Pendidikan Pemakai Sebagai Sarana Pencitraan Perpustakaan

Standard
  1. PENDAHULUAN

Perpustakaan berasal dari kata dasar pustaka. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia, pustaka artinya kitab, buku (Depdikbud:1980). Dalam bahasa Inggris dikenal dengan library. Istilah ini berasal dari kata librer atau libri, yang artinya buku.  Dari kata latin tersebut terbentuklah istilah libraries, tentang buku. Dalam bahasa asing lainnnya perpustakaan disebut bibliotheca (Belanda), yang juga berasal dari bahasa Yunani biblia yang artinya tentang buku, kitab. Dengan demikian, batasan istilah perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian sebuah gedung, ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasa disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual (Sulistyo Basuki: 1991,3). Selain buku, di dalamnya juga terdapat bahan cetak lainnya seperti majalah, laporan, pamphlet, manuskrip atau naskah, lembaran music dan berbagai karya media audiovisual seperti film, slide, kaset, piringan hitam, serta bentuk mikro seperti microfilm, mikrofis dan mikroburam/microopaque(Suwarno Wuji:2007,11).

Sepanjang sejarah mannusi, perpustakaan bertindak selaku penyimpan khazanah hasil pemikiran manusia. Hasil itu kemudian dituangkan dalam bentuk cetak maupun noncetak bahkan dalam bentuk digital. Berbagai perdaban pemikiran manusia tersimpan dalam perpustakaan, hal ini dapat kita lihat pada sejarah setiap  peradaban, disana tergambar jelas kebutuhan akan dokumentasi pemikiran ataupun kebudayaan yang dituangkan dalam sebuah naskah. Pada sekitar tahun 2500 SM, di Mesir, terdapat sebuah temuan sederhana tapi memiliki pengaruh yang besar bagi peradaban manusia, yaitu penemuan bahan tulis berupa papyrus, dibuat dari tumbuhan yang tumbuh di sepanjang sungai nil. Hal ini kemudian berkembang secara terus menerus hingga ditemukan kertas  pada abad pertama masehi di Cina. Kebutuhan akan penyedian bahan informasi mengenai budaya, seni, filsafat, teknologi dan politik mengakibatkan kehadiran perpustakaan tidak dapat dielakkan. Bahkan menjadi suatu identitas khusus bagi kemajuan sebuah bangsa.  Kegiatan yang dilakukan perpustakaan tidak semata-mata hanya menyimpan berbagai koleksi ilmu pengetahuan, terdapat kegiatan lain yang menjadi identitas perpustakaan itu sendiri, yaitu mencari ilmu/belajar. Banyak nya bahan koleksi yang tersedia memberikan berbagai pilihan bagi setiap orang yang ingin mencari ilmu, membaca, berdiskusi dan menulis. Hal tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dari keberadaan koleksi perpustakaan. Sumber informasi yang ada didalamnya menjadi bagian penting bagi ilmuwan atau setiap orang yang membutuhkan informasi.

Bangsa Indonesia menyadari akan pentingnya perpustakaan, maka  UU No 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan menyebutkan bahwa dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa maka perpustakan mempunyai peran penting, yaitu sebagai wahana belajar sepanjang hayat, wahana pelestarian kebudayaan bangsa, dan sebagai sumber informasi. Ketiga hal ini menjadi tugas besar yang harus diemban oleh perpustakaan.

  1. PERMASALAHAN

Masyarakat selalu mengidentikan perpustakaan sebagai tempat yang berdebu, penuh dengan tumpukan buku-buku tua serta judul buku yang tidak menaik alias murahan. Anggapan yang keliru ini selalu ada terus menerus sejak dulu, meskipun ada upaya untuk mengubah stigma tersebut. Gerakan pembangunan yang dicanangkan pada orde baru belum menyentuh secara serius permasalah ini, baru pada era reformasi perpustakaan mendapat perhatian serius. Berbagai fasilitas layanan telah disediakan oleh perpustakaan,koleksi buku diperbanyak dan lebih variatif, akses informasi menggunakan teknologi semakin banyak digunakan.

Namun, seiring dengan perkembangan layanan berbasis teknologi, masyarakat nampaknya juga perlu mendapat pendidikan mengenai hal ini. Jangankan yang berbasis teknologi, layanan yang berbasis manual saja pemakai masih kesulitan. Maka tidak tepat jika adanya layanan untuk mempermudah pemakai justru menjadi penyebab timbulnya kesulitan bagi pemakai dikarenakan ketidaktahuannya. Disamping itu, kesan pertama dari seorang pemakai yang merasa pelayanan di perpustakaan  ‘rumit dan  repot’ akan berpengaruh pada pandangan masyarakat banyak, karena informasi keliru itu terus menular dari satu orang ke orang lain. Ujungnya masyarakat enggan mengunjungi perpustakaan.

