ini baik hal itu buruk, tapi Al quran berfungsi untuk menghubungkan manusia dengan sesuatu yang ghaib, yaitu Allah. Lebih lanjut Cak Nun berbagi cerita kalau manusia itu seharusnya bisa menjadi pendekar dalam dirinya, pendekar itu tidak perlu menantang lawannya, tapi ketika dia dihadapkan pada masalah dia mampu mengatasi. Termask persoalan atau fenomena yang kita hadapi saat ini, realitas ekonomi, politik, kehidupan. “Nggak usah kaget dengan video Luna dan Ariel, apa yang salah dengan perbuatannya, itu kan hal biasa, Cuma yang jadi persoalan adalah karena tidak legal dan disebar-sebarkan”. “Sudahlah nggak usah heran dan keget melihat kasusnya Susno, kasusnya Bibit dan masalah negara ini, itu hanya ilusi yang penting kalian bahagia” begitu saran Cak Nun.

Dalam setiap sesi cak nun selalu berusahan untuk melayani rakyat, meski dia bukan pejabat rakyat. Beliau rela dijadikan sandal, bahkan keset sekalipun. Asalkan dapat membuat rakyat bahagia dan sadar tentang kondisi yang terjadi, tanpa perlu merisaukannya (ini selalu ditekankan Cak Nun dihadapan orang-orang miskin dan rakyat jelata). Jadi bagi Cak Nun, rakyat kecil tidak usah ikut urus negara, karena negara sudah bobrok,maka yang paling tepat adalah nikmatilah hidup dan berikan sebisamu sebagai persembahan cinta kepadaNya. “Tidak usah kecewa dengan hasil yang sudah kalian lakukan tapi diambil orang, diakui orang, karena kita tidak memerlukannya” tandas Cak Nun. Suasana tambah meriah dengan lantunan irama musik qasidah versi dangdut, jamaah juga terhibur dengan puisi dari Mustafa W Hasyim (Redaksi Suara Muhammadiyah). Jamaah yang tediri dari berbagai profesi dan mayoritas tingkat ekonomi menengah ke bawah begitu guyub, dan menyatu dengan suasana saat itu. Beginilah nikmatnya Jamaah Maiyah, meskipun berbeda-beda tapi dapat merasakan kebersamaan untuk menuju Cahaya Ilahiyah.. “Engaulah Tuan Rumah didalam Jiwa, Engkaulah imam kehidupan, Engkaulah pembimbing iman, matahari kalbu, rembulan nurani, Engkaulah Yaa muhammad bola mataku, engkau lah penolong nasib, Engkaulah panglima perjuangan, Engkaulah cakrawala rinduku, Engkaulah pintu akhiratku.” -Cak Nun- Sohibu Baiti-

Arqam, 12 Rajab 1431

About these ads

9 responses »

  1. Dua kali aku mendengar Sohibu Baiti dari kyai kanjeng dua kali pula aku merasakan hal yang sama yaitu seperti di hipnotis, tenggelam dalam kedamaian.

  2. Salam, mas … Bolehkah jika tulisan mas ini saya sampaikan ke admin “KenduriCinta” (komunitas Maiyah di Jakarta) untuk diposting di web/FB-nya? Rasanya tulisan ini dapat membagi pengalaman ruhani buat temen2.

    Tentu akan disampaikan sumbernya.

    Matur nuwun sebelumnya.

    • Alaikumsalam warahmatullahi wbarakatuh, Alhamdulillah,sumonggo,klo aada yg mau men-share tulisan ini, terimakasih bnyk.. MaturnuwunSalam Hangat :-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s