  1. PEMBAHASAN

Pendidikan pemakai atau seringkali disebut user education adalah suatu proses di mana pemakai perpustakaan pertama kali disadarkan oleh luasnya dan jumlah sumber-sumber perpustakaan, jasa layanan, dan sumber informasi yang tersedia bagi pemakai, dan kedua diajarkan bagaimana menggunakan sumber perpustakaan, jasa layanan, dan sumber informasi tersebut  yang tujuannya untuk mengenalkan keberadaan perpustakaan, menjelaskan mekanisme penelusuran informasi serta mengajarkan pemakai bagaimana mengeksploitasi sumber daya yang tersedia (Ian malley dalam Akhmad Maskuri, 1995: 10).

Pendidikan pemakai merupakan pengantar pada layanan-layanan yang lain, tanpanya layanan yang telah tersedia tidak dapat dimanfaatkan, tentu hal ini menjadi kerugian bagi perpustakaan, biaya yang dikeluarkan cukup banyak akan tetapi tidak dapat dimanfaatkan oleh pemakai. Rice (1981) menyebutkan ada tiga jenis pendidikan pemakai beserta materi dan tujuannya.

Pertama, Orientasi Perpustakaan

materinya  antara lain:

  1. Pengenalan Gedung Perpustakaan.
  2. Pengenalan Katalog dan Alat Penelusuran lainnya.
  3. Pengenalan beberapa sumber bacaan termasuk bahan-bahan rujukan dasar.

Tujuan yang ingin dicapai:

  1. Mengenal fasilitas-fasilitas fisik gedung perpustakaan itu sendiri.
  2. Mengenal bagian-bagian layanan dan staf dari tiap bagian secara tepat.
  3. Mengenal layanan-layanan khusus seperti penelusuran melalui komputer, layanan peminjaman, dll.
  4. Mengenal kebijakan-kebijakan perpustakaan seperti prosedur menjadi anggota, jam-jam  layanan perpustakaan, dll.
  5. Mengenal pengorganisasian koleksi dengan tujuan untuk mengurangi kebingungan pemakai dalam mencari bahan-bahan yang dibutuhkan.
  6. Termotivasi untuk datang kembali dan menggunakan sumber-sumber yang ada di perpustakaan.
  7. Terjalinnya komukasi yang akrab antara pemakai dengan pustakawan.

Kedua, Pengajaran Perpustakaan

Materi yang diajarkan merupakan penjelasan lebih dalam lagi mengenai bahan-bahan perpustakaan secara spesifik, materinya antara lain:

1.   Teknik penggunaan indeks, katalog, bahan-bahan rujukan, dan alat-alat bibliografi.

2.   Penggunaan bahan atau sumber pustaka sesuai dengan subyek atau jurusan.

3.   Melaksanakan teknik-teknik penelusuran informasi dalam sebuah tugas penelitian atau pembuatan karya ilmiah lainnya.

Tujuan yang ingin dicapai:

  1. Dapat menggunakan pedoman pembaca untuk mencari bahan-bahan artikel.
  2. Dapat menemukan buku-buku yang berhubungan dengan subyek khusus melalui katalog.
  3. Dapat menggunakan bentuk mikro dan alat-alat baca lainnya secara tepat.
  4. Dapat menggunakan alat rujukan khusus seperti Ensiklopedi, Alamanak, Bibliografi dll.
  5. Menemukan koleksi visual dan dapat menggunakannya.
  6. Mengetahui sumber-sumber yang tersedia di perpustakaan lain dan dapat melakukan permintaan peminjaman.
  7. Melakukan suatu penelusuran dalam layanan pengindeksan seperti pada Pusat Informasi Sumber Pendidikan dan dapat menemukan dan menggunakan hasil-hasil  sitasi.

Ketiga. Pengajaran Bibliografi

Materi yang diajarkan lebih condong sebagai langkah persiapan mengadakan atau sebagai dasar penelitian dalam rangka menyusun karya akhir. Pada level ketiga ini bisa ditawarkan melalui mata ajar formal sebagai bagian dari kurikulum muatan lokal (Mulok).

Materi yang ingin dicapai antar lain:

  1. Informasi dan pengorganisasiannya.
    1. Tajuk subyek, “Vocabulary Control” dalam penelitian, dan definisi suatu topik karya  ilmiah.
    2. Macam-macam sumber untuk penelitian.
    3. Membuat kerangka teknik dan perencanaan suatu karya ilmiah.
    4. Teknik-teknik membuat catatan dalam karya ilmiah.
    5. Gaya, catatan kaki, rujukan dan sumber bahan bacaan.
      1. Strategi penelitian, kesempurnaan dalam penelitian, dan pemakaian yang tepat layanan   koleksi yang diberikan perpustakaan.
      2. Membuat/menulis karya ilmiah.

Pendidikan pemakai perlu diampaikan dengan metode yang menarik agar pemakai dapat dengan mudah memahami dan mengerti dengan materi yang diberikan. Ada beberapa teknik atau metode yang dapat digunakan dalam pendidikan pemakai, antara lain: Presentasi , Wisata Perpustakaan, Penggunaan Audio Visual,  Permainan dan Tugas Mandiri, Penggunaan Buku Pedoman atau  Pamflet.

Presentasi/ Ceramah

Penjelasan mengenai pengenalan dan pelayanan perpustakaan dapat diberikan dengan cara memberikan ceramah secara umum atau melalui demonstrasi. Idealnya jumlah peserta perkelas kurang lebih antara 15-30 orang. Untuk mencapai hasil yang optimal dalam metode ini para peserta diberikan beberapa tugas terstruktur dan latihan yang memungkinkan mereka mampu menggunakan perpustakaan secara mandiri.  Pelaksanaan metode ini selayaknya dapat dilakukan dengan metode wisata perpustakaan, agar peserta lebih memahami dan akrab dengan dunia perpustakaan yang sebenarnya.

Wisata Perpustakaan

Beberapa teknik yang bisa dilakukan dalam memandu wisata perpustakaan, antara lain:

>    Menciptakan suasana yang bersahabat dan informal serta terbuka untuk beberapa pertanyaan.

>    Usahakan berbicara tidak terlalu cepat dan sensitif terhadap kebingungan yang dialami pemakai.

>    Gunakan sarana pembantu untuk memperjelas sesuatu yang didiskusikan, misal: penggunaan katalog.

>    Buatlah para peserta berperan aktif untuk mencoba menggunakan fasilitas yang ada.

>    Waktu yang digunakan tidak terlalu lama, maksimal 45 menit.

>     Sediakan buku panduan yang dapat membantu mereka selama mengikuti wisata perpustakaan tersebut.

Penggunaan Audio Visual

Teknik ini biasanya dilakukan untuk wisata mandiri perindividual (perorangan), di antaranya adalah penggunaan kaset, televisi, slide, dll. Pemakai perpustakaan dapat menjelajahi perpustakaan dengan mendengarkan instruksi yang direkam dalam kaset. Mereka dapat mematikan dan mengulang kaset tersebut sesuai dengan kemampuannya dalam memahami instruksi yang terdapat dalam kaset. Orientasi perpustakaan dapat juga dilakukan melalui penggunaan televisi, para peserta dapat menyaksikan dan memperoleh penjelasan mengenai berbagai hal, seperti: fasillitas perpustakaan, pelayanan perpustakaan, dan fungsinya masing-masing. Slide dapat digunakan  dalam menerangkan lokasi, fasilitas dan pelayanan perpustakaan dengan memberikan  keterangan-keterangan yang diberikan oleh pemandu atau rekaman suara.

Permainan dan Tugas Mandiri

Metode ini merupakan salah satu cara yang cukup efektif dalam mengajarkan bagaimana cara menemukan informasi yang dibutuhkan. Biasanya lebih sesuai diterapkan untuk pemakai perpustakaan usia anak Sekolah Dasar dan Menengah. Permainan sangat berguna dalam meningkatkan kemampuan anak sehingga mereka lebih dapat menikmati penggunaan perpustakaan. Biasanya metode ini dilakukan di tingkat lebih tinggi untuk menghilangkan kejenuhan yang mungkin ada ketika proses pembelajaran dengan metode lain berlangsung.

Penggunaan Buku Pedoman dan Pamflet

Teknik ini biasanya menuntut pemakai untuk mempelajari sendiri mengenal perpustakaan melalui berbagai keterangan yang ada pada buku panduan atau pamflet, dan biasanya diterapkan ketika peserta melaksanakan wisata perpustakaan. Beberapa pertimbangan yang perlu dilakukan ketika membuat buku pedoman atau pamflet untuk keperluan pendidikan pemakai ini, antara lain:

>       Buatlah bahan tersebut sesingkat mungkin.

>       Harus membuat pemakai jelas dalam melakukan hal yang berkenaan dengan penggunaan    perpustakaan.

>       Membuat pemakai kraetif.

>       Membuat langkah yang sederhana,  dengan demikian pemakai dapat selangkah demi selangkah mencoba untuk memparaktekkannya di perpustakaan.

  1. KESIMPULAN DAN SARAN

Melihat pentingnya pendidikan pemakai terhadap perpustakaan maka perlu sekali melaksanakan pendidikan pemakai di setiap perpustakaan dengan menggunakan landasan teori yang ada. Meskipun begitu tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan cara lain sesuai dengan kondisi lingkungan setempat. Sebagai petunjuk informasi terhadap berbagai pelayanan, maka pendidikan pemakain merupakan starting point dalam memberikan pencitraan terhadap perpustakaan itu sendiri.

Disamping kegiatan promosi, setiap perpustakaan hendaknya mengadakan kegiatan pendidikan pemakai secara sistematis dan kreatif. Dengan begitu niscaya kenyaman pengunjung akan diperoleh dan merubah stigma perpustakaan menjadi lebih friendly.

DAFTAR PUSTAKA

Suwarno, Wiji. 2007.  Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan, Yogyakarta, Ar-Ruzz

UU No 7 tahun 2007 Tentang Perpustakaan

http://abdulhak.multiply.com/

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s